Oleh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat
Entri nomor 72 dalam Bolaang Mongondowse Teksten susunan W. Dunnebier (1953) menandai dimulainya kelompok baru dalam naskah: "Uilenspiegelverhalen" — istilah Belanda untuk cerita-cerita jenaka bertokoh penipu ulung, meminjam nama Til Eulenspiegel, tokoh pengelabu legendaris dari cerita rakyat Jerman-Belanda. Penanda kelompok ini tercetak jelas di tengah naskah asli, tepat setelah paruh pertama cerita Tombadja' (Tombaja'). Ini murni dongeng jenaka rakyat, tanpa muatan sejarah maupun keagamaan.
Utang Lima Puluh Gulden
Dikisahkan, pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang rakyat biasa bernama Tombadja' (Tombaja'). Ia berutang lima puluh gulden kepada seorang raja bernama Lamentong, namun tak kunjung melunasinya. Raja Lamentong pun memanggilnya menghadap dan mengancam akan menggantungnya jika utang itu tidak segera dibayar lunas.
Uji Kecerdikan di Tepi Kolam
Tombaja' meminta waktu, mengajak sang raja pergi bersama ke tepi sebuah kolam esok harinya. Di sana, sambil berjalan, ia bertanya kepada raja: "Apa gerangan yang ada di bawah itu, Tuanku?" — menunjuk ke bayangan di permukaan air. Raja menjawab: "Matahari, Tombaja'." Tombaja' bertanya lagi: "Lalu apa yang di atas?" Raja menjawab: "Matahari juga, Tombaja'."
Menjelang malam, Tombaja' kembali mengajak raja ke kolam yang sama. Kali ini pertanyaan serupa dijawab raja dengan "Bulan" — baik untuk yang di bawah (pantulan di air) maupun yang di atas (bulan sesungguhnya di langit). Raja begitu terkesan oleh kepintaran Tombaja' hingga berkata: "Mulai hari ini, utangmu lunas!" Dunnebier sendiri mencatat dalam catatan kaki naskah bahwa maksud tepatnya dari siasat ini agak kabur — tampaknya raja terkesima semata karena Tombaja' bisa menunjukkan benda langit yang sama, baik di atas maupun di bawah sekaligus, dan menganggapnya sebagai bukti kecerdasan luar biasa.
Uji Kayu Eboni dan Kekalahan Kerbau Raja
Rupanya raja belum puas. Suatu kali ia menyuruh Tombaja' menebak ujung atas sebatang kayu eboni yang telah dihaluskan — bagian mana yang dahulu menghadap ke atas sewaktu pohon itu masih tegak. Tombaja' mengikat kayu itu dengan tali dan menyeimbangkannya; ternyata salah satu ujungnya lebih ringan, dan ia pun menjawab dengan tepat.
Raja mulai merasa tersaingi oleh rakyatnya sendiri. Ia lalu menantang Tombaja' mengadu kerbau, masing-masing dua ratus ekor. Tombaja' menyanggupi, namun yang ia bawa hanyalah seekor anak kerbau yang baru lahir. Begitu dilepas di tengah kawanan kerbau raja, anak kerbau itu justru berusaha menyusu ke induk-induk di sekelilingnya — membuat seluruh dua ratus kerbau raja panik dan lari kocar-kacir. Tombaja' pun mengklaim kemenangan, sementara raja pura-pura tidak mendengar.
Kopi yang Mempermalukan Para Raja
Raja kemudian mengundang diri berkunjung ke rumah Tombaja'. Diam-diam, Tombaja' menebang sejenis pohon kayu tertentu, membakarnya menjadi arang, lalu mencampurnya dengan air dalam wadah bambu dan menyajikannya sebagai "kopi" bagi tamu-tamunya. Raja Lamentong ternyata mengundang seluruh raja dari pulau-pulau sekitar untuk turut hadir di rumah Tombaja'.
Setelah para raja menyantap kudapan dan meminum racikan itu, mereka mendadak tersedak dan terbatuk-batuk — racikan itu rupanya berefek pencahar. Tombaja' pun berkelakar keras kepada para tamu kehormatan itu tentang kondisi mereka. Merasa dipermalukan di depan sesama raja, mereka pun bermusyawarah dan memutuskan hukuman: Tombaja' harus dibuang ke laut.
Siasat Lolos: Si Bungkuk yang Tertipu
Tombaja' dibungkus dalam sebuah bungkusan anyaman rotan dan diserahkan kepada dua orang untuk dibuang ke laut. Dalam perjalanan, ia meminta kedua pengawalnya mencari perlengkapan makan sirih terlebih dahulu — dan keduanya pun pergi meninggalkannya sejenak di tepi pantai.
Selagi sendirian, seorang lelaki tua bongkok lewat dan bertanya mengapa Tombaja' terbungkus begitu. Tombaja' menjawab bahwa dulu ia pun bongkok sepertinya, namun setelah dibungkus anyaman itu, punggungnya menjadi lurus kembali. Lelaki tua itu pun meminta dibungkus pula. Tombaja' setuju — dengan syarat lelaki itu melepaskan ikatannya lebih dulu. Setelah bebas, Tombaja' balik membungkus dan mengikat lelaki bongkok itu erat-erat, lalu bersembunyi.
Ketika kedua pengawal kembali dan mengajaknya segera berangkat karena hari sudah larut, orang yang terbungkus itu berteriak bahwa ia bukan Tombaja' — tapi kedua pengawal tak percaya dan tetap membuangnya ke laut, karena takut dihukum raja bila gagal menjalankan perintah.
Kisah Bohong tentang Dasar Laut
Tiga hari kemudian, Tombaja' muncul kembali menghadap Raja Lamentong yang tercengang melihatnya masih hidup. Kedua pengawal dipanggil dan bersikeras mengaku telah membuangnya ke laut. Tombaja' pun berkisah: ia memang dibuang, namun kakinya justru mendarat tepat di atap rumah ayah-ibu sang raja di dasar laut — dan mereka menyambutnya dengan sukacita, lalu mengantarnya kembali ke pantai.
Mendengar cerita ini, hati raja sangat bergembira. Ia pun mengumumkan kepada seluruh rakyatnya: siapa saja yang rindu pada leluhur mereka, boleh ikut turun ke dasar laut untuk menjenguk.
Ekspedisi Massal dan Akhir Tragis
Seluruh rakyat menyambut antusias. Bekal perjalanan disiapkan, dan setiap orang menganyam bungkusan rotan masing-masing. Raja dan Tombaja' berangkat lebih dulu naik perahu. Di tengah laut, Tombaja' menyarankan agar raja dibungkus dan diturunkan lebih dulu, disusul yang lain kemudian. Raja setuju — dan Tombaja' pun membungkusnya erat-erat lalu melemparkannya ke laut.
Satu demi satu, seluruh rakyat yang ikut dibungkus dan dibuang ke laut oleh Tombaja' — kecuali sang permaisuri yang tidak turut serta. Sambil melempar mereka, Tombaja' berseru: "Turunlah kalian, kepada ibu-bapak kalian, kepada para hiu dan ikan sesepoe!" Ia lalu kembali ke istana. Ketika permaisuri bertanya di mana raja, Tombaja' menjawab bahwa raja telah disambut dengan gembira di bawah sana — duduk di kursi, menghadap meja, yang sesungguhnya bermakna: di dalam perut para hiu, "kakek-kakek"-nya sendiri. Kisah ditutup dengan Tombaja' menikahi sang permaisuri.
Catatan Filologis: Jejak Lintas-Daerah
Dunnebier mencatat dalam catatan kakinya bahwa sejumlah siasat dalam cerita No. 72 hingga 77 juga ditemukan dalam kumpulan cerita jenaka masyarakat Tontemboan (Minahasa), dengan rujukan nomor entri tertentu dalam koleksi tersebut. Ini menunjukkan bahwa motif "penipu ulung yang menjebak rajanya sendiri ke laut" bukan cerita tunggal milik satu daerah, melainkan pola cerita yang beredar luas secara lisan di kawasan utara Sulawesi.
Membaca Kisah Ini dengan Tepat
Cerita ini murni dongeng jenaka rakyat tentang kecerdikan menghadapi kekuasaan yang sewenang-wenang — pola yang umum dalam sastra lisan Nusantara, mirip kisah-kisah Si Kabayan atau Pak Belalang. Tidak ada muatan sejarah maupun keagamaan di dalamnya. Nama-nama tokoh seperti Aboenoeati (Abunuati) dan Aboenawat (Abunawat) yang serumpun dengan tokoh sastra Abu Nawas baru muncul pada entri No. 73–76 dalam kelompok yang sama (Uilenspiegelverhalen), sementara kelompok yang secara eksplisit membahas nuansa Islam ("Verhalen met Mohammedaansen Inslag") baru dimulai pada No. 78.
Tertarik dengan kajian sastra lisan dan naskah kuno Nusantara? Bagikan artikel ini kepada rekan-rekan yang tertarik pada studi cerita rakyat, atau tinggalkan like agar kami semangat menggali lebih banyak naskah kuno yang tersembunyi.
Referensi: Dunnebier, W. Bolaang Mongondowse Teksten, cerita No. 72, "Ki Tombadja' bo ki toeang Lamentong" (Tombadja' en de vorst Lamentong), Kelompok VIII: Uilenspiegelverhalen, hlm. 132–135. 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1953. Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV).
Disclaimer Alur cerita di atas bersumber langsung dari teks asli dan terjemahan Belanda pada rujukan di atas, termasuk catatan kaki filologis Dunnebier; penulis hanya melakukan alih gaya bahasa dan penyesuaian ejaan nama tokoh ke bentuk modern (dalam tanda kurung), tanpa mengubah substansi maupun menambahkan kejadian di luar sumber. Cerita ini murni fiksi jenaka rakyat, bukan riwayat sejarah maupun keagamaan.



