Oleh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat
Pendahuluan: Semua Orang Tahu Ibn Hisyam, Tapi Siapa Sebelumnya?
Hampir setiap orang yang pernah membaca sejarah Nabi Muhammad ๏ทบ akan menyebut satu nama: Sirah Ibn Hisyam. Kitab itu menjadi rujukan utama, dijadikan pegangan di pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi Islam di seluruh dunia. Namun di balik nama yang sangat terkenal itu, tersimpan sebuah pertanyaan yang jarang diajukan: siapa sesungguhnya yang memulai tradisi penulisan sirah ini? Apakah Ibn Hisyam memang yang pertama? Atau ada rantai panjang sebelumnya yang nyaris terlupakan?
Artikel ini menelusuri sejarah penulisan Sirah Nabawiyah secara kronologis dan akademis — dari para penulis generasi pertama di abad ke-1 Hijriah, hingga bagaimana naskah itu sampai ke tangan Ibn Hisyam dan menjadi karya yang kita kenal hari ini.
Apa Itu "Sirah"? Memahami Istilahnya Lebih Dulu
Dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama membedakan antara dua istilah yang serupa namun tidak sama: tarjamah dan sฤซrah. Secara sederhana, tarjamah adalah biografi ringkas tentang seorang tokoh — padat dan tidak bertele-tele. Sementara sฤซrah adalah kisah kehidupan yang lebih luas dan mendalam, mengalir seperti narasi yang menelusuri setiap sudut perjalanan hidup seseorang.
Menariknya, kata sฤซrah dalam konteks biografi Nabi ๏ทบ tidak langsung muncul sebagai istilah baku sejak awal. Para ulama mencatat bahwa kata ini baru dipakai secara mandiri sebagai judul karya tersendiri menjelang akhir abad ke-3 Hijriah — ketika seorang penulis Mesir bernama Ahmad bin Yusuf bin ad-Dฤyah menulis "Sฤซrat Aแธฅmad bin แนฌลซlลซn", dan di sinilah istilah sฤซrah untuk pertama kalinya bermigrasi dari biografi Nabi ke biografi tokoh lainnya.
Akar Pertama: Sirah Bukan Lahir dari Satu Malam
Sebelum ada kitab sirah dalam bentuk yang utuh dan sistematis, catatan-catatan tentang kehidupan Nabi ๏ทบ terserak di berbagai kitab hadits. Para ahli hadits memasukkan riwayat tentang peperangan (maghฤzฤซ), perjalanan dakwah (siyar), dan perilaku beliau sebagai bab-bab dalam kitab-kitab besar mereka. Tradisi inilah yang menjadi cikal bakal.
Hal penting yang perlu dipahami: penulisan Sirah Nabawiyah bukan proyek satu kota atau satu generasi. Sejak abad ke-1 dan ke-2 Hijriah, para ulama dari berbagai kota Islam — Madinah, Makkah, Basrah, Kufah — ikut andil dalam mengumpulkan, merawat, dan meriwayatkan peristiwa-peristiwa dari kehidupan Nabi ๏ทบ. Mereka adalah saksi generasi, yang mendengar langsung dari para sahabat atau dari tabi'in, lalu menyampaikannya dengan jalur sanad yang ketat sebagaimana layaknya periwayatan hadits.
Para Penulis Awal: Rantai yang Nyaris Tak Terlihat
Berikut adalah nama-nama para ulama yang tercatat dalam sejarah sebagai penulis atau perawi sirah di generasi paling awal — data ini bersumber dari kajian akademik tentang metodologi penulisan biografi dalam tradisi Islam:
1. Abฤn bin 'Utsmฤn (w. 105 H) — Putra Khalifah Utsman bin Affan ini adalah salah satu penulis sirah paling awal yang diketahui. Ia tinggal di Madinah, sangat dekat dengan sumber pertama peristiwa-peristiwa kenabian, dan tercatat sebagai salah satu perintis penulisan sirah di kota Nabi ๏ทบ.
2. 'Urwah bin az-Zubair (w. 92 H) — Ia adalah keponakan Aisyah r.a., ibu kaum mukminin dan istri Nabi ๏ทบ. Posisi ini memberinya akses istimewa terhadap informasi dari dalam rumah tangga kenabian. Urwah dikenal sebagai salah satu perawi sirah paling terpercaya di generasi tabi'in.
3. Syurahbฤซl bin Sa'd (w. 123 H) — Juga dari kalangan tabi'in, tercatat sebagai penulis yang menaruh perhatian pada peristiwa-peristiwa sirah dan maghazi.
4. 'ฤแนฃim bin Qatฤdah (w. 120 H) — Seorang ulama yang juga menaruh perhatian pada penulisan sejarah hidup Nabi ๏ทบ.
5. Mลซsฤ bin 'Uqbah (w. 141 H) — Ulama Madinah yang dikenal memiliki karya tentang maghazi. Imam Malik bahkan pernah menyebutnya dengan pujian tersendiri dalam konteks sejarah peperangan Nabi ๏ทบ.
6. Muแธฅammad bin Isแธฅฤq (w. 152 H) — Inilah nama yang paling besar di antara semua penulis sirah sebelum Ibn Hisyam. Ibn Ishaq adalah penulis Madinah yang kemudian menjadi tumpuan bagi seluruh tradisi penulisan sirah sesudahnya. Karyanya tentang maghazi dan sirah menjadi induk dari segala sumber.
7. Al-Wฤqidฤซ (w. 207 H) — Penulis Madinah yang juga dikenal dengan karyanya di bidang maghazi. Meski para ahli hadits memberikan penilaian beragam terhadapnya dari sisi periwayatan, karyanya tetap menjadi sumber penting bagi sejarawan sesudahnya.
8. Ibn Syihฤb az-Zuhrฤซ (w. 124 H) — Ulama Makkah yang masyhur, juga termasuk dalam daftar penulis dan perawi sirah dari kota Makkah.
Selain nama-nama dari Madinah dan Makkah, terdapat pula penulis dari Basrah seperti Ma'mar bin Rฤsyid dan Muhammad bin Sa'd, yang turut menyumbang dalam membangun bangunan besar riwayat sirah Nabawiyah.
Ibn Ishaq: Arsitek Sirah yang Sesungguhnya
Di antara semua nama di atas, Muhammad bin Ishaq (w. 152 H) berdiri di tempat yang paling sentral. Ia adalah seorang ulama Madinah yang menghimpun riwayat-riwayat sirah dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya: tidak hanya mengumpulkan, tetapi juga menyusun secara kronologis dan naratif, dari kelahiran Nabi ๏ทบ hingga wafatnya. Karyanya inilah yang kemudian menjadi sumber utama yang diolah, disunting, dan diselesaikan oleh muridnya.
Namun Ibn Ishaq tidak luput dari kritik. Sebagian ahli hadits mempermasalahkan caranya dalam meriwayatkan — ia kadang menerima riwayat dari orang-orang yang tidak memenuhi syarat ketat ilmu hadits, dan memasukkan syair-syair yang oleh sebagian ulama dianggap tidak dapat diverifikasi. Meski demikian, para pembela Ibn Ishaq menegaskan bahwa kemampuan ilmunya sangat luas dan riwayatnya secara umum jujur. Pembelaan terhadapnya dapat ditemukan antara lain dalam kitab 'Uyลซn al-Atsar karya Ibn Sayyid an-Nฤs al-Ya'muri.
Mengapa Sirah Ibn Hisyam yang Tersisa?
Di sinilah letak yang paling menarik. Ibn Ishaq menulis dan meriwayatkan karyanya. Tetapi yang sampai ke tangan kita hari ini bukan naskah Ibn Ishaq secara langsung — melainkan naskah yang telah melalui tangan Abdulmalik bin Hisyam al-Mu'afiri (w. 218 H), yang lebih dikenal sebagai Ibn Hisyam.
Ibn Hisyam adalah murid dari Muhammad bin Salamah al-Kilabi al-Bashri, yang merupakan murid dari Ibn Ishaq. Jadi ada satu tingkatan periwayatan di antara Ibn Ishaq dan Ibn Hisyam. Sirah yang sampai kepada kita adalah sirah sebagaimana yang Ibn Hisyam terima dari gurunya, dari Ibn Ishaq. Karena itulah para ulama menyebutnya dengan nama lengkap: "Sฤซrat Ibn Hisyฤm 'an Ibn Isแธฅฤq" — Sirah Ibn Hisyam yang bersumber dari Ibn Ishaq.
Perlu dicatat pula bahwa Ibn Hisyam tidak sekadar menyalin. Ia melakukan penyuntingan yang cukup signifikan: membuang bagian-bagian yang ia nilai tidak relevan atau tidak layak, terutama syair-syair hujatan yang ada dalam naskah Ibn Ishaq. Dalam kata pengantarnya sendiri, Ibn Hisyam menyatakan bahwa ia meninggalkan hal-hal yang tidak pantas disampaikan — sesuatu yang oleh Ibn an-Nadim dalam kitab al-Fihrist dilihat sebagai kelemahan Ibn Ishaq dalam hal seleksi syair.
Sikap ilmiah Ibn Hisyam dalam penyuntingan ini justru memperlihatkan integritas seorang sejarawan yang bertanggung jawab. Ia tidak sekadar menjadi juru ketik, tetapi berfungsi sebagai editor kritis yang mempertimbangkan layak tidaknya sebuah riwayat untuk diteruskan kepada pembaca.
Mengapa Naskah Ibn Ishaq Sendiri Tidak Sampai Utuh?
Pertanyaan ini wajar muncul. Jawabannya bersifat historis: naskah-naskah kuno mengalami nasib yang beragam — ada yang rusak, tersalin tidak lengkap, atau hanya diketahui melalui kutipan-kutipan dalam kitab lain. Naskah Ibn Ishaq dalam bentuk lengkapnya tidak bertahan dalam satu dokumen yang utuh hingga hari ini. Sebagian besar isinya justru diketahui melalui kutipan-kutipan yang tersebar dalam karya sejarawan lain seperti al-Thabari (w. 310 H) dalam karyanya Tฤrฤซkh al-Umam wa al-Mulลซk, yang banyak mengutip riwayat Ibn Ishaq secara langsung.
Inilah mengapa sirah Ibn Hisyam menjadi "bentuk tertulis paling tua dan paling lengkap" dari Sirah Nabawiyah yang masih bisa kita baca secara utuh hari ini — meski ia sendiri adalah edisi yang telah melalui proses penyuntingan dari naskah aslinya.
Warisan yang Terus Berlanjut: Sirah Pasca-Ibn Hisyam
Setelah Ibn Hisyam, tradisi penulisan sirah tidak berhenti. Para ulama berikutnya terus mengembangkan, mensyarah, dan memperluas kajian tentang kehidupan Nabi ๏ทบ dari berbagai sudut pandang:
Abu al-Qasim as-Suhaili (w. 581 H) menulis ar-Rauแธ al-Unuf, sebuah syarah (penjelasan) yang sangat mendalam atas Sirah Ibn Hisyam. Karya ini dianggap sebagai penjelasan paling awal dan paling komprehensif atas teks Ibn Hisyam, sehingga keduanya — teks dan syarahnya — saling melengkapi hingga kini.
Qadhi 'Iyฤdh (w. 544 H) menulis asy-Syifฤ' fฤซ Ta'rฤซf แธคuqลซq al-Muแนฃแนญafฤ, sebuah karya yang mengambil sudut pandang berbeda: bukan kronik peristiwa, melainkan pendalaman terhadap kedudukan, hak, dan keistimewaan Nabi ๏ทบ. Kitab ini hingga kini tetap menjadi salah satu karya paling dicintai di dunia Islam.
Ibn Sayyid an-Nฤs al-Ya'muri (w. 734 H) menulis 'Uyลซn al-Atsar fฤซ Funลซn al-Maghฤzฤซ wa asy-Syamฤ'il wa as-Siyar, yang dikenal sebagai salah satu sirah paling teliti secara ilmiah di abad pertengahan Islam.
Mughlatay (w. 762 H) menulis az-Zahr al-Bฤsim fฤซ Sฤซrat Abฤซ al-Qฤsim, yang memperluas dan melengkapi banyak hal yang belum dituntaskan oleh Ibn Hisyam.
Syihฤbuddฤซn al-Qasthallฤni (w. 923 H) menulis al-Mawฤhib al-Laduniyyah — salah satu karya sirah terbesar dalam tradisi Islam yang menggabungkan aspek sejarah, spiritualitas, dan kedalaman ilmu kalam.
Nลซruddฤซn al-Halabi (w. 1044 H) menulis Insฤn al-'Uyลซn fฤซ Sฤซrat al-Amฤซn al-Ma'mลซn, yang lebih dikenal sebagai as-Sฤซrah al-แธคalabiyyah. Kitab ini menjadi ensiklopedi sirah yang sangat luas dan banyak dijadikan rujukan di pesantren-pesantren tradisional.
Pelajaran dari Sejarah Penulisan Sirah
Ada beberapa pelajaran berharga yang dapat dipetik dari perjalanan panjang ini:
Pertama, tidak ada karya besar yang lahir dari ruang hampa. Sirah Ibn Hisyam yang kita baca hari ini adalah hasil akumulasi kerja keras para ulama selama lebih dari seratus tahun — dari generasi Urwah bin az-Zubair di abad ke-1 H, hingga Ibn Ishaq di abad ke-2 H, dan akhirnya tersunting oleh Ibn Hisyam di abad ke-3 H.
Kedua, kritik ilmiah bukan berarti penghinaan. Para ulama seperti Ibn Hisyam dan Ibn Sayyid an-Nฤs melakukan koreksi dan penilaian kritis terhadap karya-karya pendahulunya — bukan untuk merendahkan, tetapi untuk memastikan bahwa yang sampai ke generasi berikutnya adalah yang terbaik dan paling dapat dipertanggungjawabkan.
Ketiga, tradisi ilmiah Islam dalam bidang sirah menunjukkan bahwa menjaga sejarah Nabi ๏ทบ adalah kerja kolektif lintas generasi, lintas kota, dan lintas mazhab. Ini warisan peradaban yang patut dijaga dan dipahami dengan serius.
Penutup
Ketika kita membaca Sirah Ibn Hisyam — atau sirah mana pun — ada baiknya kita sesekali berhenti dan mengingat: di balik teks yang ada di tangan kita, tersimpan kerja keras ratusan ulama yang mendedikasikan hidupnya untuk merawat sejarah manusia paling mulia yang pernah hidup di muka bumi. Mengenal mereka bukan hanya menambah wawasan, tetapi juga menambah rasa syukur atas warisan ilmu yang sampai kepada kita.
Referensi: Alghani Hasan, At-Tarฤjim wa as-Siyar (kajian akademik tentang metodologi penulisan biografi dan kronik dalam tradisi Islam), hal. 27–36. Disebutkan pula di dalamnya: Ibn Sayyid an-Nฤs al-Ya'muri, 'Uyลซn al-Atsar; Ibn an-Nadim, al-Fihrist; Abu al-Qasim as-Suhaili, ar-Rauแธ al-Unuf.
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan sumber primer yang disebutkan dalam referensi di atas. Semua fakta, nama tokoh, dan tahun yang dicantumkan bersumber dari data yang tersedia dalam kitab tersebut. Penulis tidak menambahkan informasi di luar yang tertera dalam sumber.
