👋
Keluar dari akun?
Anda akan keluar dari sesi yang sedang aktif. Apakah Anda ingin melanjutkan?
NEW UPDATES
Memuat berita terbaru...
📢 BROADCAST

Benarkah Mongondow Pernah Tenggelam? Mengurai Mitos Air Bah dan Puncak Gunung Pasi

Ketika Bolaang Mongondow Tenggelam: Mitos Air Bah dan Asal-Usul Puncak Gunung Pasi yang Menyelamatkan Daratan

Oleh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat


Memasuki Babak Baru: Legenda Asal-Usul Tanah Mongondow

Naskah kuno ini kini memasuki kelompok cerita yang disebut penyusunnya sendiri sebagai "sagen"—istilah akademik untuk legenda yang dituturkan masyarakat sebagai penjelasan asal-usul nyata suatu tempat, berbeda dari dongeng fiksi murni yang telah kita telusuri sejauh ini. Kisah pembukanya langsung membawa kita pada pertanyaan besar: dari mana asal daratan Bolaang Mongondow yang kita kenal sekarang?


Ketika Seluruh Dataran Tenggelam

Menurut kisah ini, pada suatu masa ketika dunia dilanda malapetaka besar, seluruh dataran Bolaang Mongondow tenggelam ke dalam air—hanya dua tempat yang tersisa di atas permukaan: puncak Gunung Pasi dan puncak Lolaian.


Bebek Penanda Daratan Pertama

Di tengah genangan luas itu, seekor bebek berenang ke sana kemari, hingga tanpa sengaja menemukan sesuatu yang bentuknya menyerupai telur, menyembul tepat di atas permukaan air. Bebek itu pun hinggap di puncaknya dan mengepakkan sayap. Tak lama setelah itu, air mulai berangsur surut, hingga akhirnya seluruh dataran Bolaang Mongondow kembali muncul ke permukaan.


Kedatangan Oeboedia dari Lembe

Sekitar dua tahun kemudian, hiduplah seorang laki-laki dari Bolango bernama Oeboedia, yang tinggal di Lembe dan dikenal mahir membaca tanda-tanda kesuburan tanah. Berbekal pengetahuan itu, ia bersama rombongannya berangkat menuju tanah Mongondow yang baru saja muncul dari air.

Sesampainya di sana, mereka melihat sebuah gunung yang tampak subur dan menjanjikan. Di titik itulah mereka memutuskan untuk membangun permukiman ladang pertama—cikal bakal yang, menurut tradisi lisan ini, menjadi awal mula peradaban di tanah Mongondow.


Ketika Mitos Menjadi Ingatan Kolektif

Kisah "sagen" seperti ini memiliki fungsi yang berbeda dari dongeng hiburan biasa: ia menjadi cara masyarakat lampau memahami dan mewariskan ingatan tentang asal-usul tanah dan leluhur mereka sendiri. Terlepas dari unsur mitologisnya—air bah, bebek ajaib, daratan yang muncul dari ketiadaan—kisah ini menyimpan jejak penting: nama tempat (Pasi, Lolaian), nama kelompok masyarakat (Bolango), dan figur perintis (Oeboedia) yang hingga kini masih menjadi bagian dari identitas kolektif wilayah Bolaang Mongondow.


Suka dengan kisah purba ini? Bagikan artikel ini kepada teman-teman Anda yang mencintai cerita rakyat Nusantara, atau tinggalkan like agar kami semangat menggali lebih banyak naskah kuno yang tersembunyi.


Referensi: Dunnebier, W. Bolaang Mongondowse Teksten, cerita No. 50 "Ooeman in Toedoe im Pasi" / "Verhaal over den top van Pasi". 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1953. Diterbitkan di bawah naungan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV), pembuka kelompok "Groep VI. Sagen" (legenda asal-usul) dalam naskah asli

Disclaimer Akademik & Redaksional: Artikel ini adalah karya adaptasi naratif dari legenda lisan (sagen) yang telah didokumentasikan secara akademis dalam Dunnebier, W., Bolaang Mongondowse Teksten (KITLV, 1953). Kisah ini merupakan narasi mitologis-tradisional, bukan klaim ilmiah, historiografis, atau geologis yang telah terverifikasi, dan tidak mewakili posisi resmi pemerintah daerah, lembaga adat, maupun kelompok masyarakat tertentu. Nama tempat dan tokoh yang disebut dikutip sebagaimana tercatat dalam sumber akademis tersebut, semata untuk tujuan dokumentasi budaya dan edukasi, tanpa maksud merendahkan atau mendiskreditkan pihak mana pun. Alur cerita bersumber langsung dari referensi di atas; tim hanya mengalihgayakan bahasa agar lebih naratif, tanpa mengubah substansi. Masukan atau koreksi dari pembaca sangat kami terima demi akurasi bersama.

Reaksi Anda
1Tulis 2Publish
Lebih baru Lebih lama
Jelajahi
Lainnya