Oleh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat
Mitos Asal-Usul yang Melengkapi Kisah Sebelumnya
Jika kisah sebelumnya menceritakan bagaimana seekor buaya secara individual berubah menjadi pemangsa manusia akibat hasutan seekor nyamuk, naskah kuno Bolaang Mongondow ini menghadirkan versi yang jauh lebih besar skalanya—sebuah mitos asal-usul yang menjelaskan mengapa seluruh buaya, sejak zaman dahulu hingga sekarang, memangsa manusia. Dan di balik semuanya, ada kisah lamaran yang ditolak dan balas dendam yang mengerikan.
Zaman Ketika Buaya dan Manusia Hidup Damai
Naskah asli membuka kisah ini dengan penegasan penting: pada zaman dahulu, buaya-buaya benar-benar terbiasa menyeberangkan manusia melintasi sungai, bahkan biasa dinaiki oleh para pemancing yang berlayar ke sana kemari di laut. Buaya saat itu sama sekali belum tahu cara menyerang atau mencelakai manusia. Barulah karena tipu daya licik seekor nyamuk—yang pada masa itu berukuran sebesar ayam dewasa—ia belajar memangsa manusia.
Lamaran yang Ditolak, Kemarahan yang Membabi Buta
Alkisah, ada seorang raja nyamuk yang ingin menikahi putri seorang raja manusia yang sangat cantik jelita. Namun lamaran itu ditolak oleh sang raja manusia. Raja nyamuk pun menjadi sangat murka. Ia mengerahkan seluruh rakyatnya menyerbu istana raja manusia dan menghisap habis darah setiap penghuninya.
Hanya sang putri yang selamat dari pembantaian itu, karena ia sempat melarikan diri. Namun para nyamuk terus mengejarnya hingga ke tepi sungai.
Tipu Daya di Tepi Sungai
Sesampainya di sungai, sang putri mendapati tidak ada satu pun buaya yang bisa menyeberangkannya. Di situlah para nyamuk menipunya dengan berkata, "Tunggu, biar kami yang memanggilkan buaya untuk menyeberangkanmu." Mereka pun pergi menemui seekor buaya dan berkata, "Wahai buaya, sungguh lezat rasa darah manusia!"—lalu langsung memberi buaya itu mencicipi darah manusia yang masih ada di perut mereka, darah yang baru saja mereka hisap dari istana yang telah mereka bantai.
Pengorbanan Sang Putri di Tengah Sungai
Setelah mencicipi darah itu, buaya pun ikut bersama rombongan nyamuk untuk menyeberangkan sang putri. Namun begitu sang putri naik ke punggungnya dan baru mencapai tengah sungai, buaya itu langsung menerkam dan memangsanya.
Naskah asli menutup kisah ini dengan penegasan bahwa sejak peristiwa itulah, hingga hari ini, buaya senantiasa memakan manusia.
Dua Kisah, Satu Tema: Kepercayaan yang Dihancurkan Pihak Ketiga
Menariknya, baik kisah ini maupun kisah sebelumnya sama-sama menempatkan seekor nyamuk sebagai dalang di balik berubahnya sifat buaya—satu dalam skala pribadi, satu lagi dalam skala mitos penciptaan sebuah sifat alami spesies. Keduanya menegaskan tema yang sama: kepercayaan yang telah terjalin lama bisa runtuh seketika oleh godaan yang datang dari luar, apalagi jika godaan itu menyentuh sesuatu yang belum pernah dicoba sebelumnya.
Suka dengan kisah purba ini? Bagikan artikel ini kepada teman-teman Anda yang mencintai cerita rakyat Nusantara, atau tinggalkan like agar kami semangat menggali lebih banyak naskah kuno yang tersembunyi.
Referensi: Dunnebier, W. Bolaang Mongondowse Teksten, cerita No. 25 "Pinokokaan im Bangkele' ko Intau" / "Hoe de Krokodil Ertoe Gekomen is Mensen te Eten". 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1953. Diterbitkan di bawah naungan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV).
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan sumber primer yang disebutkan dalam referensi di atas. Seluruh alur cerita dan nama tokoh (raja nyamuk, raja manusia, sang putri, dan buaya/bangkele') bersumber langsung dari teks asli dan terjemahan Belanda pada halaman yang dirujuk. Penulis menyajikan ulang cerita dalam gaya bahasa naratif yang lebih hidup agar mudah dinikmati pembaca modern, tanpa menambahkan tokoh, kejadian, maupun pesan moral tambahan di luar apa yang tertera dalam sumber.

