Oleh: Arun Algaus
Editor: Tim Pena Sehat
![]() |
| Gambar Ilustrasi |
Bagian II: Manado, Boelan, dan Caudipan dalam Catatan Valentijn
Administrasi Gereja dan Kebijakan E. Maatschappij
Dalam uraian lanjutan ini, Valentijn kembali menyoroti persoalan-persoalan administratif dan sosial yang berkaitan dengan kehidupan gerejawi di wilayah Manado dan sekitarnya. Ia mencatat bahwa biaya pemeliharaan gereja dan sekolah, kecuali bagian atap yang ditanggung oleh pihak E. Maatschappij dengan perhitungan setengah rijksdaalder per seratus, menjadi beban masyarakat setempat. Akan tetapi, rumah pendeta maupun rumah pengunjung orang sakit (krankbezoeker) tidak termasuk dalam tanggungan tersebut, sebab keduanya sepenuhnya berada di bawah pemeliharaan E. Maatschappij.
Keputusan komisaris dan gubernur wilayah, Padbrugge, yang menetapkan agar krankbezoeker menanggung sendiri biaya pemeliharaan rumahnya sebagai imbalan atas hak tinggal gratis, oleh Valentijn dipandang sebagai bentuk penghematan yang ganjil. Ia menilai kebijakan ini lebih merupakan upaya pengurangan beban kecil yang justru dibebankan kepada pihak lemah, sementara pengeluaran besar yang tidak perlu di tingkat pejabat tinggi tidak pernah tersentuh. Dalam pandangannya, praktik semacam ini memperlihatkan kecenderungan para penguasa untuk menekan biaya pada pihak bawahan, seperti pendeta, guru, atau juru tulis, tetapi tidak pernah pada diri mereka sendiri.
Konflik Sosial di Wilayah Tondano
Valentijn kemudian membandingkan watak penduduk pedalaman dengan mereka yang tinggal di pesisir. Menurutnya, masyarakat pedalaman cenderung lebih saleh, sederhana, dan jujur karena jarang berhubungan dengan orang asing. Sebaliknya, penduduk pesisir, yang sering berinteraksi dengan berbagai bangsa, menjadi lebih licik dan condong pada perilaku negatif. Dalam konflik dengan kelompok Alfoer di wilayah Ternate, pemerintah bahkan pernah mengeluarkan instruksi agar tidak turut campur, sebagaimana tercantum dalam surat resmi bertanggal 14 Januari 1671.
Kelompok yang dianggap paling mudah tersulut konflik adalah masyarakat Ton-Dano, atau yang disebut pula sebagai “Orang Air”, karena istilah Ton berarti rakyat dan Dano berarti air. Perselisihan ini, menurut Valentijn, sering dipicu oleh para penerjemah yang demi kepentingan pribadi memposisikan diri sebagai penguasa kecil di tengah masyarakat pegunungan. Hal ini memicu kecemburuan dan pertentangan sosial. Namun, kelompok Ton-Sea atau “Orang Air Terjun”, meskipun hanya sekitar tujuh puluh pria dewasa, mampu menundukkan Ton-Dano dengan cara mengatur aliran air di sekitar permukiman mereka sehingga sawah dan rumah terendam, memaksa mereka menyerah tanpa perlawanan terbuka.
Pada awal abad ke-18, tepatnya sekitar tahun 1711, konflik dengan Tondano masih berlangsung dan telah berjalan sejak 1709. Dampaknya terasa pada kenaikan harga beras dan kacang di pesisir Manado. Valentijn juga mencatat bahwa sebelum tahun 1680, jalur darat menuju wilayah Datahan, Passan, Saccan, dan Saban jauh lebih baik. Namun, letusan dan pergeseran gunung di wilayah pegunungan Kemas atau Pegunungan Tiram Besar menyebabkan jalan-jalan tersebut rusak parah dan tak lagi dapat dilalui.
Kondisi Geologis dan Perubahan Alam
Salah satu peristiwa geologis yang menonjol terjadi di wilayah Mogonde, di mana satu kawasan luas dengan ribuan pohon kelapa terbalik akibat pergeseran tanah. Sungai lama menghilang dan terbentuk perairan baru. Peristiwa ini begitu drastis hingga para petugas pos dari Manado kesulitan menemukan jalur lama yang sebelumnya mereka lalui. Pegunungan di kawasan ini juga dikenal menghasilkan belerang yang sangat murni.
Sumber Daya Alam dan Ekonomi Pesisir Manado
Pesisir Manado digambarkan sebagai wilayah kaya hasil alam, termasuk lilin, madu, rotan, kacang-kacangan, jagung, serta terutama padi dan beras dalam jumlah besar. Valentijn mencontohkan kebakaran di desa Tomon yang menghanguskan sekitar tiga ribu muatan beras sekaligus. Ukuran takaran beras di Manado bahkan lebih besar dibanding Ternate, yakni hampir delapan puluh delapan pon per takaran. Murahnya bahan makanan, menurut Valentijn, justru memicu gaya hidup longgar di kalangan orang Eropa.
Selain hasil pertanian, wilayah ini juga terkenal dengan kayu hitam (eboni) yang sangat melimpah, terutama di pulau-pulau sekitar dan daerah pedalaman seperti Datalfan dan Passan. Kayu ini tidak hanya digunakan sebagai perabot, tetapi juga sebagai tiang utama rumah, dengan diameter yang bahkan tidak dapat dirangkul oleh seorang pria dewasa. Dalam sebuah ekspedisi tahun 1660, rombongan VOC bahkan melihat perahu dari satu batang kayu eboni yang lebarnya mencapai lima belas kaki.
Hutan-hutan di kawasan ini juga kaya akan buah-buahan dan sarang burung yang menjadi komoditas mewah. Sarang-sarang tersebut banyak ditemukan di sekitar Pulau Lembeh, Datahan, dan pulau-pulau lain. Pada masa sebelumnya, sekitar sepuluh hingga dua belas pikul sarang burung dapat dikumpulkan setiap tahun. Komoditas ini dahulu menjadi sumber pendapatan tambahan bagi pejabat lokal dan pendeta yang melakukan perjalanan panjang, meskipun kemudian perdagangan ini diambil alih oleh E. Maatschappij.
Valentijn menekankan bahwa bagi seorang pendeta, hasil tambahan ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan biaya dan risiko perjalanan. Meskipun gaji pendeta terlihat besar, menurutnya tidak cukup untuk hidup layak, terutama jika memiliki keluarga. Berbeda dengan para pejabat perdagangan yang, setelah beberapa tahun, dapat naik jabatan dan memperoleh kekayaan besar, seorang pendeta akan tetap berada dalam posisinya sepanjang hidup.
Orang Badjos dalam Jaringan Perdagangan Laut
Dalam konteks perdagangan karet laut (caret), Valentijn menyebut kelompok Orang Badjos sebagai pemasok utama. Mereka juga dikenal sebagai Badjos atau Wadjoes, yakni komunitas nelayan yang hidup berpindah-pindah di laut. Tentang asal-usul mereka, terdapat perbedaan pandangan antara Padbrugge dan pendeta Montanus. Montanus menggambarkan mereka sebagai kelompok tanpa agama yang hidup di ratusan perahu, sedangkan Padbrugge berpendapat bahwa mereka merupakan campuran berbagai bangsa, termasuk Tionghoa, Jawa, Makassar, Bali, dan Melayu.
Padbrugge menilai Orang Badjos tidak seburuk yang digambarkan Montanus. Menurutnya, mereka umumnya rendah hati, jujur, dan setia, serta sering membantu E. Maatschappij dengan memberikan informasi penting, mengantarkan surat, dan mengangkut orang. Mereka hidup terutama dari hasil tangkapan ikan, tetapi juga mengonsumsi sagu dan beras. Kapal-kapal mereka dibuat kokoh, dan baik pria maupun perempuan mahir mengemudikannya, bahkan melewati karang-karang berbahaya.
Mengenai tempat tinggal, Valentijn mencatat bahwa sebagian Orang Badjos sebenarnya mampu hidup di darat, seperti yang terlihat di Tamboeco, di mana terdapat sebuah desa mereka di atas bukit dekat pantai. Dengan demikian, anggapan bahwa mereka tidak bisa hidup di darat sepenuhnya dibantah oleh pengalaman lapangan Padbrugge.
Kerajaan Boelan dan Wilayah Mogonde
Setelah itu, Valentijn melanjutkan deskripsi geografis pesisir Manado. Sekitar dua mil di barat Manado terdapat pelabuhan alami yang aman sebagai tempat berlindung kapal dari angin barat. Enam mil lebih ke barat daya terdapat Teluk Amoera yang memiliki dasar laut baik untuk berlabuh, meskipun terdapat terumbu karang di sisi timur yang harus diwaspadai. Amoera juga menjadi jalur terdekat menuju Ton-Saban dan berfungsi sebagai batas antara wilayah Raja Boelan dan masyarakat pegunungan Manado.
Sekitar sepuluh mil ke barat dari Amoera terdapat pusat Kerajaan Boelan, yang terletak di tepi sungai besar dengan dua cabang dari Pegunungan Mogonde dan Dommoegoe. Pada akhir abad ke-17, raja Boelan bernama Laloda, dengan saudara bernama Maccarompius. Di bawah kekuasaan Boelan juga terdapat wilayah Mogonde dengan sekitar empat ribu penduduk, meskipun hanya sebagian kecil yang benar-benar tunduk pada raja.
Valentijn menceritakan bahwa desa Salamadonga, pusat Mogonde, pernah dibakar oleh Padbrugge dalam konteks konflik militer. Wilayah ini digambarkan sulit ditaklukkan karena penduduknya tersebar di banyak dusun kecil di pegunungan. Pada tahun 1705, di Boelan tercatat terdapat 152 orang Kristen, meskipun jumlah penganut kepercayaan lain tidak diketahui.
Caudipan dan Dinamika Kekuasaan Regional
Empat mil di barat Boelan (Bolaang) terdapat desa Auwn (Ayong), yang menjadi tempat tinggal Maccarompius bersama beberapa keluarga. Daerah ini subur dan menjadi jalur menuju Mogonde serta ke wilayah Gorontalo. Padbrugge menilai bahwa jika penduduk Auwn (Ayong) dan Dommoegoe disatukan dalam satu desa, maka dapat dihemat dengan hanya satu guru dan satu penjaga gereja.
Lebih jauh ke barat lagi, sekitar tujuh belas mil dari Auwn (Ayong), terletak Kerajaan Caudipan (Kaidipang), yang terdiri atas dua desa utama: Boelanitam dan Dauw. Pada tahun 1705, kedua desa ini memiliki hampir seribu penduduk Kristen. Valentijn menjelaskan bahwa pembagian ini merupakan hasil konflik lama antara Raja Boelan, Raja Sjauw, dan Raja Caudipan, Maurits Binangkal.
Melalui serangkaian peperangan, pernikahan politik, dan campur tangan kekuatan Makassar serta Spanyol, wilayah Caudipan mengalami perubahan kekuasaan berulang kali. Akhirnya, setelah kekalahan Makassar pada tahun 1669, Caudipan diserahkan kembali kepada Raja Ternate. Usaha Spanyol untuk mengklaim kembali Boelanitam ditolak oleh Padbrugge pada tahun 1677, dengan alasan bahwa hak lama mereka telah gugur akibat perang.
Boelanitam kemudian diperintah oleh Putri Linkakoa, yang meskipun menyandang status Kristen, digambarkan Valentijn sebagai penguasa lalim, gemar ramalan, dan terlibat dalam berbagai praktik kekuasaan yang keras. Karena banyaknya kekerasan dan pembunuhan, Padbrugge mencabut hak peradilan lokal dan menyerahkannya kepada pengadilan E. Maatschappij. Penduduk juga dipaksa untuk tinggal berkelompok dalam desa-desa, dan rumah-rumah di hutan dibakar agar mereka tidak lagi hidup terpencar.
Sampai pada titik ini, Valentijn menutup uraian tentang kawasan pesisir Manado dan kerajaan-kerajaan di sekitarnya, sebelum melanjutkan ke deskripsi wilayah berikutnya.
Referensi:
François Valentijn, Oud en Nieuw Oost-Indiën, Volume 1, Tweede Boek, Eerste Hoofdstuk.
Disclaimer Akademik:
Artikel ini disusun berdasarkan karya François Valentijn, seorang pendeta, sejarawan, dan penulis Belanda abad ke-17–18 yang terkenal melalui karya monumentalnya Oud en Nieuw Oost-Indiën, yang menjadi salah satu sumber utama historiografi awal tentang Asia Tenggara dan kepulauan Nusantara dalam tradisi Eropa. Untuk pemahaman yang lebih mendalam dan keperluan akademik, pembaca disarankan mengakses dan membaca langsung karya asli François Valentijn sebagai rujukan primer. Artikel ini bertujuan menyajikan ulang isi sumber secara naratif-profesional tanpa menambah atau mengurangi makna ilmiahnya.
