Oleh: Arun Algaus
Editor: Tim Pena Sehat
Pulau Sjauw merupakan salah satu pulau yang terletak di kawasan utara Kepulauan Maluku dan Sulawesi, yang dalam catatan François Valentijn berada pada posisi sekitar dua setengah derajat lintang utara, dengan jarak kurang lebih tiga puluh mil dari Ternate. Secara geografis, pulau ini berada tidak jauh dari Sangir dan menjadi bagian dari gugusan pulau-pulau yang sejak abad ke-16 telah dikenal dalam jaringan pelayaran Portugis, Spanyol, serta kemudian Belanda.
Di sebelah selatan jalur pelayaran dari Sangir menuju Sjauw terdapat beberapa pulau kecil yang tidak berpenghuni. Salah satu di antaranya adalah Massape, yang oleh penduduk setempat dianggap sebagai pulau suci. Pulau ini menjadi tempat persembahan ritual berupa kambing hidup, yang menurut kepercayaan setempat dapat berfungsi sebagai sarana penyembuhan penyakit atau penolak bala. Praktik semacam ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat biasa, tetapi juga oleh para bangsawan dan raja-raja ketika mengalami musibah atau sakit berat.
Di bagian barat Sjauw terdapat pula sebuah pulau kecil yang pernah dimanfaatkan oleh para misionaris Jesuit sebagai tempat pemeliharaan hewan ternak seperti sapi, babi, kambing, dan unggas. Pulau tersebut pada mulanya diserahkan kepada pihak Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC), meskipun kemudian tetap berada dalam penguasaan Raja Sjauw. Dalam praktiknya, pulau ini berfungsi sebagai sumber pengadaan hewan ternak bagi kebutuhan lokal.
Sisi timur Pulau Sjauw, khususnya di sekitar desa Oeloe, memiliki perairan yang cukup baik sebagai tempat berlabuh. Di kawasan ini terdapat beberapa pulau kecil seperti Boegiassoe, Pondang, Labeang, Massare, dan Mahono, yang secara geografis membentuk semacam teluk tertutup. Sementara itu, di sisi barat, dekat desa Pehe—yang juga merupakan pusat kediaman raja—terdapat Pulau Makelehe, sebuah pulau kecil yang memiliki sumber air tawar di bagian tengahnya serta ditumbuhi berbagai jenis pohon buah.
Pulau Sjauw digambarkan sebagai wilayah yang sangat bergunung-gunung, dengan sebuah gunung berapi aktif di bagian tengahnya. Gunung ini sering memuntahkan abu, batu, bahkan air panas, dan dalam bulan-bulan tertentu seperti Januari dan Februari aktivitasnya semakin meningkat. Dalam catatan Valentijn disebutkan bahwa pada 16 Januari 1712, letusan besar dari gunung tersebut terdengar hingga ke Ternate, yang berjarak sekitar empat puluh mil.
Secara administratif, Pulau Sjauw memiliki empat desa utama, yaitu Oeloe di bagian timur, Pehe di bagian barat, serta Ondor Lehe yang terletak di kawasan pesisir. Dalam laporan tahun 1705, Oeloe tercatat mampu menyediakan sekitar 500 orang laki-laki bersenjata, sedangkan Pehe sekitar 300, dan Ondor Lehe sekitar 160 orang. Jumlah keseluruhan penduduk pulau ini diperkirakan mencapai lebih dari tiga ribu jiwa.
Pada akhir abad ke-17, Raja Sjauw(Siau) dikenal dengan nama Francisco Xavier. Setelah wafatnya, pemerintahan sementara dijalankan oleh sejumlah pejabat lokal hingga putra mahkota Xavier cukup dewasa untuk memerintah. Raja Sjauw juga merangkap sebagai penguasa Pulau Cabroewang di Kepulauan Talaud, yang memiliki sekitar seribu penduduk dan tiga ratus orang laki-laki yang dapat dikerahkan sebagai pasukan. Wilayah ini digambarkan sebagai daerah yang miskin sumber daya, dengan hasil utama berupa kelapa, minyak kelapa, serta umbi-umbian.
Dalam catatan sejarahnya, Raja Sjauw pernah terlibat dalam konflik regional bersama Raja Boelan, terutama dalam penaklukan wilayah Caudipan di pesisir Sulawesi. Wilayah ini kemudian menjadi bagian dari kekuasaan Ternate, setelah sebelumnya sempat dikuasai oleh Spanyol. VOC juga turut terlibat dalam berbagai peristiwa politik tersebut, termasuk pembangunan benteng Doornenburg di Sjauw pada tahun 1682.
Sjauw telah dikenal oleh bangsa Portugis sejak sekitar tahun 1568 dan kemudian berada dalam pengaruh Spanyol sebelum akhirnya direbut kembali oleh pihak Ternate dengan bantuan Belanda pada awal abad ke-17. Dalam periode berikutnya, pulau ini menjadi lokasi aktivitas misionaris Jesuit, seperti Emanuel Espagnola dan Carlo Tercottus, yang mencatat berbagai peristiwa keagamaan dan politik di wilayah ini.
Dari Sjauw ke arah selatan terletak Pulau Pangasare, yang lebih dikenal dengan nama Tagulanda. Pulau ini memiliki dua desa utama, yaitu Tagulanda dan Minanga. Pada awal abad ke-18, Tagulanda tercatat memiliki sekitar 1.590 penduduk dengan 500 orang laki-laki bersenjata, sedangkan Minanga memiliki sekitar 320 penduduk dan 100 orang laki-laki bersenjata. Secara keseluruhan, pulau ini memiliki kurang dari dua ribu penduduk.
Tagulanda dikenal sebagai penghasil minyak kelapa dalam jumlah besar. Dalam laporan Valentijn, disebutkan bahwa beberapa pulau di kawasan ini, termasuk Sangir, Sjauw, dan Tagulanda, mampu menghasilkan hingga ribuan kan minyak kelapa yang diperdagangkan kepada VOC. Selain itu, pulau ini juga dikenal menghasilkan kapur, kayu, serta memiliki potensi tanaman cengkeh.
Penduduk Tagulanda digambarkan sebagai pelaut yang sangat terampil. Mereka dikenal mampu melakukan penyelamatan kapal dalam kondisi laut berbahaya, suatu hal yang jarang ditemukan di kalangan masyarakat kepulauan lainnya pada masa itu. Bersama penduduk Sangir dan Sjauw, mereka juga kerap dikerahkan dalam armada laut regional yang disebut coracora, terutama pada masa konflik.
Setelah Tagulanda, perjalanan menuju daratan Sulawesi membawa pelaut ke wilayah Manado. Manado terletak di sebuah teluk besar di pesisir utara Sulawesi dan menjadi pusat administrasi penting VOC di kawasan ini. Pada awal abad ke-18, Manado telah memiliki benteng batu bernama Amsterdam, yang sebelumnya merupakan benteng kayu.
Manado menjadi pusat pemerintahan bagi banyak wilayah di pesisir utara Sulawesi, dengan ribuan penduduk dan ribuan laki-laki yang dapat dikerahkan sebagai pasukan. Berbagai desa seperti Tondano, Tonsea, Rambocan, Tompaso, hingga Tomohon berada di bawah pengaruh administrasi Manado. Dalam catatan Valentijn, jumlah pasukan yang dapat dihimpun dari wilayah ini diperkirakan mencapai lebih dari empat ribu orang.
Meskipun telah memeluk agama Kristen, masyarakat Manado digambarkan sebagai kelompok yang perlu diawasi secara ketat oleh pihak kolonial. Dalam periode sebelumnya, para penerjemah lokal memiliki kekuasaan besar dan sering mengendalikan perdagangan, termasuk perdagangan cangkang penyu dan sarang burung walet, yang seharusnya menjadi monopoli VOC.
Wilayah Manado juga dikenal sebagai penghasil beras, kayu, serta berbagai komoditas alam lainnya. Penduduk di beberapa daerah diwajibkan menyediakan tenaga kerja dan bahan bangunan untuk kepentingan VOC, sebagaimana tercatat dalam arsip administrasi tahun 1678 dan 1679.
Sampai pada bagian ini, Valentijn menegaskan bahwa wilayah Manado beserta pulau-pulau di sekitarnya, yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Kesultanan Ternate, secara bertahap menjadi bagian dari wilayah administrasi Perusahaan Hindia Timur Belanda, baik melalui penaklukan militer maupun perjanjian politik.
Referensi:
François Valentijn, Oud en Nieuw Oost-Indiën, Volume 1, Tweede Boek, Eerste Hoofdstuk.
Disclaimer Akademik:
Artikel ini disusun berdasarkan karya François Valentijn (1666–1727), seorang pendeta, sejarawan, dan penulis Belanda yang dikenal luas melalui karyanya Oud en Nieuw Oost-Indiën, salah satu sumber terpenting tentang sejarah, geografi, dan masyarakat Hindia Timur pada awal abad ke-18.
Seluruh isi artikel ini merupakan penulisan ulang naratif dari teks asli Valentijn tanpa penambahan fakta, tokoh, atau interpretasi baru. Untuk keperluan akademik dan pemahaman yang lebih mendalam, pembaca sangat dianjurkan merujuk langsung pada edisi asli karya tersebut sebagai sumber primer.
