Masuk ke Pena Sehat
Gunakan akun Google Anda untuk mengakses semua fitur eksklusif
atau
Dengan masuk, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami
👋
Keluar dari akun?
Anda akan keluar dari sesi yang sedang aktif. Apakah Anda ingin melanjutkan?
NEW UPDATES
Memuat berita terbaru...
📢 BROADCAST

Petaka Dusun Tondoga: Legenda Desa yang Tenggelam Akibat Melanggar Kata Terlarang

Tanjung Terlarang dan Batu yang Menelan Manusia: Situs-Situs Sakral di Bolaang Mongondow dalam Catatan 1866

Oleh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat


Ketika Alam dan Kepercayaan Leluhur Bersatu di Tanah Bolaang

Dalam perjalanan mereka menyusuri pantai menuju Nanassi pada akhir Juni 1866, N.P. Wilken dan J.A. Schwarz mencatat sesuatu yang tidak mereka temukan di bagian lain laporannya: sederet tempat yang oleh penduduk setempat dianggap poton atau lii—istilah lokal untuk sesuatu yang terlarang atau sakral. Di tempat-tempat ini, aturan tidak tertulis dipatuhi dengan sangat ketat, lengkap dengan kisah asal-usul yang menyertainya secara turun-temurun.

Tiga di antaranya dicatat cukup rinci oleh kedua penulis: Tanjung Nonapar, mata air Tolutug, dan batu besar yang dikenal sebagai Batu-Ijan. Ketiganya akan kita telusuri satu per satu, sebagaimana dituturkan dalam catatan asli.


Tanjung Nonapar: Tempat Terlarang untuk Bersuara dan Berwarna Kuning

Saat perahu rombongan melintasi sebuah tanjung bernama Tandjong Nonapar, para pendayung mendadak berubah sikap. Menurut catatan Wilken dan Schwarz, siapa pun yang melewati tempat itu dilarang bernyanyi atau berbicara keras, dilarang membuka payung, dan wajib melepas semua perhiasan emas, tolo kuning, serta apa pun yang berwarna kuning. Bahkan kata "bai", yang berarti putri, sama sekali tidak boleh diucapkan selama melintas. Siapa pun yang melanggar dipercaya akan tertimpa kemalangan.

Saat ditanya alasannya, para nelayan yang mendayung perahu itu hanya menjawab bahwa itu adalah kebiasaan orang tua turun-temurun—mereka sendiri tidak tahu ceritanya. Barulah dari orang lain, Wilken dan Schwarz mendapat dua penjelasan yang saling melengkapi.

Penjelasan pertama berkaitan dengan suku Buluan yang dahulu tinggal di dekat sumber Sungai Nonapan, dipimpin kepala suku bernama Obodia. Para putri (bai) dari wilayah itu konon biasa datang mandi di tanjung ini, sehingga tempat tersebut dianggap suci sebagai bentuk penghormatan kepada para putri tersebut.

Penjelasan kedua berkaitan dengan larangan warna kuning: dahulu di perairan itu hidup seekor ikan bersisik emas. Namun begitu ikan itu tertangkap, ia langsung mati, sisik emasnya lenyap, dan orang yang menangkapnya mendadak jatuh sakit. Akar semak tertentu di tepi sungai itu pun disebut-sebut berlapis emas—tetapi begitu dikupas, lapisan emas itu berubah menjadi debu.


Tolutug: Pemandian Arwah Putri Tombaga

Tidak jauh dari muara Inobonto, rombongan Wilken dan Schwarz berjalan kaki masuk ke dalam hutan menuju sebuah tempat pemandian bernama Tolutug—yang secara harfiah berarti "jatuh", merujuk pada air yang mengalir dari batu di atas dan jatuh membentuk aliran kecil sebelum berkumpul di sebuah cekungan alami di bebatuan.

Menurut kisah yang mereka dengar, pada masa ketika masyarakat Lombagin masih bermukim di gunung dengan nama yang sama, seorang putri bernama Tombaga biasa datang mandi di tempat ini setiap hari. Setelah wafat, arwahnya dipercaya tetap setia mengunjungi pemandian tersebut, memelihara udang dan belut sebagai teman bermain, sekaligus memenuhi udara di sekitarnya dengan aroma balsam. Karena kisah inilah, Tolutug dianggap sebagai poton atau lii.

Mengambil air atau mandi di tempat ini sebenarnya diperbolehkan. Namun ada pantangan ketat yang menyertainya: dilarang membuat kebisingan, baik berbicara keras, berteriak, maupun menembak. Makan di tempat itu, atau menangkap dan membunuh udang serta belut yang dianggap sebagai "teman bermain" Tombaga, juga dipercaya membawa bahaya besar—mulai dari penyakit, kegilaan, hingga kematian mendadak bagi siapa pun yang menodainya.

Menariknya, Wilken dan Schwarz sendiri mencatat secara jujur bahwa mereka tidak menemukan jejak udang atau belut besar seperti yang diceritakan, dan indra penciuman mereka pun tidak mendapati aroma balsam apa pun di tempat itu—sebuah catatan kecil yang menunjukkan sikap skeptis khas pengamat luar terhadap kepercayaan setempat.


Batu-Ijan dan Tenggelamnya Dusun Tondoga

Sedikit ke selatan dari Lombagin, kedua penulis mencatat keberadaan sebuah batu besar yang berdiri sendirian di samping sebatang pohon di tepi pantai, dan dipandang oleh masyarakat Mongondow dengan penghormatan yang sangat khusus—dikenal sebagai Batu-Ijan.

Tidak jauh dari situ, di dekat Tanjung Ompo, terdapat sebuah dusun bernama Tondoga yang menurut cerita dahulu masih menyatu dengan daratan utama. Konon, karena penduduknya berulang kali melanggar suatu larangan yang disebut fosso todoegia dan mengucapkan tiga kata terlarang—walej, loba, dan walo—dusun itu dihukum secara mengerikan oleh roh leluhur.

Wilken dan Schwarz sendiri mengaku tidak diberi tahu apa sebenarnya makna fosso tersebut, maupun arti ketiga kata terlarang itu. Yang menarik, saat pendongeng yang menceritakan kisah ini sampai pada bagian tersebut, ia begitu enggan mengucapkan ketiga kata itu secara lisan sehingga meminta kertas dan pensil untuk menuliskannya saja—sebuah gambaran betapa kuatnya pantangan itu dipegang, bahkan ketika sekadar menceritakan kisahnya kepada tamu asing.

Hukuman yang menimpa Tondoga, menurut cerita itu, berupa banjir besar yang datang tiba-tiba dan menenggelamkan seluruh daratan beserta penghuninya ke dasar laut. Hanya sedikit yang berhasil menyelamatkan diri. Salah satunya seorang pria bernama Ijan, yang sempat melarikan diri tepat waktu dengan perahunya. Setelah mengembara lama dan terdampar di pantai asing yang tidak ia kenali, dalam keputusasaan yang mendalam ia duduk di atas sebuah batu besar dan berdoa kepada roh leluhur agar dirinya ditenggelamkan ke dalam batu tersebut. Doanya, menurut kisah ini, dikabulkan.

Sejak saat itulah batu tersebut dikenal sebagai Batu-Ijan dan dianggap sebagai poton atau lii. Siapa pun yang lewat atau berlayar di dekatnya harus menjaga kesunyian—tidak boleh bersuara keras—dan kepala harus dalam keadaan terbuka, tanpa penutup. Pada masa wabah penyakit atau bencana lain yang menimpa wilayah itu, penduduk desa biasa mempersembahkan kurban di atas batu ini. Namun tidak sembarang orang boleh melakukannya; hanya mereka yang dianggap sebagai keturunan Ijan yang diyakini memiliki hak dan kemampuan untuk itu.


Ritual Persembahan Keturunan Ijan

Catatan ini juga menyertakan kisah asal-usul garis keturunan yang berhak melakukan persembahan di Batu-Ijan. Konon, di Lombagin dahulu hidup seorang pria yang lama tidak dikaruniai anak. Setelah berbagai upaya, ia akhirnya mempersembahkan sesaji kepada roh Ijan di atas batu tersebut, dan tak lama kemudian ia pun dikaruniai seorang anak. Keturunan dari anak inilah yang kemudian dianggap sebagai keturunan Ijan—satu-satunya kelompok yang persembahannya di Batu-Ijan dipercaya memiliki makna dan kekuatan.

Ritualnya sendiri digambarkan cukup spesifik: seorang keturunan Ijan akan datang ke batu itu, mempersembahkan kemenyan di atasnya, lalu berlayar dengan perahu menuju lokasi bekas Dusun Tondoga untuk melakukan persembahan kedua—melemparkan sebuah piring tanah liat putih, sejumlah kecil uang senilai dua puluh sen, dan sedikit beras yang telah dikupas ke laut, sambil membacakan doa kepada roh leluhur memohon pengampunan sekaligus berjanji untuk menebus kesalahan yang pernah terjadi.

Wilken dan Schwarz mencatat bahwa persembahan serupa juga pernah dilakukan pada tahun 1861, ketika hujan berkepanjangan dan badai yang terus-menerus membuat penduduk Bolaang terhalang selama beberapa minggu dalam kegiatan mencari ikan dan berkebun. Sayangnya, pada bagian ini naskah asli yang tersedia terputus sebelum menjelaskan secara lengkap peran Raja dalam peristiwa tersebut, sehingga detail lanjutannya tidak dapat kami sampaikan secara utuh di sini.


Membaca Legenda Ini Secara Kritis dan Berimbang

Kisah-kisah tentang Tanjung Nonapar, Tolutug, dan Batu-Ijan merupakan jejak sistem kepercayaan leluhur—penghormatan terhadap roh nenek moyang dan alam—yang hidup berdampingan dengan masuknya Islam di Bolaang Mongondow pada masa itu. Bagi masyarakat pesisir yang mewariskannya, kisah-kisah ini bukan sekadar cerita hiburan, melainkan bagian dari cara mereka memahami hubungan antara manusia, alam, dan leluhur.

Perlu diingat pula bahwa catatan ini ditulis oleh dua misionaris Kristen Belanda, yang secara terang-terangan menunjukkan sikap skeptis terhadap kepercayaan tersebut—misalnya ketika mereka menegaskan tidak menemukan udang, belut, atau aroma balsam di Tolutug. Sikap ini wajar mengingat latar belakang dan tujuan kunjungan mereka, namun sebagai pembaca masa kini, sebaiknya kita tidak menjadikan penilaian sepihak itu sebagai kesimpulan akhir. Legenda-legenda ini lebih tepat didudukkan sebagai warisan tradisi lisan yang bernilai budaya, yang idealnya juga ditelusuri lebih lanjut melalui sumber-sumber lisan dan pengetahuan masyarakat Bolaang Mongondow sendiri.


Tertarik dengan legenda dan situs sakral Nusantara lainnya? Bagikan artikel ini kepada teman-teman Anda yang mencintai sejarah dan cerita rakyat, atau tinggalkan komentar jika Anda mengetahui versi lain dari kisah Tanjung Nonapar, Tolutug, atau Batu-Ijan yang masih diingat masyarakat setempat hingga kini.


Referensi: Wilken, N.P. & Schwarz, J.A. "Verhaal eener reis naar Bolaang-Mongondou." Dalam Mededeelingen vanwege het Nederlandsch Zendelinggenootschap, Deel 11, 1867. Diakses melalui arsip digital Delpher.nl.

Disclaimer Akademik & Redaksional: Artikel ini merupakan adaptasi naratif dari dokumen sejarah kolonial yang telah dipublikasikan secara resmi dalam jurnal Mededeelingen vanwege het Nederlandsch Zendelinggenootschap (1867) dan didokumentasikan dalam arsip publik Delpher.nl. Kisah-kisah sakral yang dimuat di dalamnya—termasuk Tanjung Nonapar, Tolutug, dan Batu-Ijan—merupakan legenda dan kepercayaan tradisional (poton/lii) sebagaimana dituturkan kepada dua misionaris Belanda pada abad ke-19, dan bukan klaim ilmiah, geologis, atau historiografis yang telah terverifikasi. Sumber aslinya juga mencerminkan sudut pandang pengamat luar pada masa kolonial, sehingga tidak dapat dianggap sebagai representasi resmi atau tunggal dari kepercayaan masyarakat Bolaang Mongondow, baik pada masa itu maupun saat ini. Tim redaksi hanya mengalihbahasakan dan menata ulang narasi agar lebih mudah dibaca, tanpa mengubah substansi maupun menambahkan klaim baru di luar apa yang tercantum dalam sumber asli. Artikel ini disajikan semata untuk tujuan edukasi, dokumentasi budaya, dan pelestarian tradisi lisan, tanpa maksud merendahkan, mendiskreditkan, atau mengajak pembaca meyakini maupun mempraktikkan ritual tertentu sebagai kebenaran mutlak. Koreksi dan masukan dari pembaca, khususnya dari kalangan akademisi dan masyarakat Bolaang Mongondow, sangat kami hargai demi keakuratan dan kepekaan budaya bersama.

Reaksi Anda
Lebih baru Lebih lama
Jelajahi
Lainnya
Tulis Artikel Dukung Kami Meet Our Team