Masuk ke Pena Sehat
Gunakan akun Google Anda untuk mengakses semua fitur eksklusif
atau
Dengan masuk, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami
👋
Keluar dari akun?
Anda akan keluar dari sesi yang sedang aktif. Apakah Anda ingin melanjutkan?
NEW UPDATES
Memuat berita terbaru...
📢 BROADCAST

Terkuak Fakta dalam Catatan 1866: Misteri Kerajaan Kecil Bolaang Mongondow dan Pergeseran Keyakinan di Kaidipan

Sangkoeb, Bintaoeua, hingga Doemoga: Kerajaan-Kerajaan Kecil di Sekitar Bolaang Mongondou dalam Catatan 1866

Oleh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat


Menyusuri Kerajaan-Kerajaan Kecil di Sekeliling Bolaang Mongondou

Selain pusat kerajaan Bolaang itu sendiri, catatan perjalanan N.P. Wilken dan J.A. Schwarz tahun 1866 juga menyinggung sejumlah permukiman dan kerajaan kecil yang tersebar di sekitarnya. Sebagian dikunjungi langsung, sebagian lain hanya sempat mereka dengar ceritanya dari penduduk setempat. Catatan-catatan singkat ini justru memberi gambaran penting: wilayah kekuasaan Bolaang Mongondou pada masa itu bukanlah satu wilayah tunggal yang seragam, melainkan jaringan komunitas kecil dengan sejarah dan karakternya masing-masing.


Sangkoeb: Perjalanan yang Nyaris Terlewat

Salah satu catatan paling menarik datang dari kisah kunjungan ke Sangkoeb, yang oleh kedua penulis sendiri disebut sebagai "resolusi yang nyaris gagal". Dalam perjalanan menuju Bolango-Oeki, mereka rupanya sudah berada tepat di tengah rute menuju Sangkoeb tanpa menyadarinya—baru mengetahui hal itu beberapa hari kemudian, setelah mereka kembali ke Bolaang.

Sebelumnya, mereka hanya tahu ada sebuah desa bernama Sangkoeb, namun tidak mengetahui letak pastinya. Penduduk setempat membicarakannya seolah-olah desa itu berada di pegunungan dekat Mongondou, sehingga menurut pemahaman awal Wilken dan Schwarz, perjalanan ke Sangkoeb semestinya terhubung dengan perjalanan ke Mongondou. Ketika kesalahpahaman ini akhirnya disadari, mereka tetap memutuskan untuk pergi ke sana—sebuah keputusan yang disambut dengan antusiasme besar, terutama oleh Djogoegoe.

Secara geografis, Sangkoeb tidak dapat dicapai dengan perahu menyusuri sungai karena arusnya yang deras, sehingga penduduk biasa menempuh jalur darat. Jalan ini melintasi dataran berhutan lebat yang kerap tergenang sepenuhnya oleh sungai Sangkoeb saat musim hujan tiba. Desa ini termasuk wilayah Bolaiing dan didirikan khusus untuk menjaga perbatasan serta hutan sagu milik Raja Bolaang-Mongondou. Menurut laporan yang mereka terima, jumlah penduduknya berkisar antara 50 hingga 100 keluarga.


Bintaoeua dan Tiga Komunitasnya

Masih dalam wilayah kekuasaan Bolaang-Mongondou, Wilken dan Schwarz mencatat keberadaan Raja Bintaoeua yang memimpin sebuah kerajaan kecil terdiri atas tiga komunitas: Bintaoena, Baloedawa, dan Dolodoeo. Ketiganya jika digabungkan berjumlah sekitar 100 keluarga.


Doemoga: Tiga Desa di Ujung Perjalanan

Tidak jauh dari Dolodoeo, terdapat tiga desa yang dikenal dengan nama Doemoga—juga diucapkan sebagai Roemoga atau Loemoga tergantung dialek setempat. Ketiga desa tersebut adalah Tapatumpang, Mahag, dan Boeboengon, yang semuanya termasuk dalam wilayah kekuasaan Raja Bolaang-Mongondou.

Perjalanan menuju Doemoga digambarkan cukup berat. Dari Bintaoena, jalan menuju Doemoga tergolong buruk dan membutuhkan waktu tiga hari perjalanan mendaki gunung—sebuah gambaran nyata betapa terpencilnya sebagian wilayah kekuasaan Bolaang Mongondou pada masa itu.


Bolang-Itam dan Kaidipan: Jejak Kekristenan yang Memudar

Tidak jauh dari Bintaoena, terdapat pula Bolang-Itam dengan sekitar 50 rumah, serta dusun tetangganya, Kaidipan. Wilken dan Schwarz mencatat satu fakta sejarah yang cukup penting: di kedua kerajaan kecil ini dahulu pernah ada komunitas Kristen, yang kemudian berpindah memeluk Islam.

Menurut catatan tersebut, guru (pengajar agama) terakhir dibawa pergi dari Bolang-Itam oleh mendiang guru misionaris Hellendoorn pada tahun 1832, tanpa alasan yang jelas dicatat oleh penulis. Sebuah catatan kaki dalam naskah asli menambahkan bahwa dari laporan-laporan singkat Hellendoorn yang masih tersisa, terlihat bahwa ia sesekali mengunjungi Bolaiing, Bintaoena, dan Bolang-Itam, dan pada 1832 ia sempat melaporkan bahwa seorang guru telah ditempatkan kembali di sana.

Catatan ini singkat, namun menyiratkan bahwa lanskap keagamaan di kawasan Bolaang Mongondou pada abad ke-19 cukup dinamis—bukan gambaran tunggal yang statis, melainkan hasil dari berbagai proses sejarah, migrasi, dan interaksi antaragama yang terjadi jauh sebelum kunjungan Wilken dan Schwarz.


Nonapan: Permukiman yang Luput Dikunjungi

Di sebelah utara Bolaang, di antara Mariri dan Nanassi, terdapat satu permukiman lain yang sayangnya tidak sempat dikunjungi oleh Wilken dan Schwarz. Mereka baru mengetahui keberadaannya setelah waktu untuk berkunjung ke sana sudah tidak memungkinkan lagi.

Permukiman ini bernama Nonapan, dihuni sebagian besar oleh para emigran dari Minahasa. Menurut laporan yang mereka terima, terdapat sekitar 20 rumah dengan kurang lebih 40 keluarga di sana. Dari waktu ke waktu, penduduk dari distrik Passi juga masih datang ke tempat ini untuk membakar garam dan menangkap ikan.


Membaca Ulang: Peta Sosial dan Keagamaan di Sekitar Bolaang Mongondou

Rangkaian catatan singkat ini, meski hanya berupa sekilas informasi geografis dan jumlah penduduk, sesungguhnya menyingkap satu hal penting: Bolaang Mongondou pada 1866 bukanlah wilayah tunggal yang homogen, melainkan gabungan dari berbagai komunitas kecil dengan sejarah, jarak tempuh, dan latar belakang keagamaannya masing-masing—mulai dari desa penjaga perbatasan seperti Sangkoeb, kerajaan kecil seperti Bintaoeua dan Doemoga, hingga wilayah dengan riwayat perpindahan agama seperti Bolang-Itam dan Kaidipan.

Khusus mengenai catatan tentang komunitas Kristen yang kemudian memeluk Islam di Bolang-Itam dan Kaidipan, penting bagi pembaca masa kini untuk menempatkannya sebagai satu keping sejarah yang ditulis dari sudut pandang misionaris Kristen, sehingga sudut pandang tersebut wajar memiliki kepentingannya sendiri. Proses perpindahan keyakinan dalam sejarah suatu wilayah umumnya kompleks dan dipengaruhi banyak faktor sosial, politik, dan personal, sehingga sebaiknya tidak dibaca secara sepihak dari satu sumber saja. Artikel ini menyajikan catatan tersebut apa adanya, semata sebagai dokumentasi sejarah, tanpa bermaksud memihak atau menilai salah satu keyakinan sebagai lebih benar dari yang lain.


Tertarik menelusuri sejarah kerajaan-kerajaan kecil Nusantara lainnya? Bagikan artikel ini kepada teman-teman Anda yang mencintai sejarah, atau tinggalkan komentar jika Anda memiliki informasi tambahan tentang Sangkoeb, Bintaoeua, Doemoga, Bolang-Itam, Kaidipan, atau Nonapan pada masa kini.


Referensi: Wilken, N.P. & Schwarz, J.A. "Verhaal eener reis naar Bolaang-Mongondou." Dalam Mededeelingen vanwege het Nederlandsch Zendelinggenootschap, Deel 11, 1867. Diakses melalui arsip digital Delpher.nl.

Disclaimer Akademik & Redaksional: Artikel ini merupakan adaptasi naratif dari dokumen sejarah kolonial yang telah dipublikasikan secara resmi dalam jurnal Mededeelingen vanwege het Nederlandsch Zendelinggenootschap (1867) dan didokumentasikan dalam arsip publik Delpher.nl. Sumber aslinya ditulis oleh dua misionaris Belanda pada abad ke-19 dan mencerminkan sudut pandang, kepentingan, serta keterbatasan pengetahuan pada zamannya, termasuk dalam menyampaikan riwayat perpindahan keyakinan di sebagian wilayah yang disebutkan. Artikel ini tidak dimaksudkan untuk memihak, merendahkan, atau mendiskreditkan agama, keyakinan, maupun kelompok masyarakat mana pun, baik Islam, Kristen, maupun kepercayaan lainnya, dan tidak mewakili posisi resmi pemerintah daerah, lembaga adat, maupun kelompok masyarakat tertentu. Tim redaksi hanya mengalihbahasakan dan menata ulang narasi asli agar lebih mudah dibaca, tanpa mengubah substansi maupun menambahkan klaim baru di luar apa yang tercantum dalam sumber. Artikel ini disajikan untuk tujuan edukasi dan dokumentasi sejarah semata. Koreksi dan masukan dari pembaca, khususnya dari kalangan akademisi dan masyarakat Bolaang Mongondow, sangat kami hargai demi keakuratan dan keberimbangan bersama.

Reaksi Anda
Lebih baru Lebih lama
Jelajahi
Lainnya
Tulis Artikel Dukung Kami Meet Our Team