👋
Keluar dari akun?
Anda akan keluar dari sesi yang sedang aktif. Apakah Anda ingin melanjutkan?
NEW UPDATES
Memuat berita terbaru...
📢 BROADCAST

Fabel Trickster Terpanjang dari Sulawesi Utara: Kera yang Menipu Tiga Kali, Tewas di Tipuan Sendiri

Kera, Pelatuk, dan Hiu: Fabel Trickster Terpanjang dari Bolaang Mongondow yang Berakhir Tragis

Oleh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat


Satu Kera, Tiga Korban, Satu Akhir yang Pantas

Ada cerita yang cuma butuh satu adegan untuk sampai ke pesan moralnya. Dan ada cerita seperti ini — panjang, berliku, penuh tokoh yang bergantian jadi korban dan pelaku. Naskah kuno Bolaang Mongondow menyimpan salah satu fabel bolai (kera) paling ambisius yang pernah dituturkan: tiga babak, tiga korban, dan satu kera yang rasanya tak pernah kehabisan akal — sampai akal itu sendiri yang menjatuhkannya.

Tokohnya lengkap: si kera licik, bolingongo' (burung pelatuk) yang jadi teman seperjalanan, dan kamboleng (hiu) yang jadi korban paling malang. Panggungnya berpindah tiga kali — dari tengah laut, ke bibir pantai, sampai ke puncak pohon beringin tempat semuanya, akhirnya, tuntas.


Ajakan Memancing yang Berakhir Sial

Semua bermula dari ajakan sederhana. Kera mengajak pelatuk memancing bersama esok hari, dan pelatuk — tanpa curiga apa pun — mengiyakan. Begitu hari tiba, keduanya bersiap ala kadarnya: sebatang rotan ditebang jadi joran, sebuah periuk sagu disulap jadi perahu, sebutir kelapa muda dibawa sebagai bekal. Lalu mereka mendayung ke perairan Modedeg, tempat ikan-ikan konon banyak berkumpul.

Sayangnya, hari itu laut sedang tidak bersahabat pada mereka. Kail dilempar berkali-kali, ditunggu sampai matahari bergeser tinggi ke atas kepala — namun tak seekor ikan pun mau menyambar.


Kelapa yang Menjadi Sebab Petaka

Perut boleh kosong, tapi tenggorokan kera yang lebih dulu protes. Ia mengeluh haus. Pelatuk, ingin membantu, mengusulkan satu-satunya cara yang mereka punya: pecahkan saja kelapa itu langsung di dalam periuk sagu, karena tak ada parang atau batu untuk membelahnya di tengah laut.

Kera menurut begitu saja — dan detik itu juga ia menyesalinya. Periuk sagu yang jadi perahu mereka retak, lalu pecah, lalu perlahan tenggelam membawa keduanya bersamanya.


Pelatuk Terbang, Kera Ditinggal Sendirian

Di sinilah persahabatan itu diuji, dan gagal total. Begitu perahu mulai karam, pelatuk tak menunggu satu detik pun — sayapnya membentang, dan ia melesat pergi. Sambil terbang menjauh, ia sempat-sempatnya melantunkan pantun sindiran: soal burung yang bisa pergi ke mana pun ia mau, sementara kera hanya bisa tenggelam di tempatnya berdiri. Lalu pelatuk hinggap tenang di puncak sebuah pohon, seolah tak pernah kenal siapa yang baru saja ia tinggalkan.

Kera pun berjuang sendirian di tengah laut. Tenggelam, muncul lagi, tenggelam lagi — sampai tak terhitung berapa banyak air asin yang terpaksa ia telan.


Muslihat "Hatiku Ada di Darat"

Ketika tenaga kera nyaris habis, muncul sesosok yang jauh lebih besar dari masalahnya sekarang: seekor kamboleng sebesar tong beras, berenang mendekat dengan santai. "Sekarang giliranku memakanmu, kera," katanya, seolah semuanya sudah selesai.

Tapi kera, dengan ketenangan yang aneh untuk seseorang yang sedang hampir jadi santapan, malah balik bertanya:

"Tunggu dulu — bagian tubuhku yang mana yang paling kau incar?"

Hiu, tanpa curiga sedikit pun, menjawab jujur: hatinyalah yang paling ia idamkan. Dan di situ juga jebakan kera mulai bekerja:

"Hatiku, hiu, tidak kubawa ke laut. Ia tersimpan di sebelah timur, di daratan sana. Antar aku ke sana, biar kita ambil bersama-sama."

Hiu percaya begitu saja. Ia membiarkan kera naik ke punggungnya, lalu berenang membawa penumpangnya menuju garis pantai — tanpa tahu bahwa ia sedang mengantar dirinya sendiri ke ujung hidupnya.


Diikat di Pantai, Ditinggal Mati

Begitu kaki kera menjejak pasir, hiu yang masih menunggu di air langsung menagih janji. Tapi kera punya alasan baru: "Tunggu sebentar — biar kuikat dulu badanmu, siapa tahu nanti kau berubah pikiran." Hiu, yang sejak awal memang terlalu percaya, tak banyak membantah. Ia membiarkan tubuhnya dililit rotan nanga, togisi, dan ombol, sampai benar-benar tak bisa bergerak.

Begitu ikatan itu diuji dan terbukti kencang, kera berhenti berpura-pura baik. Sambil bersenandung mengejek — "Aku, kera, tetap hidup, tapi kaulah yang akan mati!" — ia membiarkan hiu itu meronta sia-sia sampai napasnya benar-benar habis.


Babak Kedua: Menipu Para Pembuat Garam

Satu korban rupanya belum cukup. Kera lalu mendatangi sekelompok pembuat garam di pantai dan memberi kabar baik — ada bangkai hiu besar yang bisa mereka ambil, potong, lalu asapi untuk santapan. Para pembuat garam, tanpa curiga sedikit pun soal siapa yang sebenarnya membunuh hiu itu, langsung bekerja memotong dan mengasapi dagingnya.

Malam itu, setelah pengasapan selesai dan para pembuat garam tertidur pulas, kera diam-diam beraksi. Sedikit demi sedikit, ia mencuri daging asap itu sepanjang malam, membawanya naik ke puncak sebatang pohon beringin — tempat yang begitu tinggi sehingga tak mungkin ada manusia yang bisa memanjatnya.


Keserakahan yang Menagih Balasannya Sendiri

Pagi harinya, para pembuat garam terbangun dan mendapati daging asap mereka raib tanpa jejak. Mereka mencari ke sana kemari, sampai akhirnya mendongak ke puncak pohon beringin — dan menemukan kera di sana, terkantuk-kantuk, kekenyangan setelah semalaman sibuk mengangkut daging curian tanpa henti.

Kenyang dan kantuk itu ternyata jadi kelemahan yang tak pernah ia perhitungkan. Kera kehilangan pegangan, jatuh dari ketinggian, dan langsung ditangkap oleh orang-orang di bawah. Kepalanya dipukul sampai tak bernyawa. Para pembuat garam pun kembali ke pondok mereka, membawa pulang apa yang tersisa dari hasil kerja keras mereka sendiri.


Ketika Siasat Tak Lagi Bisa Menyelamatkan Diri Sendiri

Dari satu fabel ini kita melihat pola trickster yang paling lengkap dalam naskah: kera menipu pelatuk (atau mungkin sebaliknya, tergantung dari sisi mana kita membacanya), lalu menipu hiu, lalu menipu manusia — tiga korban dalam satu rangkaian licik yang tak pernah berhenti. Tapi kelicikan yang membuatnya bertahan sejauh itu, pada akhirnya, adalah kelicikan yang sama yang menjatuhkannya. Pola ini bukan hal asing dalam tradisi lisan Nusantara: siasat yang dipakai terus-menerus, tanpa jeda, cepat atau lambat akan bertemu batasnya sendiri.


Suka dengan kisah purba ini? Bagikan artikel ini kepada teman-teman Anda yang mencintai cerita rakyat Nusantara, atau tinggalkan like agar kami semangat menggali lebih banyak naskah kuno yang tersembunyi.


Referensi: Dunnebier, W. Bolaang Mongondowse Teksten, cerita No. 15 "Bolai, Bolingongo' bo Kamboleng" / "Aap, Specht en Haai". 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1953. Diterbitkan di bawah naungan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV).

Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan sumber primer yang disebutkan dalam referensi di atas. Seluruh alur cerita, nama tokoh (kera/bolai, burung pelatuk/bolingongo', dan hiu/kamboleng), serta detail peristiwa bersumber langsung dari teks asli dan terjemahan Belanda pada halaman yang dirujuk. Penulis menyajikan ulang cerita dalam gaya bahasa naratif yang lebih hidup agar mudah dinikmati pembaca modern, tanpa menambahkan tokoh, kejadian, maupun pesan moral eksplisit di luar apa yang tertera dalam sumber.

Reaksi Anda
Lebih baru Lebih lama
Jelajahi
Lainnya
Tulis Artikel Dukung Kami Meet Our Team