👋
Keluar dari akun?
Anda akan keluar dari sesi yang sedang aktif. Apakah Anda ingin melanjutkan?
NEW UPDATES
Memuat berita terbaru...
📢 BROADCAST

Asal-usul Desa Ayong Bolaang Mongondow dalam Naskah Belanda 1841

Auwn, Ajon, Auw: Jejak Nama Kolonial di Balik Desa Ayong, Bolaang Mongondow?

Oleh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat


Halaman arsip Handboek der Land- en Volkenkunde (1841) yang memuat deskripsi desa Auw, Auwn, Aja, Ajon, Ayong, di pesisir utara Celebes

Halaman 186 dari Handboek der Land- en Volkenkunde... (P.P. Roorda van Eysinga, 1841), memuat deskripsi ringkas desa "Auw, Auwn, Aja of Ajon" di pesisir utara Celebes.

Auwn, Ajon, Auw: Jejak Nama Kolonial di Balik Desa Ayong, Bolaang Mongondow?

Dalam khazanah arsip kolonial Belanda abad ke-19, banyak nama tempat di Nusantara dicatat dengan ejaan yang berbeda-beda dari satu penulis ke penulis lain, tergantung bagaimana telinga orang Eropa menangkap pelafalan penduduk lokal. Salah satu contohnya ditemukan dalam Handboek der Land- en Volkenkunde, Geschied-, Taal-, Aardrijks- en Staatkunde van Nederlandsch Indië, buku pegangan yang ditulis oleh P.P. Roorda van Eysinga dan diterbitkan di Amsterdam oleh L. van Bakkenes pada tahun 1841. Di antara deretan nama kampung pesisir utara Celebes (Sulawesi) yang termasuk wilayah Residentie Menado, tercatat sebuah desa yang disebut dengan empat variasi ejaan sekaligus: Auw, Auwn, Aja, dan Ajon. Kemiripan bunyi nama ini dengan nama Desa Ayong yang dikenal sekarang di wilayah Bolaang Mongondow membuka pertanyaan menarik yang layak ditelusuri secara filologis dan historis.


Temuan dalam Arsip: Deskripsi Desa Auw, Auwn, Aja, atau Ajon

Nama desa ini pertama kali muncul dalam daftar kampung-kampung di sebelah barat pesisir utara yang termasuk wilayah Residentie Menado, disebutkan berurutan bersama kampung Kema, Amoera, kerajaan Boelan, hingga "het dorp Auwn ofAja" (halaman 183). Deskripsi yang lebih rinci muncul beberapa halaman kemudian, dalam bagian yang secara khusus diberi judul "AUW." (halaman 186), berbunyi kurang lebih: desa itu terletak empat mil di sebelah barat Boelan, memiliki rede (tempat berlabuh) dengan kedalaman dua puluh depa yang menjadi dasar tambatan jangkar yang baik. Tanahnya digambarkan subur, tetapi penduduknya tidak padat, dan rumah-rumah penduduk terletak berjauhan satu sama lain. Dari Auwn, menurut naskah tersebut, terdapat jalan darat menuju Mogonde, dari mana jalan-jalan lain bercabang ke arah selatan wilayah dan ke danau pedalaman Gorontalo.

Desa ini juga disebut sebagai titik acuan jarak untuk kampung tetangga: Caudipan (juga disebut Kadipan), yang merupakan kerajaan kecil terbagi menjadi Dauw dan Boelan-Itam, dicatat berjarak tujuh belas mil dari Auwn (halaman 187). Secara geologis, naskah turut mencatat bahwa kawasan sekitar Amoera, Boelan, dan Auw termasuk daerah bertanah vulkanis, di mana pada tahun 1680 terjadi letusan hebat gunung yang disebut "Kemaas of Oesterbergen" yang membalikkan sebagian besar daratan di sekitarnya.


Auwn dan Nama Desa Ayong: Hipotesis, Bukan Kepastian

Penting untuk digarisbawahi secara akademis: naskah Handboek tahun 1841 ini tidak pernah menuliskan nama "Ayong" secara eksplisit. Ejaan yang muncul secara konsisten dalam dokumen hanyalah Auw, Auwn, Aja, dan Ajon. Dugaan bahwa nama-nama ini merujuk pada apa yang sekarang dikenal sebagai Desa Ayong di Bolaang Mongondow bersumber dari tradisi penamaan lokal yang beredar di kalangan masyarakat setempat, bukan dari pernyataan langsung di dalam arsip ini. Sebagai peneliti, sikap yang proporsional adalah memperlakukan kaitan Auwn–Ayong sebagai hipotesis toponimi yang masuk akal secara fonetis dan geografis, namun memerlukan verifikasi lebih lanjut melalui arsip tambahan, catatan misionaris, atau sumber lisan yang terdokumentasi.

Kehati-hatian semacam ini bukan tanpa alasan. Penulis-penulis Eropa era kolonial umumnya bukan penutur asli bahasa-bahasa lokal Sulawesi Utara, sehingga transliterasi nama tempat ke dalam ejaan Belanda kerap tidak konsisten — satu nama yang sama bisa muncul dengan beberapa varian ejaan bahkan dalam satu buku yang sama, seperti yang terlihat pada "Auw, Auwn, Aja, Ajon" ini sendiri. Pola inilah yang membuat toponimi kolonial menjadi bidang kajian filologis tersendiri: nama-nama itu adalah jejak pendengaran seorang penulis asing, bukan cerminan ejaan asli yang dipakai penduduk pada masanya.

Menariknya, dalam radius yang sama, naskah juga mencatat "Koningrijk Boelan" (Kerajaan Boelan) dan pegunungan sekaligus wilayah kekuasaan bernama "Mogonde," yang disebut berada di bawah kekuasaan Raja Boelan. Sungai Boelan sendiri dicatat memiliki dua cabang: satu berasal dari sebelah selatan pegunungan Mogonde, dan satu lagi dari pegunungan Dommoego, yang bertemu sekitar satu mil dari pantai. Kemiripan bunyi antara "Boelan" dan "Bolaang," serta antara "Mogonde" dan "Mongondow," turut menjadi bahan renungan filologis — meskipun sekali lagi, naskah ini sendiri tidak pernah menuliskan gabungan nama "Bolaang Mongondow" secara utuh, sehingga kaitan tersebut juga harus diperlakukan sebagai dugaan yang memerlukan penelitian lanjutan, bukan kesimpulan final.


Kesimpulan

Arsip Handboek der Land- en Volkenkunde (1841) memberikan gambaran geografis yang berharga tentang sebuah desa pesisir bernama Auw, Auwn, Aja, atau Ajon di utara Celebes, lengkap dengan rede berlabuh, kondisi tanah, dan jalur darat menuju pedalaman Mogonde. Namun demikian, penulis naskah ini tidak menyebut nama "Ayong," dan tidak pula menuliskan "Bolaang Mongondow" sebagai satu kesatuan nama. Karena itu, kaitan antara Auwn/Ajon dengan Desa Ayong, maupun antara Boelan–Mogonde dengan Bolaang Mongondow, sepatutnya disikapi sebagai hipotesis toponimi yang menjanjikan namun belum terbukti secara tekstual dari sumber ini saja. Penelitian lanjutan yang membandingkan arsip ini dengan sumber-sumber lain — termasuk catatan lisan, arsip gereja, maupun naskah kolonial lain yang lebih spesifik membahas Bolaang Mongondow — akan sangat membantu memperkuat atau mengoreksi dugaan ini.

Suka dengan kajian ini? Bagikan kepada kerabat Anda yang tertarik pada kajian sejarah dan arsip naskah kuno.


Referensi

  • Roorda van Eysinga, P.P. Handboek der Land- en Volkenkunde, Geschied-, Taal-, Aardrijks- en Staatkunde van Nederlandsch Indië. Amsterdam: L. van Bakkenes, 1841, hlm. 183, 186–187.
Disclaimer Akademik & Legal: Artikel ini merupakan hasil analisis akademis, filologis, dan rekonstruksi sejarah berdasarkan dokumen arsip primer/sekunder yang dirujuk. Seluruh kutipan dan interpretasi disajikan untuk tujuan edukasi, penelitian, dan ilmu pengetahuan sesuai dengan asas fair use serta peraturan perundang-undangan hak cipta yang berlaku. Analisis ini bersifat terbuka untuk diskusi ilmiah lanjutan.
Reaksi Anda
1Tulis 2Publish
Lebih baru Lebih lama
Jelajahi
Lainnya