👋
Keluar dari akun?
Anda akan keluar dari sesi yang sedang aktif. Apakah Anda ingin melanjutkan?
NEW UPDATES
Memuat berita terbaru...
📢 BROADCAST

Mengenal Tango-Tangoian: 12 Peribahasa Kuno Bolaang Mongondow Penuh Makna

Tango-Tangoian: 12 Peribahasa Kuno Bolaang Mongondow dan Maknanya

Oleh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat


Ketika Alam Berbicara: Mengenal Tango-Tangoian

Jauh sebelum ada buku pelajaran budi pekerti, masyarakat Bolaang Mongondow sudah punya caranya sendiri untuk menegur, memuji, atau sekadar bercanda: lewat perumpamaan. Dalam bahasa Mongondow, kebiasaan ini disebut tango-tangoian—kumpulan ungkapan dan pepatah yang nyaris selalu dibuka dengan kata "Na'", semacam kata pembanding yang berarti "bagaikan" atau "seperti". Setiap kali seseorang bersikap sombong, pemalu, atau riang gembira, selalu ada seekor hewan, sebatang pohon, atau sekeping alam yang dipinjam untuk menggambarkannya.

Koleksi paling lengkap dari warisan lisan ini terekam dalam naskah akademik Bolaang Mongondowse Teksten susunan W. Dunnebier, terbit tahun 1953 di bawah naungan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) di Belanda. Di bagian yang diberi judul "Tango-tangoian, Spreekwoorden, Gezegden" (halaman 171–183), tercatat lebih dari 200 ungkapan bernomor, lengkap dengan penjelasan makna dan konteks pemakaiannya. Sedikit catatan bahasa: naskah ini masih memakai ejaan lama—huruf "oe" dibaca seperti "u", dan tanda petik tunggal (seperti pada linta' atau oelag) menandai bunyi hambat glotal, ciri khas fonetik Mongondow.

Dari ratusan ungkapan tersebut, berikut 12 yang dipilih karena maknanya masih sangat terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari—mulai dari sifat manusia sampai gambaran rasa syukur dan bahagia.


12 Peribahasa Mongondow dan Maknanya

1. Sombong berlebihan
"Oeangga mointok ileagan i leag moloben."
Makna harfiah: perahu kecil yang dipasangi layar besar. Dipakai untuk menyindir orang yang gaya bicaranya besar, padahal kemampuan sesungguhnya jauh lebih kecil dari yang ditampilkan.

2. Pemalu, gampang menutup diri
"Na' poere' kinoliaian."
Makna harfiah: bagaikan kerang yang tersentuh. Begitu disinggung sedikit saja, orangnya langsung menarik diri—persis kerang yang menutup cangkangnya saat disentuh.

3. Pemarah, mudah tersulut
"Na' inipoe'an in tagoi."
Makna harfiah: bagaikan digosok dengan daun jelatang. Kemarahannya digambarkan panas dan menyengat, persis rasa gatal terbakar akibat daun jelatang.

4. Keras kepala, tak mempan dinasihati
"Na' nogoeman kom batoe."
Makna harfiah: bagaikan berbicara pada batu. Untuk orang yang nasihatnya masuk telinga kanan keluar telinga kiri, sekeras apa pun disampaikan.

5. Sederhana namun mandiri
"Nongoeloen bo noniol kom bojo' im batangan."
Makna harfiah: tempat merebahkan kepala dan meluruskan kaki adalah milik sendiri. Semangatnya mirip ungkapan Indonesia "kaki sendiri, tanah sendiri"—hidup boleh sederhana, asal berdiri di atas usaha sendiri.

6. Kecantikan yang memesona
"Na' boelan kotoeloed."
Makna harfiah: bagaikan bulan purnama. Pujian klasik untuk paras yang bersinar sempurna, dipakai lintas budaya Nusantara dengan citra serupa.

7. Kebahagiaan yang meluap
"Na'-don kabalo nokoloeai kong koeroeng."
Makna harfiah: bagaikan kuda yang berhasil lolos dari kandang. Melukiskan kegembiraan dan rasa bebas yang meletup-letup, sulit dibendung.

8. Rakus, tamak
"Na' toera' i oengkoe'."
Makna harfiah: bagaikan lahapnya seekor anjing. Sindiran untuk orang yang mengambil sesuatu secara berlebihan tanpa peduli sekitarnya.

9. Tubuh yang sangat kurus
"Na' tolokaian."
Makna harfiah: bagaikan kadal hijau besar—tubuh panjang dan kurus, mengacu pada bentuk kadal pohon yang ramping memanjang.

10. Terkejut bercampur ngeri
"Na' tongkai notomoe ko nolomot."
Makna harfiah: bagaikan bertemu dengan orang yang tenggelam. Menggambarkan keterkejutan mendalam yang datang tiba-tiba, disertai rasa ngeri.

11. Tak berguna, pemalas
"Na' pitow inta bangkoeng."
Makna harfiah: bagaikan parang yang sudah tua dan tumpul. Menurut catatan Dunnebier, ungkapan ini juga lazim disematkan kepada orang yang pemalas.

12. Selalu mengoceh atau tak pernah diam
"Na'tongkai-don ajoi bembe'."
Makna harfiah: bagaikan rahang kambing. Untuk orang yang mulutnya nyaris tak pernah berhenti bergerak—entah mengunyah, entah berceloteh.


Kearifan yang Tak Lekang oleh Zaman

Yang menarik dari tango-tangoian adalah caranya menilai perangai manusia tanpa harus menghakimi secara langsung. Alih-alih berkata "kamu sombong", orang Mongondow zaman dulu cukup menyebut "layar besar di perahu kecil"—pesan tersampaikan, tapi dengan cara yang lebih halus dan bahkan menghibur. Dari 12 yang dibahas di sini, masih ada ratusan lagi tersimpan dalam naskah Dunnebier, mencakup topik-topik lain yang belum sempat diangkat. Melestarikan ungkapan semacam ini bukan sekadar urusan bahasa, melainkan juga menjaga cara pandang leluhur terhadap alam dan sesama tetap hidup di tengah generasi yang kian jauh dari kebun dan hutan tempat perumpamaan ini lahir.


Suka dengan kearifan leluhur ini? Bagikan artikel ini kepada teman-teman Anda yang mencintai budaya Nusantara, atau tinggalkan like agar kami semangat menggali lebih banyak naskah kuno yang tersembunyi.


Referensi: Dunnebier, W. Bolaang Mongondowse Teksten, bagian "Tango-tangoian, Spreekwoorden, Gezegden", hlm. 171–183 (nomor 16, 23, 34, 38, 61, 68, 71, 73, 81, 96, 97, 106). 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1953. Diterbitkan di bawah naungan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV), teks asli dan terjemahan Belanda dikumpulkan langsung dari informan setempat oleh penulis pada pertengahan abad ke-20.

Disclaimer Akademik & Redaksional: Artikel ini adalah karya adaptasi dari khazanah peribahasa lisan (tango-tangoian) masyarakat Bolaang Mongondow yang telah didokumentasikan secara akademis dalam sumber primer di atas—bukan opini redaksi maupun klaim ilmiah baru. Peribahasa-peribahasa ini adalah ekspresi budaya tradisional milik komunal masyarakat adat Bolaang Mongondow, bukan ciptaan individu maupun milik penulis atau redaksi Pena Sehat. Padanan makna dalam Bahasa Indonesia pada artikel ini merupakan hasil alih bahasa penulis dari terjemahan Belanda karya Dunnebier (bukan terjemahan langsung dari bahasa Mongondow), sehingga nuansa aslinya mungkin tidak seratus persen sama persis. Dari lebih 200 ungkapan yang tercatat dalam naskah asli, penulis hanya memilih 12 yang dinilai paling sesuai untuk pembaca umum; sejumlah ungkapan lain sengaja tidak dimuat karena memuat rujukan kelompok etnis tertentu atau bahasa yang oleh sumber aslinya sendiri sudah ditandai sebagai kasar/tidak pantas. Pembaca yang ingin menelusuri daftar lengkap dipersilakan merujuk langsung pada sumber primer di atas.

Reaksi Anda
1Tulis 2Publish
Lebih baru Lebih lama
Jelajahi
Lainnya