NEW UPDATES
Memuat berita terbaru...

Kisah Wintu-Wintu: Cerita Rakyat Desa Ayong tentang Raja dari Laut dan Asal-usul Nama Ayong

Oleh: Renaldi Abidin
Editor: Tim Pena Sehat


Kisah Raja Wintu wintu
Gambar Ilustrasi AI

Di sebuah kampung pesisir bernama Desa Ayong, terdapat sebuah kisah yang terus hidup dalam ingatan masyarakatnya. Kisah ini tidak hadir sebagai catatan sejarah tertulis, melainkan sebagai cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut, dikenang oleh para tetua, dan diceritakan kembali kepada anak cucu sebagai bagian dari memori kolektif desa.

Menurut penuturan masyarakat, Desa Ayong adalah kampung yang memiliki banyak wajah dalam cerita. Setiap orang yang singgah atau mendengar kisah tentang Ayong, sering kali menangkapnya dengan sudut pandang yang berbeda. Namun, ada satu cerita yang hampir selalu disebut ketika orang-orang tua berkumpul dan mengenang masa lampau.

Gelombang dari Laut dan Lelaki Asing

Dalam cerita yang diwariskan secara lisan, pada suatu masa lampau sekelompok orang tengah duduk di bawah pohon ketapang di pesisir. Mereka berbincang tentang masa kecil, tentang hari-hari yang telah lama berlalu. Tiba-tiba, salah seorang dari mereka melihat gelombang laut yang tidak biasa, bergerak ke arah pantai.

“Lihatlah, ada yang sedang menuju kemari,” kata salah seorang sambil menunjuk ke arah laut.

Rasa penasaran membuat mereka mendekat ke bibir pantai. Dari kejauhan, tampak sosok seorang lelaki yang berenang menuju daratan.

“Bukankah itu seorang manusia?” ujar seorang nelayan, memicingkan mata.

Namun perhatian mereka tertuju pada sesuatu yang mengejar lelaki tersebut. Salah seorang di antara mereka bertanya dengan nada cemas, sambil menggenggam sebilah parang, “Apa yang mengejarnya?”

Menurut cerita para tetua, mereka kemudian menyadari bahwa makhluk itu adalah ikang Wintu-wintu, sejenis ikan besar yang dikenal masyarakat pesisir. Mereka berteriak memperingatkan lelaki itu agar waspada.

Di Bibir Pantai Ayong

Sampailah lelaki tersebut di bibir pantai. Dalam ingatan kolektif masyarakat, lelaki itu tampak kebingungan. Ia bertanya kepada orang-orang yang menyambutnya, “Saya berada di mana?”

“Kamu berada di Desa Ayong,” jawab salah seorang nelayan.

Nama itu terdengar asing baginya. Lelaki tersebut bukan orang biasa, sebagaimana kemudian diceritakan dalam kisah lisan masyarakat. Ia kelak dikenang sebagai cikal bakal seorang raja. Karena peristiwa pengejaran di laut itulah, masyarakat pesisir memberi gelar kepadanya sebagai Raja Wintu-Wintu.

Raja, Perselisihan, dan Sumpah

Dalam penuturan yang berkembang di kalangan masyarakat, beberapa tahun kemudian kerajaan yang dipimpin raja tersebut tumbuh dan melahirkan suku baru yang dikenal sebagai suku Bolango, lengkap dengan bahasa mereka sendiri.

Namun, kisah ini juga menyimpan bagian yang getir. Diceritakan bahwa pernah terjadi perselisihan antara sang raja dan masyarakatnya. Dalam kekecewaan, sang raja memilih meninggalkan kampung tersebut.

Sebelum pergi, menurut cerita yang dikenang para tetua, sang raja mengucapkan sumpah dengan kata-kata yang masih diingat hingga kini: “Amubeye da'o moayongao .”

Ucapan itu dimaknai masyarakat sebagai ungkapan kekecewaan yang mendalam. Raja pergi, sementara masyarakat memilih tetap tinggal di kampung mereka.

Makna Nama Ayong

Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, nama Ayong kemudian dilekatkan pada kampung tersebut. Kata itu dipahami berasal dari sumpah sang raja, yang dimaknai sebagai “begitu-begitu saja”.

Hingga hari ini, sebagaimana dipercaya sebagian masyarakat, sumpah itu masih melekat dalam ingatan kolektif suku Bolango. Ada keyakinan yang hidup bahwa anak cucu suku Bolango akan sulit meraih keberhasilan jika menetap di Ayong. Keyakinan ini tidak disampaikan sebagai kepastian, melainkan sebagai bagian dari kepercayaan yang tumbuh bersama cerita.

Jejak yang Dikenang

Dalam kisah lisan yang beredar, sang raja melanjutkan perjalanannya hingga ke daerah Sauk dan kemudian ke wilayah selatan Bolaang Mongondow, tempat ia mendirikan kerajaan yang dikenal sebagai Kerajaan Bolaang Uki. Di sanalah garis keturunan dan pengaruh suku Bolango terus berkembang, sebagaimana diceritakan dari generasi ke generasi.

Sementara itu, masyarakat Ayong memilih menjaga ingatan tentang lelaki yang pernah tiba dari laut. Sebagai penanda kenangan tersebut, mereka menamai lapangan desa sebagai Lapangan Wintu-Wintu, agar anak cucu tetap mengingat kisah yang telah lama hidup di kampung pesisir itu.

Penutup

Kisah Wintu-Wintu bukan sekadar cerita tentang seorang raja atau asal-usul nama kampung. Ia adalah cermin bagaimana masyarakat Ayong memaknai masa lalu, kekecewaan, pilihan hidup, dan identitas. Cerita ini hidup bukan karena tertulis, melainkan karena terus diceritakan.

Di situlah nilai utamanya: sebagai warisan tutur yang menjaga ingatan kolektif, sekaligus mengajarkan bahwa sebuah kampung bukan hanya tanah tempat tinggal, tetapi ruang makna yang dibentuk oleh cerita-cerita yang dipercaya dan dikenang bersama.


Sumber Cerita:
Wawancara dan penuturan lisan beberapa tokoh masyarakat Desa Ayong.
Catatan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun.

Disclaimer Budaya & Akademik:
Artikel ini disusun berdasarkan tradisi lisan dan penuturan masyarakat sebagai bagian dari khazanah budaya lokal. Cerita yang disajikan tidak dimaksudkan sebagai catatan sejarah akademik atau kebenaran faktual yang bersifat mutlak, melainkan sebagai dokumentasi narasi budaya yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat Desa Ayong, sebagaimana diwariskan melalui ingatan kolektif dan cerita turun-temurun.

Lebih baru Lebih lama