NEW UPDATES
Memuat berita terbaru...

Tarjamah dan Sirah dalam Sastra Arab: Perkembangan Biografi hingga Sirah Nabawiyah

Oleh: Arun Algaus
Editor: Tim Pena Sehat

Gambar Ilustrasi

Bab ini membahas al-siyar (السير) dalam sastra Arab, dengan penekanan pada perbedaan antara al-tarjamah dan al-sīrah, perkembangan penulisan sīrah tokoh-tokoh Islam, serta posisi sīrah Nabawiyyah dalam tradisi keilmuan Islam. Uraian disusun berdasarkan penggunaan istilah, kebiasaan para sejarawan, serta contoh karya yang disebutkan secara langsung dalam teks.

Perbedaan antara Tarjamah dan Sīrah

Teks menyatakan bahwa dari sisi bahasa tidak terdapat perbedaan yang tegas antara istilah al-tarjamah dan al-sīrah. Penentuan perbedaan di antara keduanya ditetapkan oleh istilah dan kebiasaan pemakaian. Para sejarawan terbiasa menggunakan istilah tarjamah apabila penulisan riwayat seseorang dilakukan secara ringkas dan tidak panjang. Apabila penulisan tersebut meluas dan panjang, maka disebut sebagai sīrah.

Penggunaan istilah sīrah pertama kali dikenal dalam penulisan sīrah Rasulullah ﷺ. Para penulis yang mengkhususkan diri dalam bidang ini dikenal sebagai aṣḥāb al-siyar. Namun demikian, teks mencatat bahwa pada akhir abad ketiga Hijriah, Ahmad ibn Yūsuf ibn al-Dāyah, seorang penulis Mesir, menulis sebuah kitab tentang sīrah Aḥmad ibn Ṭūlūn. Peristiwa ini disebut sebagai perpindahan penggunaan istilah sīrah dari sīrah Nabi kepada sīrah tokoh selain Nabi.

Perkembangan Penulisan Sīrah Tokoh

Pada awal abad keempat Hijriah, setelah karya Ibn al-Dāyah, muncul sejarawan bernama ‘Abd Allāh al-Balawī. Teks menyebutkan bahwa al-Balawī mengkritik metode penulisan sīrah Ibn al-Dāyah karena dianggap tidak tersusun rapi, mencampuradukkan berita, serta tidak mengikuti cara penulisan sejarah yang lazim. Al-Balawī kemudian menulis sīrah Aḥmad ibn Ṭūlūn dengan metode yang menurutnya lebih tepat untuk penulisan sīrah tokoh.

Teks menjelaskan bahwa al-Balawī menggunakan pendekatan analisis peristiwa, penjelasan sebab-sebabnya, serta komentar pribadi terhadap peristiwa tersebut. Meskipun demikian, ia tetap meriwayatkan berita dengan metode isnād sebagaimana yang dilakukan oleh para ahli hadis dan penulis kitab ṭabaqāt pada abad kedua dan ketiga Hijriah.

Sīrah Para Penguasa dan Tokoh Besar

Pada abad kelima Hijriah, teks mencatat munculnya penulisan sīrah tokoh penakluk Islam, yaitu Sultan Maḥmūd al-Ghaznawī yang menyebarkan Islam di India dan wilayah sekitarnya. Abu al-Naṣr al-‘Utbī (w. 427 H), seorang penulis yang memiliki kedudukan tinggi dalam bahasa Arab, menyusun kitab al-Yamīnī, yang dinamai berdasarkan gelar Sultan Maḥmūd, yaitu Yamīn al-Dawlah.

Kitab tersebut memuat sīrah Sultan Maḥmūd al-Ghaznawī dan ayahnya, Sultan Sabuktakīn, serta mencakup berbagai informasi sejarah penting yang dibutuhkan oleh sejarawan pada masa tersebut. Teks menyebutkan bahwa kitab ini ditulis dengan gaya bersajak, sebagaimana dilakukan oleh al-Tha‘ālibī dalam karyanya.

Teks juga mencatat bahwa sīrah Sultan Maḥmūd ini mendapatkan sambutan luas di dunia Islam sehingga mendorong para ulama untuk menyusunnya dalam bentuk syarah. Di antara yang disebutkan adalah Aḥmad al-Manīnī al-Dimashqī (w. 1172 H) dalam karyanya al-Fatḥ al-Wahī, serta penulis lain seperti al-Kirmānī, al-Ḥawārizmī, Ibn Maḥfūẓ, dan Ḥamīd al-Dīn.

Sīrah pada Abad Keenam Hijriah

Pada abad keenam Hijriah, teks menyebutkan karya-karya sīrah yang ditulis oleh Ibn al-Jawzī. Ia menulis sīrah Khalifah ‘Umar ibn al-Khaṭṭāb رضي الله عنه, yang mencakup berita-berita, keutamaan, kebijakan pemerintahan, serta pembentukan administrasi negara Islam. Dalam penulisannya, Ibn al-Jawzī menggunakan metode isnād.

Ibn al-Jawzī juga menulis sīrah Khalifah ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Azīz, serta sīrah Imām Aḥmad ibn Ḥanbal yang memuat pembahasan tentang kehidupannya, ujian yang dialaminya dalam peristiwa khalq al-Qur’ān, serta murid-muridnya. Metode penulisan yang digunakan tetap mengikuti sistem isnād.

Teks menyebutkan pula sīrah yang ditulis oleh Fakhr al-Dīn al-Rāzī (w. 606 H) tentang Imām al-Shāfi‘ī dan keutamaannya. Keseluruhan karya ini disebut mencerminkan kecenderungan sejarawan abad tersebut dalam mencari teladan luhur dalam kepemimpinan dan pemahaman agama melalui tokoh-tokoh Islam terdahulu.

Perubahan Arah Penulisan Sīrah

Teks menyatakan bahwa pada abad ketujuh, kedelapan, dan kesembilan Hijriah, penulisan sīrah tokoh masa lampau mulai berkurang. Sebagai gantinya, muncul sīrah tokoh-tokoh yang masih hidup, khususnya para raja, sultan, dan pendiri negara, serta sīrah ulama sezaman.

Contoh yang disebutkan antara lain karya Ibn Shaddād (w. 632 H) tentang Ṣalāḥ al-Dīn al-Ayyūbī, karya Muḥammad ibn Aḥmad al-Nasawī (w. 639 H) tentang Sultan Jalāl al-Dīn Mankubirtī, serta karya Ibn ‘Arabshāh (w. 845 H) tentang Tīmūr Lenk. Disebutkan pula karya Ibn Shuhayd al-Dimashqī, Muḥyī al-Dīn ibn ‘Abd al-Ẓāhir, serta beberapa sīrah ulama dan tokoh sufi.

Teks menegaskan bahwa secara umum, karya-karya sīrah ini mengikuti pola lama, yaitu penyebutan berita dan keutamaan disertai isnād, sehingga sering kali tampak kesamaan antara satu karya dengan karya lainnya.

Sīrah Nabawiyyah sebagai Bidang Khusus

Teks menjelaskan bahwa sīrah Nabi ﷺ pada awalnya merupakan bagian dari hadis Nabi, yang disusun dalam bab-bab seperti al-jihād wa al-siyar atau al-maghāzī. Seiring waktu, muncul sejarawan khusus sīrah yang mengumpulkan dan meriwayatkan peristiwa kehidupan Nabi secara tersendiri.

Penulisan sīrah Nabawiyyah tidak terbatas pada satu wilayah. Teks menyebutkan para sejarawan sīrah dari Madinah, Makkah, Bashrah, Kufah, dan Yaman, termasuk di antaranya ‘Urwah ibn al-Zubayr, Mūsā ibn ‘Uqbah, Muḥammad ibn Isḥāq, al-Wāqidī, Ibn Shihāb al-Zuhrī, serta Wahb ibn Munabbih.

Sīrah Nabi ﷺ yang sampai kepada umat Islam saat ini adalah sīrah yang disusun oleh ‘Abd al-Malik ibn Hishām berdasarkan riwayat gurunya, Ibn Isḥāq. Teks menegaskan bahwa meskipun dikenal sebagai sīrah Ibn Hishām, peran Ibn Isḥāq sebagai perawi utama tidak dapat diabaikan.

Kritik terhadap Ibn Isḥāq dan Peran Ibn Hishām

Teks menyebutkan bahwa sebagian sejarawan sīrah menghilangkan isnād demi ringkasan dan kesinambungan peristiwa, sebagaimana dilakukan oleh Ibn Isḥāq dan al-Wāqidī. Hal ini mengundang kritik dari para ahli hadis. Ibn Isḥāq secara khusus mendapat kritik karena tidak selalu memenuhi syarat periwayatan hadis.

Teks menjelaskan bahwa Ibn Isḥāq menerima riwayat dari sumber tertulis dan menerima syair yang berkaitan dengan peristiwa sīrah tanpa seleksi ketat. Ibn al-Nadīm dalam al-Fihrist menyebut bahwa sebagian syair dimasukkan ke dalam karyanya sehingga menimbulkan kritik di kalangan ulama.

Ibn Hishām, sebagai penyusun sīrah, disebut lebih teliti dan berhati-hati. Ia mengomentari syair, mengoreksi lafaz, menjelaskan kata-kata yang sulit, menyebutkan riwayat lain, serta menghapus bagian-bagian yang dianggap tidak pantas dimasukkan dalam sīrah Nabi ﷺ.

Kelanjutan Penulisan Sīrah Nabawiyyah

Teks mencatat bahwa setelah Ibn Hishām, para sejarawan terus menulis sīrah Nabawiyyah dalam berbagai bentuk, baik sebagai karya mandiri maupun sebagai bagian dari kitab sejarah umum. Di antara mereka disebutkan al-Ṭabarī, Ibn al-Jawzī, Ibn al-Athīr, al-Dhahabī, Ibn Kathīr, dan al-Diyārbakrī.

Teks juga menyebutkan adanya karya syarah, ringkasan, dan pelengkap terhadap sīrah Ibn Hishām, termasuk karya al-Suhaylī al-Rawḍ al-Unuf, yang dipandang sebagai penjelasan mendalam atas sīrah tersebut.

Penutup

Uraian dalam bab ini menunjukkan bagaimana penulisan al-siyar berkembang dalam tradisi sastra Arab-Islam, mulai dari perbedaan istilah dengan al-tarjamah, penulisan sīrah tokoh-tokoh besar, hingga posisi sīrah Nabawiyyah sebagai fondasi utama dalam historiografi Islam.


Referensi

Funnūn al-Adab al-‘Arabī: al-Fann al-Qaṣaṣī – al-Tarājim wa al-Siyar, karya kolektif para sastrawan dari berbagai negeri Arab, halaman 27–34.

Disclaimer Akademik

Artikel ini disusun berdasarkan naskah kitab فنون الأدب العربي – الفن القصصي – التراجم والسير (halaman 27–34) sebagai sumber utama. Penulisan dilakukan dengan pengolahan ulang naratif-deskriptif tanpa penambahan, pengurangan, atau penafsiran di luar makna teks asli. Untuk keperluan akademik dan pemahaman yang lebih mendalam, pembaca disarankan merujuk langsung kepada naskah asli kitab tersebut.

Lebih baru Lebih lama