Oleh: Arun Algaus
Editor: Tim Pena Sehat
![]() |
| Gambar Ilustrasi |
Pendahuluan
Dalam sejarah keilmuan Islam abad pertengahan, tradisi perjalanan ilmiah atau riḥlah menempati posisi penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya geografi. Para sarjana Muslim tidak hanya mengandalkan teks, tetapi juga pengalaman langsung melalui perjalanan lintas wilayah. Salah satu tokoh sentral dalam tradisi ini adalah Muhammad bin Muhammad al-Syarif al-Idrisi, pengarang kitab terkenal نزهة المشتاق في اختراق الآفاق (Nuzhat al-Mushtāq fī Ikhtirāq al-Āfāq).
Profil Muhammad bin Muhammad al-Syarif al-Idrisi
Muhammad bin Muhammad al-Syarif al-Idrisi dikenal sebagai salah satu tokoh terkemuka di kalangan ahli geografi Muslim. Ia lahir di Ceuta pada tahun 493 H/1100 M. Sejak awal, perjalanan ilmiah memiliki peran besar dalam pembentukan karya-karyanya. Al-Idrisi menempuh pendidikan di Universitas Cordoba, lalu melakukan pengembaraan ke berbagai wilayah, antara lain Andalusia, Afrika Utara, dan Asia Kecil. Disebutkan pula bahwa ia mengunjungi Prancis dan Inggris.
Al-Idrisi di Lingkungan Istana Roger II
Dalam perjalanan intelektualnya, al-Idrisi kemudian memenuhi undangan Raja Roger II dan menetap di lingkungan istana kerajaan Sisilia. Pada masa itu, pengaruh peradaban Islam di wilayah tersebut masih sangat kuat. Raja Roger mengikuti kebiasaan banyak penguasa Timur yang ingin memiliki sebuah karya besar tentang wilayah kekuasaannya dan dunia yang dikenal pada masa itu.
![]() |
| Sumber Gambar Kitab الرحالة المسلمون |
Roger mengumpulkan berbagai karya yang telah ditulis oleh para pengarang di bidang geografi, kemudian memilih al-Idrisi untuk menyusun sebuah kitab yang menggambarkan bola bumi perak yang dibuat khusus untuknya, dengan peta seluruh wilayah yang dikenal saat itu. Pilihan ini mencerminkan tingkat keunggulan umat Islam dalam bidang ilmu pengetahuan dan seni pada masa tersebut.
Kitab Nuzhat al-Mushtaq dan Proses Penyusunannya
Kitab Nuzhat al-Mushtāq disusun sebelum wafatnya Raja Roger pada tahun 548 H/1154 M. Karya ini kemudian dikenal pula dengan sebutan Kitab Roger atau al-Kitāb al-Rujārī, karena dikaitkan langsung dengan penguasa yang memerintah pada masa penyusunannya.
Sumber Data dan Metode Pengumpulan Informasi
Dalam penyusunan karyanya, al-Idrisi memanfaatkan pengalaman perjalanan pribadinya, serta informasi yang dikumpulkan oleh para penjelajah yang diutus Raja Roger ke berbagai wilayah untuk meneliti kondisi geografis dan memastikan letak tempat-tempat tersebut. Ia juga mencatat keterangan dari para musafir, pedagang, dan jamaah haji yang singgah di pelabuhan-pelabuhan Sisilia. Selain itu, ia memperoleh data tentang wilayah Kristen berkat perlindungan Raja Roger yang beragama Kristen.
Berkat kelengkapan sumber ini, al-Idrisi memiliki keunggulan dibandingkan para ahli geografi Muslim sebelumnya. Mereka yang mendahuluinya tidak mampu menulis tentang Eropa dengan tingkat ketelitian yang sama, serta tidak memiliki akses terhadap laporan para penjelajah yang mencapai wilayah paling jauh seperti Skandinavia. Sebaliknya, sebagian besar geografer yang datang setelahnya justru banyak mengutip karyanya.
Keunggulan Karya Geografi Al-Idrisi
Kitab al-Idrisi menonjol karena kelimpahan datanya mengenai wilayah Maghrib dan Sisilia, yang menunjukkan bahwa ia sendiri pernah mengunjungi daerah-daerah tersebut. Untuk kawasan Timur, ia banyak mengutip karya para sejarawan sebelumnya. Meskipun demikian, tulisannya tentang Mesir, Syam, Prancis, Italia, Jerman, serta wilayah di sekitar Laut Adriatik menunjukkan bahwa ia memperoleh banyak informasi dari perjalanan langsung atau dari para penjelajah lain.
Selain itu, al-Idrisi juga menulis secara rinci tentang aktivitas penyelaman mutiara. Ia mampu memaparkan topik ini dengan baik dan menyeluruh, menunjukkan keluasan minat dan pengetahuannya dalam berbagai aspek geografis dan ekonomi.
Pengaruh Karya Al-Idrisi di Dunia Barat
Diperkirakan karya-karya al-Idrisi telah sampai kepada para sarjana Kristen di Sisilia pada abad pertengahan, meskipun tidak ditemukan bukti langsung mengenai hal tersebut. Terjemahan tertua yang diketahui atas Nuzhat al-Mushtāq ke dalam bahasa Latin baru muncul pada awal abad ke-17 M.
Yang pasti, para sarjana Barat menjadikan kitab ini sebagai rujukan utama dalam pengetahuan tentang berbagai negeri, khususnya wilayah Timur, hingga ilmu geografi berkembang pesat pada abad ke-18 dan ke-19. Baron de Slane, dalam Majalah Asia Prancis edisi April 1841, menyatakan bahwa kitab al-Idrisi tidak dapat dibandingkan dengan karya geografi mana pun yang mendahuluinya, dan bahwa untuk beberapa bagian dunia, kitab ini masih menjadi pedoman bagi sejarawan dan ahli geografi.
Toleransi Beragama di Sisilia
Tulisan al-Idrisi tentang Sisilia juga memberikan gambaran mengenai suasana toleransi beragama yang berlaku di bawah pemerintahan penguasa Norman. Para penguasa ini mendorong penduduk Muslim untuk tetap berpegang pada ajaran agama mereka, bahkan disebutkan bahwa mereka tidak mengizinkan seorang Muslim pun untuk keluar dari Islam. Fenomena ini tidak mengherankan, karena para penguasa tersebut dalam banyak aspek memperlihatkan corak peradaban yang dekat dengan tradisi Timur.
Keterbatasan Data Biografis Al-Idrisi
Meskipun memiliki peran besar dalam sejarah geografi, informasi mengenai kehidupan pribadi al-Idrisi sangat terbatas. Sebagian orientalis berpendapat bahwa para penulis Arab cenderung mengabaikannya karena ia terlalu banyak memuji Raja Roger dan bersikap adil terhadap kaum Kristen di Sisilia, pada masa ketika kaum Kristen sedang melancarkan Perang Salib atau mengusir kaum Muslim dari Andalusia.
Namun, penjelasan ini dianggap tidak sepenuhnya kuat, karena keterbatasan data biografis juga terjadi pada banyak ahli geografi Muslim lainnya yang tidak memiliki hubungan erat dengan penguasa Kristen dan tidak menunjukkan sikap serupa terhadap mereka.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian Zaki Muhammad Hasan, al-Idrisi dapat dipahami sebagai figur penting dalam sejarah geografi Islam abad pertengahan. Karyanya Nuzhat al-Mushtāq merepresentasikan sintesis antara pengalaman perjalanan, pengumpulan data lapangan, dan tradisi keilmuan Islam. Keunggulan metodologis serta luasnya cakupan wilayah yang dibahas menjadikan kitab ini sebagai rujukan utama, baik di dunia Islam maupun di Barat, selama berabad-abad.
Referensi
Zaki Muhammad Hasan. الرحالة المسلمون في العصور الوسطى.
https://ia601408.us.archive.org/4/items/Heliopolis1957_gmail_20190328_1738/الرحالة%20المسلمون%20في%20العصور%20الوسطى.pdf
Disclaimer Akademik
Artikel ini disusun berdasarkan karya Zaki Muhammad Hasan, seorang sejarawan dan akademisi Mesir yang dikenal luas dalam bidang sejarah intelektual Islam dan studi perjalanan ilmiah. Seluruh isi artikel bersumber langsung dari kitab الرحالة المسلمون في العصور الوسطى sebagai rujukan utama. Untuk keperluan akademik yang lebih mendalam, pembaca disarankan membaca langsung karya asli penulis.

