0leh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat
Halaman pendahuluan naskah Dīwān al-Imām 'Alī yang membahas nisbah syair, tahqiq Dr. M. Abdul Mun'im Khafaji.
Benarkah Semua Syair dalam Diwan Imam Ali Asli? Kajian Keotentikan dari Naskah
Pada artikel sebelumnya tentang kata-kata bijak Ali bin Abi Thalib, kami menyinggung sekilas satu hal yang jarang dibahas: tidak semua materi dalam Dīwān al-Imām 'Alī dapat dipastikan keasliannya. Uniknya, keraguan ini bukan datang dari pihak luar yang ingin mendiskreditkan, melainkan diakui secara terbuka oleh muhaqqiq (editor ilmiah) naskah itu sendiri, Dr. Muhammad Abdul Mun'im Khafaji. Artikel ini mengupas argumen tersebut secara lebih dalam, langsung dari halaman pendahuluan naskah.
Preseden: Perdebatan Serupa pada Nahj al-Balaghah
Sebelum masuk ke soal syair, naskah ini lebih dulu memaparkan perdebatan keotentikan yang sudah lama berlangsung seputar Nahj al-Balaghah — kitab kumpulan khutbah, wasiat, dan surat yang dinisbahkan kepada Imam Ali, dihimpun oleh al-Syarif al-Radhi (w. 406 H). Kalangan Syiah umumnya menerima kitab ini secara utuh, sementara sebagian peneliti menilainya sebagai karya yang "dikarang" (mansul/muftara). Naskah memaparkan empat argumen utama pihak yang meragukan nisbahnya:
- Sebagian ungkapan dalam kitab dinilai terlalu keras terhadap sebagian sahabat Nabi — khususnya pada Khutbah Syiqsyiqiyyah — meski sebagian peneliti lain tetap menisbahkan khutbah tersebut kepada Imam Ali.
- Ditemukan pemikiran dan istilah-istilah tasawuf yang secara historis baru berkembang belakangan, tidak sezaman dengan periode kehidupan Imam Ali.
- Sebagian risalah dalam kitab tersebut panjangnya mengundang keraguan besar atas keasliannya, misalnya surat yang dinisbahkan kepada masa pemerintahan al-Asytar al-Nakha'i.
- Kitab-kitab yang disusun sebelum masa al-Syarif al-Radhi tidak memuat rujukan kepada materi-materi yang kelak muncul dalam Nahj al-Balaghah.
Namun naskah juga mencatat argumen penyeimbang: sangat mungkin ada materi yang tersisipkan (mudkhal) di dalam kitab, tetapi hal itu tidak serta-merta membatalkan nisbah keseluruhan kitab kepada Imam Ali — mengingat kitab ini telah menjadi rujukan sastra dan keagamaan yang dipelajari secara luas sejak lama.
Kasus Diwan Syair: Argumen Muhaqqiq
"Kemungkinan Besar Sebagian Besarnya Muntahal"
Berbeda dengan sikapnya terhadap Nahj al-Balaghah yang relatif berimbang, muhaqqiq justru bersikap lebih tegas soal diwan syair ini. Beliau menulis bahwa mayoritas syair yang dinisbahkan kepada Imam Ali kemungkinan besar bersifat muntahal — istilah kritik sastra Arab klasik untuk karya yang "disandarkan secara tidak sah" kepada seseorang yang bukan penulis aslinya. Alasannya sederhana namun tegas: Imam Ali tidak memiliki waktu luang untuk menekuni syair sebagai jalan hidup, dan beliau memang bukan seorang penyair (sya'ir) dalam pengertian profesional.
Analogi dengan Labid bin Rabi'ah
Untuk memperkuat argumennya, muhaqqiq mengajukan sebuah analogi yang menarik: tidak masuk akal bila Labid bin Rabi'ah — salah satu penyair besar Jahiliyah/awal Islam yang menurut riwayat masyhur justru berhenti bersyair setelah memeluk Islam — sementara pada saat yang sama Imam Ali, yang sejak awal bukan seorang penyair profesional, justru "menceburkan diri" dalam dunia syair sedemikian dalam sebagaimana tergambar dari volume diwan yang dinisbahkan kepadanya. Logikanya: jika penyair sungguhan saja meninggalkan syair, ganjil rasanya bila seorang negarawan dan panglima perang justru menjadi begitu produktif dalam syair.
Jejak Perdebatan yang Sudah Berabad-abad
Menariknya, perdebatan nisbah ini bukan isu modern. Naskah mencatat bahwa ulama sastra klasik Ibn Rasyiq al-Qairawani (w. sekitar abad ke-5 H), dalam kitab kritik sastranya yang terkenal al-'Umdah juz pertama, telah lebih dulu turut menisbahkan sejumlah syair kepada Imam Ali — menunjukkan bahwa isu ini sudah menjadi bahan diskusi para ahli sastra Arab sejak berabad-abad silam.
Pengakuan yang Cukup Jujur
Bagian paling menarik dari pembahasan ini adalah pengakuan langsung muhaqqiq: sebagian besar materi yang dinisbahkan kepada Imam Ali justru terbukti lebih sahih dinisbahkan kepada penyair lain. Meski begitu, ia tetap mencatat bahwa mayoritas syair yang beredar dengan nama Imam Ali memang bertema zuhud, hikmah, dan nasihat (mau'izhah) — sejalan dengan citra beliau sebagai sosok bijak, sekalipun status kepenulisannya tidak bisa dipastikan satu per satu. Salah satu contoh yang disebutkan naskah adalah sebuah qasidah panjang yang dikenal dengan nama al-Qasidah al-Zainabiyyah, yang juga dinisbahkan kepada beliau.
Jadi, Bagaimana Sikap yang Tepat?
Dari pemaparan naskah, sikap yang paling proporsional bukanlah menolak mentah-mentah seluruh diwan, juga bukan menerimanya secara membabi buta sebagai riwayat yang bersanad kuat. Posisi tengah yang lebih akademis adalah memperlakukan diwan ini sebagai koleksi sastra hikmah yang dinisbahkan (mansūb) kepada Imam Ali — bagian dari tradisi adab dan kebijaksanaan Islam yang bernilai untuk dipelajari kandungannya, tanpa mengklaimnya sebagai catatan kata-per-kata yang terverifikasi secara historis-filologis penuh. Sikap ini sejalan dengan bagaimana sebagian ulama juga memperlakukan Nahj al-Balaghah: diterima manfaatnya secara luas, sembari tetap terbuka terhadap kritik filologis pada bagian-bagian tertentu.
Penutup
Kejujuran ilmiah semacam ini justru memperkaya, bukan mengurangi, nilai sebuah naskah klasik. Dengan memahami batas-batas keotentikannya, pembaca dapat menikmati kandungan hikmah dalam diwan ini secara lebih matang — mengapresiasi keindahan bahasanya tanpa kehilangan kehati-hatian ilmiah dalam menisbahkannya.
Suka dengan kajian ini? Bagikan kepada kerabat Anda yang tertarik pada kajian sastra dan sejarah Islam.
Referensi
- ʿAlī bin Abī Ṭālib. Dīwān al-Imām ʿAlī. Tahqiq: Dr. Muḥammad ʿAbdul Munʿim Khafājī. Kairo: Dār Ibn Zaidūn & Maktabah al-Kulliyāt al-Azhariyyah, hlm. 7–8 dan 20.
Disclaimer Akademik & Redaksional: Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan kajian bahasa/sastra Arab-Islam berdasarkan naskah cetak yang disebutkan pada bagian Referensi. Analisis dipaparkan ulang (parafrase) dari argumen muhaqqiq naskah dengan kehati-hatian ilmiah; satu istilah pada halaman 20 naskah tidak dapat dibaca dengan pasti akibat kualitas cetak hasil pemindaian sehingga sengaja tidak diterjemahkan secara harfiah. Pembahasan mengenai nisbah Nahj al-Balaghah dan diwan syair ini merupakan wilayah perdebatan akademik yang masih terbuka di kalangan ulama dan peneliti klasik hingga kini. Pembaca yang memerlukan rujukan untuk keperluan akademik formal disarankan merujuk langsung pada naskah asli atau kitab-kitab turats yang bersanad.
