👋
Keluar dari akun?
Anda akan keluar dari sesi yang sedang aktif. Apakah Anda ingin melanjutkan?
NEW UPDATES
Memuat berita terbaru...
📢 BROADCAST

Asal-Usul Gelar "Karramallahu Wajhah" bagi Ali bin Abi Thalib: Penjelasan dari Naskah Diwan Asli

Nasab dan Perjalanan Hidup Ali bin Abi Thalib: dari Asuhan Rasulullah hingga Empat Masa Khilafah

0leh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat


nasab dan biografi ali bin abi thalib dari naskah diwan imam ali

al-Imām 'Alī Gambar Sampul: Ilustrasi AI Dibuat oleh Arun Algaus.

Nasab dan Perjalanan Hidup Ali bin Abi Thalib: dari Asuhan Rasulullah hingga Empat Masa Khilafah

Nama Ali bin Abi Thalib begitu akrab di telinga umat Islam — lewat kata-kata bijaknya, khutbahnya, maupun kedudukannya sebagai khalifah keempat. Namun garis keturunan dan perjalanan hidupnya secara runtut jarang dipaparkan dari satu sumber yang sama. Naskah Dīwān al-Imām 'Alī tahqiq Dr. Muhammad Abdul Mun'im Khafaji ternyata memuat ringkasan biografis yang cukup lengkap pada bagian pembuka (tasdir)-nya. Artikel ini merangkum riwayat tersebut, dari nasab, masa kecil dalam asuhan Rasulullah ﷺ, hingga empat periode khilafah yang beliau lalui.


Nasab dan Garis Keturunan Ali bin Abi Thalib

Naskah menyebut nama lengkap beliau sebagai Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf — menempatkannya dalam garis Bani Hasyim, klan yang sejak lama disegani di Makkah karena memegang kedudukan sebagai pemimpin dan pemelihara Ka'bah. Silsilah lengkap hingga ke akar suku Quraisy memang lazim ditemukan di kitab-kitab sirah dan tarikh klasik lain, namun bagian pembuka naskah ini secara spesifik berhenti pada rantai tersebut sebagai pengantar riwayat hidup Imam Ali.

Ayah beliau, Abu Thalib, digambarkan sebagai sosok yang mulia dan disegani, yang pada masa jahiliah aktif berniaga. Sepeninggal ayahnya, Abdul Muthalib, Abu Thalib mewarisi tugas siqayah (pengurusan air minum jemaah haji) dan rifadah (penjamuan mereka) — sekaligus mengambil alih pengasuhan keponakannya yang yatim, Muhammad ﷺ. Ketika kelak kaum Quraisy memboikot Bani Hasyim dan Bani Muthalib karena membela Rasulullah, Abu Thalib menegaskan sikap dan kesetiaannya lewat sebait syair yang tercatat dalam naskah — intinya menyatakan keteguhannya membela sang keponakan apa pun risiko sosial dan politik yang harus ditanggung keluarganya.

Ibunda beliau, Fathimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf, dicatat sebagai perempuan Hasyimiah pertama yang melahirkan anak dari pasangan sesama Bani Hasyim — sehingga Ali terlahir "Hasyimi murni" dari kedua orang tuanya. Fathimah binti Asad kemudian memeluk Islam, berhijrah ke Madinah, dan wafat pada masa hidup Rasulullah ﷺ.


Masa Kecil dalam Asuhan Rasulullah ﷺ

Menurut naskah, Ali lahir di Makkah sekitar 32 tahun setelah kelahiran Nabi ﷺ, atau sekitar 8 tahun sebelum turunnya wahyu pertama (bi'tsah).

Riwayat pengasuhannya cukup unik: ketika Makkah dilanda paceklik dan kaum Quraisy mengalami kesulitan ekonomi, sementara Abu Thalib memiliki tanggungan keluarga yang besar, Rasulullah ﷺ mengajak pamannya yang lain, Abbas, untuk sama-sama meringankan beban Abu Thalib dengan masing-masing mengasuh satu orang anaknya. Rasulullah ﷺ sendiri kemudian mengasuh Ali.

Naskah menyebutkan Abu Thalib memiliki empat putra yang berurutan usianya dengan selisih sekitar sepuluh tahun satu sama lain: Thalib, Aqil, Ja'far, dan Ali. Thalib wafat dalam keadaan belum memeluk Islam; Aqil memeluk Islam belakangan, disusul Ja'far; sedangkan Ali dicatat sebagai yang paling awal memeluk Islam — bahkan sebelum sempat menyembah berhala sedikit pun. Karena itulah beliau mendapat gelar penghormatan karramallahu wajhah (semoga Allah memuliakan wajahnya), karena tidak pernah sekali pun bersujud kepada berhala.

Naskah juga mencatat sepenggal dialog yang menyentuh: ketika Abu Thalib mengetahui putranya telah memeluk Islam dan turut shalat bersama Rasulullah ﷺ, ia bertanya apa yang tengah dijalani putranya itu. Ali menjawab dengan mantap bahwa ia telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, membenarkan apa yang dibawanya, dan mengikutinya. Abu Thalib pun merestui, seraya menegaskan bahwa keponakannya (Rasulullah ﷺ) tidak akan mengajak kepada apa pun selain kebaikan.


Kedudukan Ali di Sisi Nabi dan Para Sahabat

Ali disebut memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Rasulullah ﷺ dan para sahabat: dikenal karena ketakwaan, kedermawanan, dan keluasan ilmunya. Naskah menyinggung riwayat dari Ibnu Abbas yang menggambarkan betapa luasnya cakupan keilmuan Ali dibanding sahabat pada umumnya — sebuah kesaksian yang menunjukkan posisi keilmuan beliau di mata generasi sahabat.

Beliau juga dikenal ahli dalam ilmu faraidh (pembagian waris) dan penyelesaian sengketa, kerap dimintai pendapat atas persoalan-persoalan pelik yang dihadapi umat Islam kala itu. Selain itu, Ali dikenal sebagai ksatria yang pemberani di medan perang, seorang alim, salah satu tokoh penerang Islam, serta orator yang fasih dan tegas — sehingga Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma pun kerap meminta pandangannya.


Malam Hijrah dan Masa Jihad di Zaman Kenabian

Salah satu babak paling dikenang dari masa muda Ali adalah perannya pada malam hijrah Rasulullah ﷺ — ketika beliau bersedia menggantikan tempat tidur Nabi ﷺ demi mengecoh kaum Quraisy yang berencana jahat, sembari menanggung risiko keselamatan dirinya sendiri.

Setelah menyusul hijrah ke Madinah, Ali menyempurnakan bekal keilmuan agamanya langsung dari wahyu yang diterima Rasulullah ﷺ, dan turut serta dalam hampir seluruh peperangan bersama Nabi ﷺ, kecuali Perang Tabuk.


Sikap Ali pada Masa Tiga Khalifah Sebelumnya

Sepeninggal Rasulullah ﷺ, Abu Bakar Ash-Shiddiq diangkat sebagai khalifah pertama. Naskah mencatat bahwa banyak kaum muslimin diliputi kesedihan mendalam atas suksesi ini, namun Ali — dengan sikap pengorbanan yang luhur — tetap mendukung dan menjadi penopang bagi kepemimpinan Abu Bakar.

Ketika Umar bin Khattab menjabat sebagai khalifah kedua, Ali menjadi salah satu sandaran dan penasihat penting baginya, kerap diminta pandangannya dalam persoalan yang rumit dan mendesak.

Pada masa Utsman bin Affan, yang naik menjadi khalifah ketiga melalui musyawarah, Ali turut mendukung kepemimpinannya hingga situasi politik memanas dan berujung pengepungan kediaman Utsman. Naskah menyebutkan, dalam masa genting itu, Utsman sempat mengirim surat kepada Ali yang — bila diparafrasekan — melukiskan betapa gentingnya keadaan yang beliau hadapi dan permohonan pertolongan. Utsman kemudian mengutus kedua putra Ali, Hasan dan Husain, untuk ikut menjaga dan membelanya, namun keduanya tak mampu membendung gelombang massa yang mengepung, hingga Utsman wafat terbunuh.

Catatan: peristiwa terbunuhnya Utsman dan rangkaian fitnah sesudahnya adalah babak sejarah yang kompleks dan telah menjadi bahan kajian mendalam para sejarawan Islam klasik. Naskah yang menjadi rujukan artikel ini memperlakukan seluruh sahabat yang terlibat — termasuk Utsman, Ali, dan Muawiyah — dengan penghormatan (radhiyallahu 'anhum), tanpa menempatkan tuduhan pada pihak mana pun. Artikel ini mengikuti kaidah yang sama.


Masa Khilafah Ali bin Abi Thalib (35–40 H)

Sepeninggal Utsman, masyarakat membaiat Ali sebagai khalifah keempat. Namun Muawiyah bin Abi Sufyan menolak berbaiat dan menghimpun dukungan Bani Umayyah, dengan alasan utama menuntut penegakan hukum qishash atas darah Utsman terlebih dahulu sebelum baiat dilangsungkan.

Naskah menjelaskan pertimbangan di balik sikap Ali: sebagian pihak yang terlibat dalam huru-hara pembunuhan Utsman telah berbaur dalam barisan pembaiat, sehingga menurut penilaian Ali, kebijaksanaan menuntut agar persoalan itu tidak diselesaikan secara tergesa — demi memadamkan api fitnah lebih dulu dan menuntaskan proses baiat secara utuh. Muawiyah, di sisi lain, berpandangan bahwa penegakan hukum atas darah Utsman perlu didahulukan.

Masa khilafah Ali berlangsung sekitar lima tahun, dari Dzulhijjah 35 H hingga Ramadhan 40 H, dan diwarnai rangkaian peristiwa besar yang menjadikannya periode perjuangan serta peperangan yang nyaris tak pernah henti:

  1. Perang Jamal. Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu 'anha, bersama Thalhah dan Zubair radhiyallahu 'anhuma, bergerak menuju Basrah, memicu peperangan yang masyhur ini.
  2. Perang Shiffin. Peperangan berlanjut silih berganti antara Ali dan Muawiyah bin Abi Sufyan.
  3. Tahkim (arbitrase). Perang Shiffin berujung pada proses tahkim — sebuah keputusan yang sesungguhnya tidak disukai Ali. Dalam prosesnya, Amr bin Al-Ash dikisahkan berhasil mengelabui Abu Musa Al-Asy'ari.
  4. Wafatnya Ali. Rangkaian peristiwa ini berakhir dengan terbunuhnya Ali di tangan seorang Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam al-Muradi, di Kufah pada 17 Ramadhan 40 H. Beliau dimakamkan di sana dalam usia 63 tahun.

Kepemimpinan sempat dilanjutkan oleh putranya, Hasan bin Ali, sebelum akhirnya beliau menyerahkan kekhalifahan kepada Muawiyah pada 41 H — sebuah peristiwa yang dalam sejarah Islam dikenal sebagai 'Am al-Jama'ah, tahun bersatunya kembali umat di bawah satu kepemimpinan.


Menyambungkan Nasab dengan Warisan Intelektual dan Spiritual

Memahami nasab dan perjalanan hidup Ali membantu menempatkan warisan intelektual dan spiritualnya pada konteks yang tepat. Kefasihannya dalam berpidato, misalnya, tidak lepas dari latar tempaan hidup penuh perjuangan yang telah dipaparkan di atas — sebagaimana pernah dibahas dalam artikel Mengapa Ali bin Abi Thalib Disebut Ahli Balaghah Terbesar Setelah Nabi?. Demikian pula Khutbah Syiqsyiqiyyah yang kontroversial itu erat kaitannya dengan babak suksesi khilafah yang telah diuraikan di atas — selengkapnya dapat dibaca pada artikel Khutbah Syiqsyiqiyyah: Asal-Usul Nama, Isi, dan Kontroversinya.

Warisan pemikiran Ali juga terekam dalam kumpulan kata-kata bijaknya — dibahas pada artikel Kata-Kata Bijak Ali bin Abi Thalib: Terjemahan & Makna dari Naskah Diwan Asli — serta dalam kumpulan syair yang dinisbahkan kepadanya, yang keasliannya dikaji secara kritis pada artikel Benarkah Semua Syair dalam Diwan Imam Ali Asli? Kajian Keotentikan.


Penutup

Nasab dan perjalanan hidup Ali bin Abi Thalib menunjukkan sosok yang dibesarkan langsung dalam didikan Rasulullah ﷺ, menempa dirinya melalui jihad dan perjuangan sejak usia dini, hingga akhirnya memikul amanah sebagai khalifah keempat di tengah situasi politik yang penuh gejolak. Memahami akar-akar riwayat ini membantu kita mengapresiasi karya-karya dan warisan yang dinisbahkan kepadanya secara lebih utuh dan proporsional.

Suka dengan kajian ini? Bagikan kepada kerabat Anda yang tertarik pada sejarah dan sirah para sahabat Nabi.


Referensi

  • ʿAlī bin Abī Ṭālib. Dīwān al-Imām ʿAlī. Tahqiq: Dr. Muḥammad ʿAbdul Munʿim Khafājī. Kairo: Dār Ibn Zaidūn & Maktabah al-Kulliyāt al-Azhariyyah, hlm. 3–6.
Disclaimer Akademik & Redaksional: Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan kajian sirah/sejarah Islam berdasarkan naskah cetak yang disebutkan pada bagian Referensi. Seluruh riwayat dipaparkan ulang secara parafrase, bukan kutipan verbatim, untuk menjaga orisinalitas tulisan. Babak sejarah suksesi khilafah (termasuk peristiwa seputar wafatnya Utsman, Perang Jamal, Perang Shiffin, dan Tahkim) disampaikan secara netral dan ringkas mengikuti nada naskah rujukan yang memuliakan seluruh sahabat yang terlibat; pembaca yang memerlukan kajian mendalam dan bersanad atas periode ini disarankan merujuk langsung pada kitab-kitab tarikh klasik (seperti Tarikh al-Thabari) atau ulama/akademisi yang kompeten di bidangnya.
Reaksi Anda
1Tulis 2Publish
Lebih baru Lebih lama
Jelajahi
Lainnya