NEW UPDATES
Memuat berita terbaru...

Jejak Bolango-Oeki: Sejarah Negeri Oeki Berdasarkan Catatan Wilken-Schwarz

Negeri Oeki dan Riwayat Bolango-Oeki di Bolaang Mongondow Abad ke-19

Oleh: Arun Algaus
Editor: Tim Pena Sehat


Bolango Oeki

Gambar Ilustrasi

Teluk Oeki berakhir pada sebuah dataran rendah yang berawa. Di kawasan inilah negeri Oeki didirikan. Gambaran geografis ini menjadi latar awal dalam catatan perjalanan Wilken dan Schwarz pada pertengahan abad ke-19, ketika mereka mengunjungi wilayah Bolaang Mongondow dan mencatat secara rinci kehidupan politik, sosial, serta sejarah perpindahan penduduk Bolango-Oeki.

Penyambutan di Negeri Oeki

Setibanya di pantai Oeki, rombongan penulis disambut oleh beberapa kepala negeri dan kemudian diantar ke rumah Radja. Di sana, Djogoegoe bersama para pangeran dan kepala-kepala negeri telah menunggu. Karena sakit berkepanjangan, Radja tidak dapat menerima tamu secara langsung dan melalui Djogoegoe menyampaikan bahwa kediamannya sepenuhnya dapat digunakan, karena ia menganggap rumah tersebut sebagai milik Gouvernement.

Seperti kebiasaan setempat, rumah Radja dihiasi dengan berbagai jenis kain pada bagian depannya. Penerimaan ini mencerminkan tata krama politik dan simbol penghormatan yang berlaku di negeri Oeki pada masa itu.

Asal-Usul dan Perpindahan Leluhur Bolango

Menurut keterangan yang dicatat, para leluhur penduduk Oeki pada mulanya tinggal di kaki Gunung Klabat, di dekat sebuah sungai yang mengalir ke arah timur laut dan dikenal dengan nama Ajěr-Bolango. Setelah beberapa waktu, mereka meninggalkan daratan utama dan menyeberang ke Pulau Lembeh.

Sebuah peristiwa yang digambarkan sebagai sangat mengerikan kemudian menjadi sebab perpindahan berikutnya. Dua anak Radja, seorang saudara laki-laki dan perempuan, melakukan hubungan terlarang menurut adat setempat. Walaupun secara adat seharusnya mereka menerima hukuman berat, kedudukan dan kekuasaan membuat mereka terhindar dari sanksi. Kejadian ini menimbulkan ketakutan di kalangan penduduk.

Dalam narasi tersebut diceritakan bahwa bencana kemudian melanda pulau itu. Serangan serangga dalam jumlah besar, terutama udang yang tak terhitung banyaknya, merusak kebun dan pepohonan, menyiksa manusia dan ternak, serta mencemari udara. Untuk menghindari kelaparan dan wabah, penduduk akhirnya meninggalkan Pulau Lembeh.

Penyebaran dan Pembentukan Komunitas Bolango

Sebagian penduduk berpindah ke Siau, sebagian ke Kema, sementara yang lain menyusuri pantai hingga Belang. Ada pula yang berlayar lebih jauh hingga melewati Kottaboena dan menetap di Totokia, sebuah tempat yang terletak antara Gorontalo dan Malibago. Dari kelompok-kelompok inilah berasal leluhur orang Bolango masa kini.

Pernikahan antara seorang pangeran dari Limbotto dengan seorang putri dari Totokia kemudian mengakibatkan perpindahan orang Bolango ke Gorontalo. Mereka mendirikan sebuah negeri bernama Bolango di dekat Limbotto dan hidup di bawah pemerintahan seorang Radja sendiri hingga awal abad ke-19.

Perselisihan yang berulang dengan Radja Limbotto mengenai hak atas tanah mendorong mereka, dengan persetujuan pemerintah Belanda, untuk berpindah ke Bangka di pantai barat, dekat Sungai Lombagin, di wilayah Radja Bolaang Mongondow. Perpindahan ini terjadi sekitar tahun 1802 atau 1803.

Karena gangguan angin selatan serta banyaknya buaya di Sungai Lombagin, komunitas ini kembali berpindah pada tahun 1849 atau 1850 ke Teluk Oeki. Sejak itu, mereka dikenal sebagai Bolango-Oeki, berbeda dengan sebutan sebelumnya, Bolango-Bangka.

Pemerintahan Bolango-Oeki

Pada masa kunjungan Wilken dan Schwarz, Radja Oeki adalah Alijoe-Dini-Iskander-Goebal-Badiaman, yang memerintah sejak tahun 1837. Meskipun usianya sekitar enam puluh tahun, ia digambarkan tampak lemah dan kelelahan. Menjelang keberangkatan penulis, Radja bahkan meminta bantuan untuk menyusun surat pengunduran dirinya kepada Resident.

Bolango-Oeki mengakui kedaulatan Belanda dan menjalankan pemerintahan berbentuk monarki. Radja didampingi oleh dewan rijksgrooten atau para mantri, yang mencakup jabatan seperti Djogoegoe, Kapitein-Laut, Marsaoli, Walaäpoeloe, Hoekoem, Kimalaha, dan Majoor. Para pejabat ini sebagian berasal dari kalangan bangsawan dan sebagian dari tokoh terkemuka rakyat, dipilih oleh kepala-kepala negeri dan diangkat oleh Radja.

Suksesi Radja tidak selalu bersifat turun-temurun. Dalam kondisi tertentu, seorang saudara Radja yang lebih tua dapat dipilih oleh dewan dan diangkat oleh Resident Manado setelah mengucapkan sumpah setia kepada pemerintah Belanda.

Peristiwa Kekerasan di Sekitar Oeki

Oeki memperoleh perhatian luas pada tahun 1864 akibat sebuah peristiwa kekerasan yang terjadi di dekat Poelo-Tiga, tiga pulau kecil di sebelah barat Teluk Oeki. Sebuah kapal Jepang yang diduga terdampar akibat badai diserang pada malam hari. Awak kapal dibunuh, kapal dibakar, dan barang-barangnya dibawa ke Oeki.

Para kepala negeri Oeki tidak melaporkan peristiwa tersebut kepada Resident Manado, meskipun mereka berkewajiban melakukannya. Para pelaku kemudian ditangkap dan ditahan di Manado, termasuk seorang Djogoegoe dari Oeki. Dalam percakapan yang dicatat, sikap sebagian tokoh setempat menunjukkan ketidakpahaman terhadap pandangan hukum kolonial mengenai kejahatan terhadap orang asing.

Masih pada tahun yang sama, dua orang Mariri yang bermalam di perahu mereka di muara Sungai Oeki ditemukan tewas terbunuh. Para pelaku pembunuhan ini tidak pernah diketahui.

Penutup

Catatan Wilken dan Schwarz tentang Oeki menghadirkan gambaran rinci mengenai asal-usul, perpindahan, dan struktur pemerintahan Bolango-Oeki, sekaligus mencatat ketegangan sosial dan peristiwa kekerasan yang terjadi di wilayah tersebut. Narasi ini memberikan potret sejarah lokal Bolaang Mongondow sebagaimana dilihat dan dicatat pada pertengahan abad ke-19.


Referensi

  • Wilken & Schwarz. Verhaal Eener Reis Naar Bolaang-Mongondow. Mededeelingen van het Zendelinggenootschap, Jilid 11, 1868.

Disclaimer Akademik

Artikel ini disusun berdasarkan catatan perjalanan dan laporan etnografis abad ke-19 karya Wilken dan Schwarz (1868), yang merupakan sumber sejarah primer mengenai wilayah Bolaang Mongondow. Untuk pemahaman yang lebih mendalam serta keperluan kajian akademik, pembaca disarankan merujuk langsung pada publikasi asli yang menjadi rujukan tulisan ini.
Lebih baru Lebih lama