NEW UPDATES
Memuat berita terbaru...

Tradisi Tarājim Dzātiyyah: Autobiografi antara Kejujuran dan Kehati-hatian

<a target="_blank" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&q=Tradisi+Tar%C4%81jim+Dz%C4%81tiyyah+dalam+Sastra+Arab+Islam&bbid=8829084881344655606&bpid=4541155173978658768" data-preview>Tradisi Tarājim Dzātiyyah dalam Sastra Arab Islam</a>

التراجم الذاتية dalam Sastra Arab: Penulisan Diri antara Kejujuran dan Kehati-hatian

Oleh: Arun Algaus
Editor: Tim Pena Sehat


Dalam khazanah sastra Arab, pembahasan mengenai al-tarājim al-dhātiyyah (التراجم الذاتية) atau autobiografi menempati posisi yang unik sekaligus problematis. Kitab Funnūn al-Adab al-‘Arabī: al-Fann al-Qaṣaṣī – al-Tarājim wa al-Siyar menguraikan bahwa terjemah diri pada hakikatnya adalah tindakan seseorang menuliskan sejarah hidupnya sendiri: mencatat peristiwa, pengalaman, karya, serta fase-fase kehidupannya sejak masa kanak-kanak, remaja, hingga dewasa, sesuai dengan tingkat kepentingannya.

Hakikat dan Tantangan Terjemah Diri

Teks ini menegaskan bahwa autobiografi mengandung potensi kelebihan dan kekurangan sekaligus. Di satu sisi, ia rawan menjadi ruang al-ighrāq wa al-mubālaghah—penggelembungan dan berlebih-lebihan—serta jebakan untuk membicarakan diri sendiri dengan rasa bangga yang berlebihan. Namun di sisi lain, apabila ditulis secara seimbang, terjemah diri justru dinilai sebagai bentuk tulisan yang paling jujur dan paling dekat dengan realitas hidup seseorang. Ia bukan wilayah dugaan atau asumsi, melainkan medan pencatatan dan verifikasi.

Dalam konteks ini, penulis kitab mengemukakan sebuah ungkapan yang relevan: «قطعت جهيزة قول كل خطيب», yang bermakna bahwa kesaksian langsung memutus segala spekulasi. Autobiografi, ketika ditulis dengan kesadaran ilmiah, memiliki kedudukan serupa—menjadi suara penentu karena berasal dari pelaku kehidupan itu sendiri.

Kejujuran yang Sulit Dicapai

Meski demikian, teks ini secara kritis mempertanyakan sejauh mana manusia mampu menuliskan dirinya secara jujur. Apakah seseorang sanggup mengungkap sisi dirinya yang tidak ingin diketahui orang lain? Mampukah ia menampilkan dirinya apa adanya, termasuk dalam kelemahan dan kekurangannya, tanpa berupaya menutupi atau memperindah citra diri?

Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan bahwa terjemah diri sering berhadapan dengan dua jenis kelupaan: kelupaan yang tidak disengaja, terutama terkait ingatan masa kecil dan remaja, serta kelupaan yang disengaja akibat rasa malu atau enggan mengungkap hal-hal kecil yang dianggap tidak membanggakan. Karena itu, halaman autobiografi kerap diupayakan tampil "putih bersih", meskipun realitas hidup manusia tidak selalu demikian.

Namun, teks juga mencatat bahwa sebagian penulis autobiografi Barat tidak segan-segan mengungkap titik-titik kelemahan mereka, selama kelemahan tersebut dipahami sebagai bagian dari sifat manusia yang tidak sempurna.

Sikap Budaya Arab terhadap Terjemah Diri

Kitab ini mengemukakan pandangan bahwa bangsa Arab, secara umum, termasuk pihak yang sangat menjaga kehidupan pribadinya. Hal ini menjadi salah satu sebab mengapa tradisi autobiografi tidak berkembang luas. Banyak tokoh yang memiliki kedudukan dan kemampuan menulis justru memilih tidak menulis tentang diri mereka sendiri, karena sudah ada sejarawan atau penulis lain yang melakukannya.

Selain itu, penulis menilai bahwa salah satu ciri kepribadian Arab adalah keengganan membicarakan diri sendiri. Hal ini tampak paradoksal, karena dalam konteks syair dan kebanggaan, seorang penyair diperbolehkan mengatakan "ana" (aku) atau "naḥnu" (kami), sementara seorang penulis dianggap kurang pantas apabila duduk untuk menceritakan riwayat hidupnya secara langsung.

Kelimpahan Sejarah, Kelangkaan Autobiografi

Menariknya, umat Islam dikenal sangat produktif dalam penulisan sejarah dan biografi. Hampir semua bentuk sejarah dan tarājim telah digarap secara luas. Namun, teks ini mencatat bahwa penulisan memoar, catatan harian, dan khususnya autobiografi, justru sangat jarang ditemukan dan tidak sebanding dengan melimpahnya karya sejarah dan biografi tokoh.

Di antara contoh yang disebutkan adalah memoar Usāmah ibn Munqidz (w. 584 H) dalam karyanya al-I‘tibār, yang menggambarkan perjalanan hidup, aktivitas, dan kepahlawanannya, sekaligus merekam potret masyarakat Islam pada masa Ayyubiyah. Contoh lain adalah penulisan pengalaman pribadi yang tersebar dalam karya-karya tertentu, meskipun tidak selalu disajikan sebagai autobiografi yang berdiri sendiri.

Tokoh-Tokoh Autobiografi dalam Tradisi Islam

Dalam bagian ini, teks kitab menyebut sejumlah tokoh yang menulis atau memuat terjemah diri dalam karya mereka, baik secara eksplisit maupun tersirat. Di antara tokoh-tokoh tersebut adalah Usāmah ibn Munqidz (w. 584 H) melalui karyanya al-I‘tibār; ‘Umārah al-Yamanī, penyair yang hidup pada paruh akhir abad keenam Hijriah; serta al-Mu’ayyad Dā‘ī al-Du‘āt, yang menulis autobiografinya pada pertengahan abad kelima Hijriah dan menggambarkan kehidupan seorang dai Ismailiyah.

Teks ini juga menyebut Ibn Sīnā (w. 428 H), yang riwayat hidupnya disampaikan berdasarkan terjemah diri yang kemudian dimanfaatkan oleh muridnya, al-Jūzjānī. Selain itu, disebut pula al-‘Imād al-Iṣfahānī (w. 597 H), al-Suyūṭī (w. 911 H), al-Sakhāwī (w. 902 H), Lisān al-Dīn Ibn al-Khaṭīb (w. 776 H), Ibn Khaldūn (w. 808 H), serta al-Maqqarī (w. 1041 H), yang masing-masing memuat unsur-unsur terjemah diri dalam karya-karya mereka.

Teks juga menyinggung karya-karya perjalanan (riḥlah) yang memuat unsur-unsur terjemah diri, seperti tulisan Ibn Jubayr (w. 614 H) dan Ibn Baṭṭūṭah. Meskipun tidak disusun sebagai autobiografi murni, karya-karya tersebut merekam pengalaman personal penulisnya dan memiliki nilai penting dalam kajian sejarah dan sastra.

Disebutkan pula bahwa sebagian karya autobiografis tertentu sempat terabaikan dalam literatur sejarah, antara lain karena faktor ideologis dan konteks sosial yang melingkupinya.

Perkembangan Modern Autobiografi Arab

Teks ini mencatat bahwa setelah berabad-abad, genre autobiografi dalam sastra Arab baru tampak kembali secara lebih jelas pada abad ke-20 Masehi. Pada periode ini, muncul karya-karya yang menampilkan keberanian dan keterbukaan penulis dalam mengungkap pengalaman hidupnya. Karya-karya tersebut dinilai penting karena memadukan kejujuran, keberanian moral, dan kekuatan gaya bahasa, sehingga menjadi sumber berharga bagi sejarah sastra dan pemikiran Arab modern.

Penulis kitab menutup pembahasan ini dengan menyebut dua karya kontemporer yang menonjol dalam bidang autobiografi, yang masing-masing memiliki kekhasan dalam gaya penceritaan, tingkat kejujuran, dan kesederhanaan ekspresi.

Penutup

Dari uraian ini tampak bahwa التراجم الذاتية dalam sastra Arab bukan sekadar persoalan teknis penulisan, melainkan berkaitan erat dengan etika, budaya, dan pandangan tentang diri serta masyarakat. Autobiografi berada di antara tuntutan kejujuran dan dorongan menjaga martabat, di antara kebutuhan dokumentasi sejarah dan kehati-hatian personal. Karena itu, keberadaannya yang terbatas justru memperlihatkan kompleksitas relasi antara individu, teks, dan tradisi dalam kebudayaan Arab-Islam.


Referensi

Funnūn al-Adab al-‘Arabī: al-Fann al-Qaṣaṣī – al-Tarājim wa al-Siyar, karya kolektif para sastrawan dari berbagai negeri Arab, halaman 23–26.

Disclaimer Akademik

Artikel ini disusun berdasarkan naskah kitab فنون الأدب العربي – الفن القصصي – التراجم والسير (halaman 23–26) sebagai sumber utama. Penulisan dilakukan dengan cara pengolahan ulang naratif tanpa menambah, mengurangi, atau menafsirkan di luar makna yang terkandung dalam teks asli. Untuk pemahaman yang lebih mendalam dan keperluan akademik, pembaca disarankan merujuk langsung kepada naskah asli kitab tersebut sebagai rujukan utama.

Lebih baru Lebih lama