Oleh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat
Bukan Rusa, Bukan Antilope — Bantong yang Dimaksud Adalah Anoa
Dalam naskah tua Bolaang Mongondow yang dihimpun oleh W. Dunnebier, ada satu fabel pendek yang menariknya bukan cuma pada jalan ceritanya, tapi pada tokohnya sendiri. Dalam versi terjemahan Belanda, hewan ini disebut antilope. Tapi jika ditelusuri sampai ke catatan kaki naskah aslinya, jelas tertulis nama ilmiahnya: anoa depressicornis.
Artinya, tokoh dalam cerita ini bukan rusa, bukan pula antelop seperti bayangan pembaca Barat — melainkan anoa, kerbau kerdil yang hanya bisa ditemukan di hutan-hutan Sulawesi. Dalam bahasa Mongondow, ia disebut bantong.
Tagoedang bo Bantong: Ketika Anoa Terjebak di Bibir Sungai
Pada suatu hari, seekor bantong turun ke binanga (sungai) untuk minum di tepiannya. Ia tidak menyangka apa yang menantinya di balik air yang tenang itu.
Tanpa peringatan, seekor tagoedang (buaya) menerkam dan mencengkeramnya. Dalam sekejap, anoa itu sadar: tidak ada gunanya meronta. Bukan karena ia menyerah, tapi karena ia sedang menyusun siasat.
Ia diam. Tubuhnya lemas, matanya seolah kosong, seakan nyawanya sudah lepas dari raga. Buaya yang mencengkeramnya pun termakan tipuan — ia yakin mangsanya telah mati.
Siasat Pura-Pura Mati
Merasa telah mendapat buruan besar, buaya itu menggendong tubuh anoa yang "tak bernyawa" itu di punggungnya. Ia tidak langsung memakannya di air. Sambil berenang menuju kawan-kawannya, ia berseru dengan bangga:
"Lihat, jobajat-jobajatku (sahabat-sahabatku), aku berhasil menangkap seekor bantong. Tapi jangan kita makan di sini, di dalam air. Lebih baik kita bawa dan santap bersama di tengah toba (semak alang-alang tinggi) di tepian."
Maka buaya itu pun naik ke daratan, tetap menggendong bantong yang terkulai lemas di punggungnya, menuju rerumpunan toba yang tinggi di dekat tepi sungai.
Lompatan Bebas di Tepi Toba
Begitu punggung buaya menyentuh tanah dan tubuhnya sedikit merunduk di antara rerumputan tinggi, anoa yang sedari tadi diam itu merasakan satu hal: inilah kesempatannya.
Dalam sekejap, ia menghentak, melompat turun, dan lari secepat mungkin menembus semak. Buaya yang terkejut hanya bisa terdiam, kehilangan mangsanya yang tadi ia kira sudah tak bernyawa.
Dari kejauhan, dengan suara menggema, anoa itu berbalik dan berkata kepada rombongan buaya yang baru saja tiba:
"Wahai jobajat-jobajatku, kalian sudah bersiap hendak menyantapku — tapi ternyata kalian tak sanggup benar-benar mendapatkanku!"
Selepas kalimat itu, ia melesat pergi dan menghilang ke dalam hutan. Para buaya sempat mengejar, namun kaki mereka yang terbiasa di air tak pernah cukup cepat untuk mengejar seekor anoa yang berlari di daratan.
Akal Sederhana, Pelajaran yang Tak Lekang
Tidak ada mantra sakti, tidak ada kekuatan gaib dalam cerita ini. Hanya satu keputusan tenang di detik-detik paling genting: berpura-pura kalah, agar sungguh-sungguh menang di ujung cerita. Fabel pendek ini merekam sesuatu yang barangkali sudah lama dipahami masyarakat Bolaang Mongondow lama — bahwa yang bertahan bukan selalu yang terkuat cengkeramannya, melainkan yang paling tenang membaca situasi sebelum bertindak.
Referensi: Dunnebier, W. Bolaang Mongondowse Teksten, cerita No. 3 "Tagoedang bo Bantong" / "Krokodil en Antilope". 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1953. Diterbitkan di bawah naungan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV).
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan sumber primer yang disebutkan dalam referensi di atas. Seluruh alur cerita, nama tokoh (anoa/bantong dan buaya/tagoedang), serta detail peristiwa bersumber langsung dari teks asli dan terjemahan Belanda pada halaman yang dirujuk, termasuk catatan kaki identifikasi spesies (anoa depressicornis). Penulis menyajikan ulang cerita dalam gaya bahasa naratif agar lebih mudah dinikmati pembaca modern, tanpa menambahkan tokoh, kejadian, maupun pesan moral eksplisit di luar apa yang tertera dalam sumber.
