Masuk ke Pena Sehat
Gunakan akun Google Anda untuk mengakses semua fitur eksklusif
atau
Dengan masuk, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami
👋
Keluar dari akun?
Anda akan keluar dari sesi yang sedang aktif. Apakah Anda ingin melanjutkan?
NEW UPDATES
Memuat berita terbaru...
📢 BROADCAST

​Kisah Bolai dan Tagoedang: Dongeng Tertua Sulawesi yang Penuh Plot Twist Tak Terduga

Kera dan Buaya dari Bolaang Mongondow: Fabel Tertua yang Terlupakan dari Utara Sulawesi

Oleh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat


Ketika Kera dan Buaya Berhadapan di Tanah Bolaang Mongondow

Di banyak pelosok Nusantara, kita akrab dengan kisah kancil yang mengakali buaya. Namun di utara Pulau Sulawesi, di tanah Bolaang Mongondow, ada sepasang cerita yang jauh lebih tua dari yang kita duga — dan tokohnya bukan kancil, melainkan seekor kera (bolai) yang berhadapan langsung dengan buaya (tagoedang).

Dua cerita ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Ia adalah pembuka mutlak dari seluruh kelompok "Cerita Binatang" dalam naskah tua Bolaang Mongondow yang tercatat sejak tahun 1953. Dan uniknya, keduanya menyuguhkan pertarungan akal yang saling berbalas — bukan sekadar kisah "yang lemah selalu menang".

Mari kita masuk ke dalam ceritanya.


Cerita Pertama — Tagoedang bo Bolai: Hitungan Palsu di Tepi Sungai

Di sebuah sungai yang tenang, seekor kera sedang sibuk mengais makanan di antara tumpukan ranting dan semak. Ia tak menyadari bahaya yang sudah mengendap. Ketika ia menoleh, lima ekor buaya telah menghadangnya dari depan — dan seekor buaya lain, yang paling licik di antara mereka, telah menerkamnya dari belakang.

Kera itu terkejut, tetapi tidak panik. Dengan suara tenang, ia memohon kepada buaya yang mencengkeramnya:

"Tunggu sebentar. Izinkan aku menghitung dulu berapa banyak kalian yang mengepungku."

Buaya itu, entah karena sombong atau merasa mangsanya tak mungkin lolos, mengizinkan. Kera pun mulai melompat-lompat sambil berhitung. Namun setiap kali melompat, ia sengaja melewatkan satu buaya dari hitungannya. Ketika salah satu buaya yang terlewat protes, kera hanya menjawab santai bahwa ia akan kembali menghitungnya nanti.

Dan "nanti" itu tidak pernah datang.

Begitu selesai bicara, kera melompat jauh ke tepian, memanjat pohon beringin tertinggi, lalu menertawakan buaya-buaya itu dari atas — puas karena berhasil mengelabui mereka semua.

Tawa itu membakar hati para buaya. Malam harinya, mereka berkumpul dan bermufakat. Tiga hari mereka menyusun rencana balasan. Akhirnya, seekor buaya yang paling licik menyusup ke balik akar-akar pohon beringin — pohon tempat para kera biasa memanjat setiap kali kembali dari mencari makan. Sebelum bersembunyi, ia berbisik kepada pohon itu:

"Diamlah jika kera menyapamu. Biar aku yang menjawab, menirukan suaramu."

Ketika rombongan kera pulang, kera pertama menyapa pohon seperti biasa — hening, tak ada jawaban. Kera kedua menyapa lagi. Kali ini terdengar jawaban dari akar pohon. Tapi ada yang salah. Suara itu terlalu berat, terlalu kasar, tidak seperti suara pohon beringin yang biasanya lembut menyambut mereka.

Kera-kera itu langsung tersadar: ada buaya bersembunyi di sana.

Mereka lari, memanjat pohon lain, dan sekali lagi selamat dari maut. Bukan karena lebih kuat, tetapi karena telinga mereka lebih jeli menangkap kejanggalan sekecil apa pun.


Cerita Kedua — Bolai bo Tagoedang: Jembatan Hidup di Tengah Laut

Cerita kedua dimulai dari posisi yang jauh lebih genting. Kali ini, kera bukan sang pemburu makanan yang tenang — ia adalah korban arus.

Terseret banjir dari hutan, ia terdampar di sebuah karang di tengah laut. Dua hari ia terjebak di sana, tanpa makanan, tanpa jalan pulang. Laut mengelilinginya dari segala arah, dan daratan tampak seperti bayangan yang mustahil digapai.

Di hari kedua itulah, seekor buaya datang untuk berjemur di karang yang sama. Begitu melihat kera, ia langsung menangkapnya. Nasib kera tampak sudah di ujung tanduk.

Tetapi kera Bolaang Mongondow bukan kera biasa. Ia berkata:

"Sebelum kau memakanku, panggillah dulu semua teman-temanmu. Aku ingin menghitung berapa jumlah kalian, sebab kera-kera di tempatku sangatlah banyak — jika hanya kau seorang, tidak akan cukup."

Buaya itu tergiur. Ia pergi memanggil kawanannya, meninggalkan kera sendirian di atas karang. Dan selama ditinggal itulah, kera bekerja cepat: ia memenuhi seluruh permukaan karang dengan jejak-jejak kakinya, mondar-mandir tanpa henti, hingga karang itu tampak seolah-olah baru saja diinjak oleh puluhan kera.

Ketika para buaya kembali dalam jumlah besar, kera menunjuk jejak-jejak itu dengan wajah polos, lalu berkata:

"Lihatlah, kera-kera kami memang sangat banyak. Agar mudah kuhitung kalian semua, berbarislah memanjang dari karang ini hingga ke daratan di sebelah timur."

Para buaya, yang tak pernah menaruh curiga, menuruti perintah itu. Satu demi satu mereka membentuk barisan panjang di atas permukaan laut — sebuah jembatan hidup dari sisik dan taring, terbentang dari karang hingga ke pantai.

Kera pun mulai melompat. Dari punggung buaya pertama ke punggung buaya kedua, dari yang kedua ke yang ketiga, sambil berpura-pura menghitung dengan lantang. Semakin dekat ke daratan, semakin cepat lompatannya. Hingga akhirnya, kakinya menyentuh pasir pantai, dan tanpa menoleh sekali pun, ia langsung memanjat pohon terdekat.

Dari atas pohon itu, ia berteriak kepada para buaya:

"Aku telah mengalahkan kalian semua tanpa perlu bertarung sekalipun!"

Sadar telah ditipu mentah-mentah, para buaya murka. Namun amarah itu tidak tertuju pada kera yang sudah aman di atas pohon — ia tertuju kepada sesama mereka sendiri. Mereka saling menyalahkan, saling menyerang, saling menerkam. Pertarungan itu berlangsung tanpa henti hingga akhirnya seluruh buaya mati oleh gigitan bangsanya sendiri.


Referensi: Dunnebier, W. Bolaang Mongondowse Teksten. 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1953. Diterbitkan di bawah naungan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV). 

Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan sumber primer yang disebutkan dalam referensi di atas. Seluruh alur cerita, nama tokoh (kera/bolai dan buaya/tagoedang), serta detail peristiwa bersumber langsung dari teks asli dan terjemahan Belanda pada halaman yang dirujuk. Penulis menyajikan ulang cerita dalam gaya bahasa naratif agar lebih mudah dinikmati pembaca modern, tanpa menambahkan tokoh, kejadian, maupun pesan moral eksplisit di luar apa yang tertera dalam sumber.

Reaksi Anda
Lebih baru Lebih lama
Jelajahi
Lainnya
Tulis Artikel Dukung Kami Meet Our Team