Oleh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat
Dongeng yang Membuka Babak Baru
Jika kisah-kisah sebelumnya penuh darah dan tipu daya melawan raksasa Soelap, legenda kali ini membawa kita ke wilayah dongeng yang lebih megah dan ajaib: cinta seorang putri yang menolak segala pinangan bangsawan, kehamilan dengan permintaan-permintaan aneh, seorang bayi yang dihanyutkan di sungai, dan seekor ayam sakti yang mampu menciptakan seluruh kerajaan hanya dengan kepakan sayapnya.
Putri yang Menolak Semua Pangeran
Alkisah, seorang raja dan permaisuri memiliki seorang putri yang tumbuh dengan kecepatan luar biasa—disusui, ia tumbuh; dimandikan, ia tumbuh; diayun, ia tumbuh—hingga dalam waktu singkat sudah menjadi gadis dewasa dan segera dipingit di loteng istana.
Banyak putra bangsawan melamarnya, namun semua ditolak. Sang putri hanya menghendaki satu hal: seorang putra djogugu (pejabat tinggi kerajaan)—dan ia harus dilarikan, bukan dilamar secara resmi. Ia pun membuat janji rahasia dengan pemuda pilihannya, Ondo': "Aka bongkoegonkoe kon toekad, jo moponag iikow" — "Jika aku mengetuk tangga, turunlah kau."
Pelarian di Tengah Malam
Tepat tengah malam, Ondo' datang mengetuk tangga. Sang putri pun turun dan digendongnya menyusuri dasar sungai besar yang kebetulan sedang kering. Di dekat mata air sungai itu, ia menempatkan sang putri di antara akar-akar papan pohon besar untuk beristirahat.
Pada malam ketiga, Ondo' mengeluh, "Boea', totoeoe motonow iakoeoi!" — "Putri, aku sangat kedinginan!" Sang putri menjawab, "Kojot kom palad in siolkoe" — "Peluklah telapak kakiku." Tiga hari kemudian, sang putri telah mengandung.
Ngidam yang Tak Biasa
Kehamilan sang putri membawa permintaan-permintaan yang jauh dari lazim. Pertama ia berkata, "Ondo', totoeoe iakoeoi moïbog in toengow" — "Ondo', aku sangat ingin makan kutu daun." Mendengar itu, Ondo' menangis tujuh hari tujuh malam, lalu berguling melintasi tujuh gunung, dan baru kembali setelah mengumpulkan kutu daun dari tubuhnya sendiri, penuh tiga ruas bambu.
Kehamilan itu lalu "berpindah" ke betis sang putri, dan ia mendambakan telur udang—Ondo' pun menyusuri sungai, memerah telur dari setiap udang yang ditangkapnya sebelum melepaskannya kembali. Ketika kehamilan berpindah ke paha, sang putri mendamba telur ikan laut, dan usia kandungan pun telah genap sembilan bulan.
Bayi dalam Peti Kaca
Ondo' pergi melaut mencari telur ikan itu—dan tepat saat ia tak ada, sang putri melahirkan seorang putra. Tanpa menunggu, ia terbang ke loteng, mengambil sebuah peti kaca, sehelai sarung, dan sebutir telur. Bayi itu, bersama telur tersebut, dimasukkannya ke dalam peti kaca lalu dihanyutkan mengikuti arus sungai.
Peti itu terombang-ambing melewati enam pusaran air, dan setiap kali sang bayi bertanya apakah mereka boleh mendaki gunung di situ, seekor ayam jantan—yang menetas dari telur yang menyertainya—selalu menjawab, "Dika-pa, sin deeman-bi' totaboean-naton i naa" — "Belum boleh, sebab ini bukan tanah leluhur kita." Baru pada pusaran ketujuh, mereka akhirnya mendaki Gunung Potolo'.
Ayam Sakti yang Menciptakan Segalanya
Di lereng gunung itulah keajaiban dimulai. Setiap kali sang bayi—yang entah bagaimana tumbuh dewasa hanya dalam hitungan hari—mengeluh lapar, haus, atau lelah, sang ayam berkata, "Pomilog iikow pokoringkoet!" — "Pejamkanlah matamu erat-erat!" Begitu mata terpejam, ayam itu mengepakkan sayapnya, dan seketika hidangan lengkap sudah tersedia.
Permintaan demi permintaan pun terkabul lewat kepakan sayap sang ayam: lereng gunung yang curam menjadi rata bak diukur tali lurus, rumah-rumah bermunculan, disusul ternak—sapi, kuda, kambing, ayam—lalu benteng setinggi pohon kelapa mengelilingi desa, hingga akhirnya suara tangis bayi-bayi bergema dan penduduk pun memenuhi desa yang baru lahir itu. Pertanyaan terakhir sang anak, "Onda im baloi pogoetoenan-natonda?" — "Di mana rumah tempat kita akan tinggal?"—dijawab dengan munculnya sebuah istana bertiang tunggal yang puncaknya menjulang ke langit. Di situlah sang anak—kini dikenal sebagai abo' (pangeran) Insi-insiribiboelawan—menetap, sementara sang ayam bertengger di puncak atapnya.
Kerajaan yang Dianggap Dusta
Suatu hari, seorang budak raja yang sedang berburu ayam hutan menemukan desa megah itu dan melaporkannya. Sang raja hanya mencibir, "Oebol, dia' totoeoemoe!" — "Bohong, kau tidak berkata benar!" Namun setelah utusan lain mengonfirmasi kebenarannya—bahkan membawa pulang makanan dari sana—raja pun mengumpulkan seluruh rakyatnya untuk merencanakan penyerbuan.
Ketika pasukan raja tiba di halaman istana, pangeran Insi-insiribiboelawan hanya meludahkan sebutir pinang tua ke arah mereka—dan seketika seluruh rombongan itu pingsan tak sadarkan diri. Untunglah sang ayam sakti menghidupkan mereka kembali. Sang raja pun meminta maaf, dan akhirnya ikut menetap di desa ajaib itu.
Melamar ke Barat, Menjinakkan Lautan
Setelah peristiwa itu, pangeran Insi-insiribiboelawan berlayar ke barat bersama sang ayam untuk meminang putri raja negeri barat. Sebagai mas kawin, ia mendirikan tujuh rumah panggung—empat dipenuhi uang, tiga dipenuhi emas. Pernikahan pun berlangsung megah.
Namun ketika hendak membawa sang istri pulang ke timur, laut bergolak ganas hingga sang putri ketakutan. Suaminya lantas mencelupkan sejarinya ke laut—dan seketika ombak itu tenang selama tujuh hari tujuh malam penuh. Mereka pun berlayar pulang dengan selamat dan menetap di istana megah sang pangeran.
Warisan Sebuah Dongeng Ajaib
Legenda Insi-insiribiboelawan adalah salah satu kisah paling kaya dalam koleksi naskah ini—memadukan motif universal seperti anak yang dihanyutkan di air (mengingatkan pada kisah-kisah serupa di berbagai budaya dunia) dengan kearifan lokal tentang tanah leluhur, mas kawin, dan penghormatan terhadap kekuatan alam. Para peneliti bahkan mencatat bahwa kisah ini memiliki kemiripan erat dengan cerita rakyat Tontemboan dari Minahasa—bukti bagaimana motif dongeng ini pernah mengalir luas di seluruh Sulawesi Utara.
Suka dengan kisah purba ini? Bagikan artikel ini kepada teman-teman Anda yang mencintai cerita rakyat Nusantara, atau tinggalkan like agar kami semangat menggali lebih banyak naskah kuno yang tersembunyi.
Referensi: Dunnebier, W. Bolaang Mongondowse Teksten, cerita No. 41 "Ki Abo' i Insi-insiribiboelawan" / "De jonker Insi-insiribiboelawan". 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1953. Diterbitkan di bawah naungan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV). Dunnebier mencatat bahwa cerita No. 41–45 memiliki banyak kesamaan motif dengan cerita rakyat Tontemboan (Minahasa) No. 16–22.
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan sumber primer yang disebutkan dalam referensi di atas, termasuk kutipan singkat bahasa Bolaang Mongondow asli yang diterjemahkan berdasarkan terjemahan Belanda dalam naskah tersebut. Seluruh alur cerita dan tokoh (sang putri, Ondo', pangeran Insi-insiribiboelawan, sang ayam sakti, dan raja yang menyerbu) bersumber langsung dari teks yang dirujuk. Penulis menyajikan ulang cerita dalam gaya bahasa naratif yang lebih hidup, sesuai genre dongeng ajaib (fairy tale) dalam sumber aslinya, tanpa menambahkan tokoh, kejadian, maupun pesan moral tambahan di luar apa yang tertera dalam sumber.




