Oleh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat
Cerita rakyat Sulawesi Utara menyimpan banyak kisah yang belum dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah cerita rakyat Bolaang Mongondow berjudul Koejajoet bo Bantong, sebuah fabel kuno yang mengisahkan bagaimana seekor kerang sungai mampu mengalahkan anoa bukan dengan kekuatan, melainkan melalui kecerdikan dan strategi. Kisah ini berasal dari naskah klasik karya W. Dunnebier yang diterbitkan pada tahun 1953, sehingga menjadi salah satu warisan sastra lisan Bolaang Mongondow yang memiliki nilai budaya sekaligus memperlihatkan kekayaan tradisi bercerita masyarakat Sulawesi Utara.
Ketika Kesombongan Bertemu Kesabaran di Tepi Sungai
Masih dari kumpulan naskah tua Bolaang Mongondow yang sama, ada satu fabel lagi yang menampilkan bantong (anoa) sebagai tokoh utama. Namun kali ini lawannya bukan buaya yang bertaring, melainkan makhluk yang jauh lebih kecil dan lamban: seekor koejajoet, kerang sungai.
Di permukaan, ini tampak seperti pertarungan yang sudah pasti pemenangnya. Tapi cerita rakyat sering kali punya cara sendiri untuk membalik logika itu.
Koejajoet bo Bantong: Tantangan di Bibir Sungai
Alkisah, seekor bantong sedang mencari makan di toebig (sungai) yang besar, ketika ia bertemu seekor koejajoet di tepian air. Kerang itu, dengan nada menantang, berkata:
"Wahai bantong, kalau aku yang mengejarmu, kau tidak akan bisa lolos dariku."
Anoa itu tak percaya seekor kerang bisa berkata demikian. Namun alih-alih menertawakannya di tempat, ia menjawab dengan tenang:
"Kalau begitu benar adanya, mari kita bertemu lagi di sini tiga hari dari sekarang."
Setelah berkata demikian, bantong pun kembali ke hutan, meninggalkan koejajoet sendirian di tepi sungai.
Siasat dalam Cerita Rakyat Bolaang Mongondow: Rapat Rahasia Para Kerang
Malam harinya, seluruh koejajoet di sungai itu berkumpul dan bermusyawarah. Sang raja kerang memberi perintah kepada seluruh bala tentaranya:
"Wahai kalian semua, begitu hari ketiga tiba, kita harus membentuk barisan tanpa putus di sepanjang sungai ini."
Ketika hari ketiga datang, para koejajoet telah berjejer rapat, membentang tanpa celah dari hilir sungai hingga ke hulunya — sebuah barisan panjang yang siap menipu mata siapa pun yang melintas.
Bagaimana Kerang Sungai Mengalahkan Anoa dalam Fabel Bolaang Mongondow?
Bantong pun datang sesuai janji dan berseru, "Di mana kau, koejajoet?" Dari tepi terdekat terdengar jawaban, "Ini aku!" — lalu suara itu menantang, "Larilah, bantong, sebab aku akan mengejarmu."
Anoa itu pun berlari sekuat tenaga ke arah hulu. Kecepatannya begitu dahsyat, batu-batu di sepanjang jalur larinya terpental ke segala arah. Ketika ia berhenti untuk mengambil napas, ia berteriak lagi, "Di mana kau, koejajoet?" — dan dari tempat itu juga, seekor koejajoet lain menjawab santai, "Kalau begitu saja caramu berlari, kau tak akan bisa mengalahkanku."
Malu dan tak percaya, bantong berlari lagi sekuat mungkin — hingga batas kemampuannya. Berhenti lagi, memanggil lagi, dan jawaban yang sama selalu muncul dari depan: "Aku sudah di sini duluan."
Didorong rasa malu yang kian membakar, ia berlari lagi secepat angin, lalu berlari lagi tanpa henti — hingga akhirnya tubuhnya benar-benar kehabisan tenaga. Ia tergelincir dari sebuah lereng, dan seketika itu juga, bantong yang perkasa itu mati kelelahan.
Ejekan Terakhir dari yang Dianggap Lemah
Mendengar kabar itu, seluruh koejajoet berkumpul mengelilingi tubuh bantong yang telah tak bernyawa. Mereka berkata:
"Selama ini selalu terdengar kau lebih cepat dariku. Tapi nyatanya, akulah yang lebih cepat darimu!"
Rahasia di balik kemenangan itu sederhana: bukan satu koejajoet yang berlari mengejar, melainkan puluhan koejajoet yang telah berjajar lebih dulu di sepanjang sungai, menunggu di setiap titik yang akan dilewati bantong. Anoa itu tak pernah benar-benar berlomba melawan satu lawan — ia berlomba melawan kesombongannya sendiri.
Menariknya, dalam catatan Dunnebier disebutkan bahwa peneliti Schwarz juga pernah mencatat pola cerita serupa, yang dalam kumpulan naskah ini muncul kembali pada Cerita No. 5 dan No. 6 — menandakan bahwa motif "yang kecil mengalahkan yang cepat lewat siasat berjejer" ini cukup dikenal luas di tanah Bolaang Mongondow lama.
Suka dengan kisah purba ini? Bagikan artikel ini kepada teman-teman Anda yang mencintai cerita rakyat Nusantara, atau tinggalkan like agar kami semangat menggali lebih banyak naskah kuno yang tersembunyi.
Mengapa Cerita Rakyat Bolaang Mongondow Ini Layak Dilestarikan?
Fabel Koejajoet bo Bantong bukan sekadar kisah tentang kerang sungai dan anoa. Cerita ini menjadi bagian dari kekayaan cerita rakyat Bolaang Mongondow yang diwariskan turun-temurun dan kemudian didokumentasikan dalam naskah klasik oleh W. Dunnebier. Keberadaan naskah tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Bolaang Mongondow telah memiliki tradisi sastra lisan yang kaya, berisi kisah tentang kehidupan, alam, dan satwa endemik Sulawesi yang dikemas dalam bentuk fabel. Dengan mengenalkan kembali cerita-cerita seperti ini kepada generasi muda, warisan budaya lokal tidak hanya tetap hidup, tetapi juga semakin dikenal oleh masyarakat Indonesia maupun pembaca dari berbagai negara.
Referensi: Dunnebier, W. Bolaang Mongondowse Teksten, cerita No. 4 "Koejajoet bo Bantong" / "Schelpdier en Antilope". 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1953. Diterbitkan di bawah naungan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV).
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan sumber primer yang disebutkan dalam referensi di atas. Seluruh alur cerita, nama tokoh (anoa/bantong dan kerang sungai/koejajoet), serta detail peristiwa bersumber langsung dari teks asli dan terjemahan Belanda pada halaman yang dirujuk, termasuk catatan pembanding dari peneliti Schwarz. Penulis menyajikan ulang cerita dalam gaya bahasa naratif agar lebih mudah dinikmati pembaca modern, tanpa menambahkan tokoh, kejadian, maupun pesan moral eksplisit di luar apa yang tertera dalam sumber.
