Masuk ke Pena Sehat
Gunakan akun Google Anda untuk mengakses semua fitur eksklusif
atau
Dengan masuk, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami
๐Ÿ‘‹
Keluar dari akun?
Anda akan keluar dari sesi yang sedang aktif. Apakah Anda ingin melanjutkan?
NEW UPDATES
Memuat berita terbaru...
๐Ÿ“ข BROADCAST

Surga di Kananku, Neraka di Kiriku: Cara Seorang Ulama Membangun Khusyuk dalam Shalat

Surga di Kananku, Neraka di Kiriku: Cara Seorang Ulama Membangun Khusyuk dalam Shalat

Oleh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat


Pendahuluan: Khusyuk, Sesuatu yang Sering Diucapkan tapi Sulit Dirasakan

Hampir setiap orang yang shalat pernah mendengar anjuran untuk "khusyuk". Tapi bagaimana caranya membangun khusyuk itu secara konkret, bukan sekadar konsep abstrak? Pertanyaan ini ternyata sudah dijawab panjang lebar oleh para ulama klasik, salah satunya tercatat dalam kitab Ithaf as-Sadah al-Muttaqin bi Syarhi Ihya' Ulumiddin karya Imam Murtadha az-Zabidi—kitab syarah atas Ihya' Ulumiddin karya Imam al-Ghazali.

Dalam pembahasan tentang keutamaan masjid dan tempat shalat, az-Zabidi mengutip sebuah metode visualisasi yang diajarkan oleh seorang ulama bernama Hatim. Metode ini begitu detail dan bertahap, sehingga layak ditelusuri lebih dalam.


Langkah Pertama: Posisikan Diri Sebelum Shalat Dimulai

Az-Zabidi menjelaskan, sebelum seseorang masuk ke dalam shalat, ia dianjurkan untuk lebih dulu mendatangi tempat yang ia inginkan untuk shalat di sana, lalu duduk sejenak sampai seluruh anggota tubuhnya—baik yang lahir maupun batin—benar-benar tenang dan berkumpul, sebelum akhirnya ia berdiri untuk shalat.

Persiapan ini penting, karena menurut penjelasan dalam kitab tersebut, kekhusyukan dalam shalat dimulai jauh sebelum takbir diucapkan—yaitu dari kesadaran dan kewaspadaan terhadap lintasan-lintasan pikiran serta gangguan yang mungkin muncul.


Visualisasi Hatim: Ka'bah di Hadapan, Shirath di Bawah Telapak Kaki

Bagian paling khas dari kutipan ini adalah ucapan Hatim yang disebutkan oleh az-Zabidi. Hatim mengajarkan sebuah cara membayangkan posisi diri saat shalat:

"Jadikanlah Ka'bah seakan-akan terlihat di antara dua alismu (tepat di hadapanmu), dan jembatan shirath berada di bawah telapak kakimu, seakan-akan engkau sedang berdiri di atasnya."

Visualisasi ini lalu dilanjutkan dengan gambaran yang lebih mendalam lagi:

"...seakan-akan surga berada di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, dan malaikat maut—yang ditugaskan mencabut nyawa—berada di belakangku, seakan-akan ia sedang hendak mencabut ruhku. Dan aku mengira inilah shalatku yang terakhir."

Dari sinilah kemudian seseorang dianjurkan untuk berdiri dalam shalatnya dengan dua perasaan yang berimbang: raja' (pengharapan) dan khauf (rasa takut)—lalu bertakbir dengan penuh penghayatan, membaca ayat dengan tartil (perlahan dan jelas), kemudian ruku' dan sujud dengan ketundukan yang sesungguhnya.


Mengapa Visualisasi Ini Penting Dipahami dengan Benar?

Ada satu hal yang perlu digarisbawahi secara jujur: kutipan ucapan Hatim ini adalah nasihat dan metode dari seorang ulama, bukan hadits yang berasal langsung dari Nabi Muhammad ๏ทบ. Az-Zabidi menempatkannya dalam pembahasan sebagai salah satu cara praktis yang diajarkan ulama untuk membangun kehadiran hati (hudhur al-qalb) saat shalat.

Memahami posisi sumber ini penting, supaya kita bisa menempatkannya secara proporsional: ini adalah metode atau tips spiritual yang teruji dipakai oleh para ulama terdahulu untuk melatih kekhusyukan, bukan rumusan yang wajib diikuti secara harfiah oleh setiap orang.


Tiga Pelajaran dari Visualisasi Ini

Pertama, menghadirkan Ka'bah secara mental di hadapan kita saat shalat membantu fokus, karena secara fisik pun kita memang menghadap ke arahnya.

Kedua, membayangkan shalat sebagai shalat yang terakhir adalah cara untuk menumbuhkan kesungguhan. Ini sejalan dengan pesan yang sering disampaikan dalam berbagai riwayat tentang shalat sebagai momen perjumpaan terakhir antara hamba dan Tuhannya.

Ketiga, posisi "antara raja' dan khauf"—antara harap dan takut—mengajarkan keseimbangan emosi spiritual: tidak terlalu yakin diri sehingga lupa diri, tapi juga tidak terlalu takut sehingga kehilangan harapan akan rahmat Allah ๏ทป.


Penutup

Metode visualisasi yang diajarkan Hatim dan dikutip oleh az-Zabidi ini menunjukkan bahwa para ulama klasik sudah memikirkan secara serius bagaimana cara membangun kekhusyukan secara bertahap dan konkret—bukan sekadar menyuruh orang untuk "khusyuk" tanpa penjelasan. Semoga uraian ini bisa menjadi salah satu cara bagi kita untuk menghadirkan hati lebih dalam saat berdiri di hadapan Allah ๏ทป.


Referensi: Murtadha az-Zabidi, Ithaf as-Sadah al-Muttaqin bi Syarhi Ihya' Ulumiddin, Jilid 3 (Kitab Asrar ash-Shalah, Bab Fadhilah al-Masjid), Beirut: Mu'assasah at-Tarikh al-'Arabi, cet. 1414 H/1994 M, hal. 26.

Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan sumber primer yang disebutkan dalam referensi di atas. Semua fakta, nama tokoh, dan kutipan yang dicantumkan bersumber dari data yang tersedia dalam kitab tersebut. Penulis tidak menambahkan informasi di luar yang tertera dalam sumber.

Reaksi Anda
Lebih baru Lebih lama
Jelajahi
Lainnya
Tulis Artikel Dukung Kami Meet Our Team