Masuk ke Pena Sehat
Gunakan akun Google Anda untuk mengakses semua fitur eksklusif
atau
Dengan masuk, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami
👋
Keluar dari akun?
Anda akan keluar dari sesi yang sedang aktif. Apakah Anda ingin melanjutkan?
NEW UPDATES
Memuat berita terbaru...
📢 BROADCAST

6 Pendekar Bogani Gagal, Seekor Kera Ini Justru Tumpas Raksasa Soelap

Enam Pendekar Bogani Gagal, Seekor Kera yang Menumpas Raksasa Soelap

Oleh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat


Memasuki Babak Baru: Dari Dongeng Binatang ke Legenda Kepahlawanan

Naskah kuno Bolaang Mongondow ini membuka babak yang sepenuhnya baru. Setelah dua puluh satu kisah dongeng binatang murni dan delapan kisah interaksi binatang-manusia, koleksi ini kini beralih ke ranah yang jauh lebih megah: legenda para bogani—pendekar atau ksatria dalam tradisi lisan Bolaang Mongondow—yang berhadapan langsung dengan Soelap, sosok raksasa pemakan manusia yang telah berulang kali kita jumpai. Namun kisah pembuka Grup III ini menyimpan kejutan besar: bukan para pendekar gagah yang menjadi penumpas sejati, melainkan anggota ketujuh kelompok mereka yang paling diremehkan.


Tujuh Sekawan di Tepi Pantai

Alkisah, ada enam orang bogani yang senantiasa bersama, dan yang ketujuh dari kelompok itu adalah seekor kera. Bersama-sama mereka membangun sebuah gubuk beratap rumbia sepanjang tujuh depa di tepi pantai, sebagai tempat tinggal selama mereka menjaring ikan dengan pukat.

Suatu pagi yang masih gelap, mereka berangkat menjaring dan berhasil menangkap ikan sebanyak tiga perahu penuh. Sang pemimpin memutuskan untuk pulang dan mengasap hasil tangkapan itu—sebuah keputusan yang tampak sederhana, namun akan segera mengundang malapetaka.


Pencuri yang Tak Kunjung Tertangkap

Keesokan harinya, sang pemimpin menugaskan salah satu pendekar untuk berjaga di gubuk, sementara yang lain kembali menjaring ikan sebanyak yang pertama. Namun begitu mereka pulang, tempat pengasapan mereka telah kosong sama sekali—seluruh ikan telah dilahap oleh Soelap, dan sisa yang tak sanggup dimakannya dibawa pulang ke sarangnya sendiri di dalam keranjang pikul.

Amarah membakar hati para pendekar. Salah satu dari mereka bersumpah akan menjaga rumah dan melawan pencuri itu langsung. Namun ketika Soelap benar-benar datang, sang pendekar penjaga justru gentar dan bersembunyi ketakutan, membiarkan raksasa itu kembali melahap habis persediaan ikan mereka. Satu demi satu, para pendekar yang gagah berani itu mencoba dan gagal—tak satu pun sanggup menghadapi Soelap secara langsung.


Giliran yang Paling Diremehkan

Setelah enam pendekar gagal seluruhnya, kera—anggota ketujuh yang selama ini tak pernah diperhitungkan—mengajukan diri untuk berjaga. Keenam pendekar meremehkannya, "Yang lebih kuat dari kau saja sudah banyak yang gagal membunuhnya, apalagi kau, bertubuh sekecil ini?" Namun kera tetap bersikeras, "Biarkan aku mencoba dulu."

Keenam pendekar pun berangkat menjaring seperti biasa, meninggalkan kera sendirian di gubuk. Alih-alih berjaga waspada, kera justru tertidur pulas—sebuah siasat yang akan segera terbukti jauh lebih cerdik daripada kelihatannya.


Siasat "Langit Runtuh" yang Mematikan

Ketika Soelap datang dan mendapati kera tertidur, ia mengendap-endap mendekat untuk mencuri makanan. Namun kera berpura-pura baru terbangun dan justru mengundangnya, "Kemarilah, ayah, mari kita makan bersama." Soelap yang tak menaruh curiga pun duduk dan makan bersama kera.

Selesai makan, kera diam-diam mengunyah sirih dan meludahkannya hingga mengalir ke bawah lantai gubuk. Dengan nada panik yang meyakinkan, kera menunjuk ke atas, "Aduh, ayah, lihat itu—langit sudah retak dan akan runtuh menimpa kita!" Soelap yang ketakutan segera bertanya ke mana harus berlindung. Kera pun "menolongnya" dengan mengikat tubuh dan leher Soelap erat-erat pada dahan pohon beringin—dengan dalih agar raksasa itu tidak tertimpa reruntuhan langit.


Ganjaran bagi Sang Raksasa Pemakan Manusia

Begitu ikatan benar-benar kuat dan Soelap sepenuhnya tak berdaya, kera membuka kedoknya, "Sialan kau, Soelap! Sudah kutipu kau—langit sama sekali tidak retak!" Soelap yang murka tak lagi bisa berbuat apa-apa. Kera pun mengambil kayu keras pohon aren dan menghabisi Soelap di tempat, tubuhnya tertusuk-tusuk terikat pada dahan pohon beringin hingga tewas.

Setelah membereskan Soelap, kera kembali ke gubuk, mencabut salah satu tiang penyangga hingga lantai gubuk roboh—mungkin sebagai bagian dari kelelahan pertarungannya, atau sekadar bukti betapa dahsyatnya pergulatan yang baru saja terjadi.


Kepulangan Enam Pendekar yang Terkejut

Ketika keenam pendekar kembali dan mendapati kera terbaring kelelahan, mereka bertanya cemas apa yang terjadi. Kera menjawab dengan tenang, "Untunglah kalian tidak berhasil menaklukkan Soelap! Aku sudah membunuhnya—lihat, dia sudah kuikat mati di dahan pohon beringin itu." Naskah asli bahkan menyertakan catatan yang menegaskan sifat Soelap: seorang pelahap rakus dan pemakan manusia yang telah lama meresahkan.

Kisah pembuka Grup III ini menghadirkan tema klasik yang universal dalam sastra kepahlawanan dunia: kekuatan sejati sering kali datang bukan dari otot terbesar, melainkan dari kecerdikan pihak yang paling diremehkan.


Suka dengan kisah purba ini? Bagikan artikel ini kepada teman-teman Anda yang mencintai cerita rakyat Nusantara, atau tinggalkan like agar kami semangat menggali lebih banyak naskah kuno yang tersembunyi.


Referensi: Dunnebier, W. Bolaang Mongondowse Teksten, cerita No. 32 "Bogani, Bolai bo Ki Soelap" / "Helden, een Aap en Soelap". 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1953. Diterbitkan di bawah naungan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV).

Disclaimer: Artikel ini merupakan penulisan ulang interpretatif atas legenda rakyat (folklore) Bolaang Mongondow yang didokumentasikan dalam sumber primer sebagaimana disebutkan dalam referensi di atas. Alur cerita dan tokoh (enam pendekar bogani, kera/bolai, dan raksasa Soelap) merupakan bagian dari tradisi lisan masyarakat Bolaang Mongondow, disajikan ulang oleh penulis dalam gaya bahasa naratif yang lebih hidup dan bernuansa kepahlawanan, tanpa menambahkan tokoh, kejadian, maupun pesan moral tambahan di luar apa yang tertera dalam sumber. Artikel ini bukan merupakan terjemahan langsung dari naskah asli, melainkan tulisan ulang dengan bahasa dan struktur kalimat sendiri untuk tujuan edukasi dan dokumentasi budaya. Kutipan referensi akademis dicantumkan sebagai bentuk transparansi dan penghormatan terhadap sumber, bukan sebagai klaim kepemilikan atas naskah maupun terjemahan aslinya.

Reaksi Anda
Lebih baru Lebih lama
Jelajahi
Lainnya
Tulis Artikel Dukung Kami Meet Our Team