Masuk ke Pena Sehat
Gunakan akun Google Anda untuk mengakses semua fitur eksklusif
atau
Dengan masuk, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami
👋
Keluar dari akun?
Anda akan keluar dari sesi yang sedang aktif. Apakah Anda ingin melanjutkan?
NEW UPDATES
Memuat berita terbaru...
📢 BROADCAST

​Tragedi di Ujung Mulut Kucing: Fabel Persahabatan Palsu dari Bolaang Mongondow

Persahabatan yang Berakhir di Mulut Kucing: Kisah Tikus dan Kucing dari Bolaang Mongondow

Oleh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat


Tikus dan Kucing liar bersahabat sebelum mencuri makanan

Sebuah Fabel Pendek dengan Pesan yang Tajam

Naskah kuno Bolaang Mongondow ini menghadirkan kisah yang jauh lebih ringkas dibanding deretan kisah kera-Soelap sebelumnya, namun tidak kalah tajam dalam pesannya. Kali ini tokohnya adalah tikus dan kucing liar—dua hewan yang secara alami adalah musuh, namun dikisahkan justru bersahabat erat, sebelum persahabatan itu berakhir secara tragis.


Ikatan yang Tampak Bagai Saudara Kandung

Alkisah, seekor tikus bersahabat dengan seekor kucing liar. Persahabatan keduanya begitu erat, sampai-sampai naskah asli menggambarkannya seperti dua saudara kandung yang lahir dari satu rahim: ke mana pun pergi selalu bersama, makan bersama, tidur bersama—diibaratkan seperti kuku dengan daging, tak terpisahkan satu sama lain.


Kesepakatan Sebelum Mencuri Bekal di Langit-Langit Rumah

Pada suatu malam, keduanya pergi mencari makanan seperti biasa. Mereka menemukan bekal milik manusia yang dibungkus dan digantung di langit-langit rumah. Kucing berkata, "Sebaiknya kau saja yang naik ke atas dan mengambilnya, sebab kau bisa merayap dengan lincah."

Tikus setuju, namun mengajukan kesepakatan lebih dulu: "Baik, tapi begini kesepakatan kita—kau berjaga di bawah. Kalau kau dengar suara yang halus dan menyebar, itu tandanya makanan yang jatuh. Tapi kalau kau dengar suara berdebum, itu artinya aku."


Kesalahan Kecil yang Berakibat Fatal

Tikus pun naik ke atas dan mulai menggerogoti tali yang mengikat bungkusan makanan itu. Namun saat melompat turun, kakinya salah berpijak—ia jatuh ke lantai dengan suara berdebum, persis tanda yang telah mereka sepakati sebelumnya.

Sayangnya, kucing yang menunggu di bawah justru langsung menerkam dan menangkapnya, mengira itu adalah makanan yang jatuh. Tikus yang tercekik dalam gigitan kucing sempat berseru, "Ini aku!" Namun kucing hanya menjawab singkat, "Ini makanan." Tikus pun dibawa ke sudut ruangan dan dimakan habis oleh sahabatnya sendiri.


Penutup yang Menjadi Inti Pesan Cerita

Naskah asli mengakhiri kisah ini dengan satu kalimat penutup yang eksplisit dan lugas: demikianlah akhir dari sebuah persahabatan yang tidak tulus. Kalimat ini bukan tambahan dari penulis modern, melainkan bagian asli dari naskah, menjadikan kisah ini salah satu fabel Bolaang Mongondow yang paling langsung menyampaikan pesannya—bahwa ikatan yang tampak erat sekalipun bisa runtuh seketika oleh kesalahpahaman kecil, terutama jika hubungan itu sejak awal dibangun di atas kepentingan, bukan ketulusan.


Suka dengan kisah purba ini? Bagikan artikel ini kepada teman-teman Anda yang mencintai cerita rakyat Nusantara, atau tinggalkan like agar kami semangat menggali lebih banyak naskah kuno yang tersembunyi.


Referensi: Dunnebier, W. Bolaang Mongondowse Teksten, cerita No. 21 "Bojod bo Pinggo'" / "Muis en Kat". 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1953. Diterbitkan di bawah naungan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV).

Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan sumber primer yang disebutkan dalam referensi di atas. Seluruh alur cerita, nama tokoh (tikus/bojod dan kucing/pinggo'), serta kalimat penutup, bersumber langsung dari teks asli dan terjemahan Belanda pada halaman yang dirujuk. Penulis menyajikan ulang cerita dalam gaya bahasa naratif yang lebih hidup agar mudah dinikmati pembaca modern, tanpa menambahkan tokoh, kejadian, maupun pesan moral tambahan di luar apa yang tertera dalam sumber.

Reaksi Anda
Lebih baru Lebih lama
Jelajahi
Lainnya
Tulis Artikel Dukung Kami Meet Our Team