NEW UPDATES
Memuat berita terbaru...

Islamisasi Bolaang Mongondow dan Perkawinan Syarif Alwi dengan Putri Raja dalam Catatan J.G.F. Riedel

Oleh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat


Proses masuknya Islam di Bolaang Mongondow menjadi salah satu bagian penting dalam catatan J.G.F. Riedel di dalam naskah Het Landschap Bolaäng-Mongondouw tahun 1864. Dalam bagian ini, Riedel tidak hanya menyebut masuknya agama Islam ke wilayah tersebut, tetapi juga menyinggung tokoh yang berperan dalam penyebarannya, yakni seorang Arab bernama Sjarif Aloewi. Catatan ini menarik karena secara jelas menyebut bahwa Syarif Alwi menikah dengan putri raja Bolaang Mongondow. Keterangan tersebut berbeda dengan sebagian narasi sejarah populer modern yang menyebut tokoh tersebut tidak menikah di Bolaang Mongondow. Karena itu, bagian naskah Riedel ini menjadi salah satu sumber kolonial abad ke-19 yang penting dalam melihat kembali sejarah awal Islamisasi di Bolaang Mongondow berdasarkan dokumen sezaman.

Masuknya Islam di Bolaang Mongondow

Menurut catatan Riedel, Islam mulai diperkenalkan secara resmi di wilayah Bolaang Mongondow pada masa pemerintahan Raja Cornelis Manoppo. Riedel secara spesifik menyebut tahun 1832 sebagai masa masuknya Islam ke wilayah tersebut.Dalam naskahnya ia menulis:

“Onder het bestuur van den radja Cornelis Manoppo werd in het jaar 1832 de Islam in dit gewest ingevoerd door zekeren Arabier, Sjarif Aloewi...”

Kalimat tersebut dapat dipahami bahwa menurut keterangan yang diperoleh Riedel, agama Islam diperkenalkan di Bolaang Mongondow oleh seorang Arab bernama Sjarif Aloewi pada masa pemerintahan Raja Cornelis Manoppo. Istilah “Arabier” dalam teks Belanda lama merujuk kepada seseorang yang berasal dari kalangan Arab atau keturunan Arab, Sementara penyebutan “Sjarif” merupakan bentuk ejaan lama dari “Syarif”, yaitu gelar yang umum digunakan oleh keturunan Nabi Muhammad SAW melalui jalur Hasan dan Husain.

Syarif Alwi dalam Catatan Kolonial

Riedel tidak menjelaskan secara rinci dari wilayah mana Syarif Alwi berasal Namun penggunaan istilah Arabier menunjukkan bahwa tokoh tersebut dikenal sebagai seorang Arab atau keturunan Arab di lingkungan Bolaang Mongondow saat itu. Dalam tradisi masyarakat Nusantara abad ke-18 hingga abad ke-19, tokoh-tokoh penyebar Islam dari kalangan Arab-Hadrami-Mekkah memang sering disebut dengan gelar “Syarif”, “Sayyid”. Akan tetapi, penting dicatat bahwa dalam naskah Riedel tidak dijelaskan silsilah lengkap Syarif Alwi maupun daerah asal keluarganya. Karena itu, penulisan sejarah berdasarkan dokumen ini harus berhenti pada informasi yang benar-benar tertulis di dalam naskah tanpa menambahkan asumsi di luar sumber.

Pernikahan Syarif Alwi dengan Putri Raja

Salah satu bagian terpenting dalam catatan Riedel adalah penyebutan secara langsung mengenai pernikahan Syarif Alwi dengan keluarga kerajaan Bolaang Mongondow. Dalam teks aslinya disebutkan:

“...die met de Poetri Sarah, dochter van dezen vorst, huwde.”

Kalimat tersebut berarti bahwa Syarif Alwi menikah dengan Putri Sarah, anak perempuan Raja Cornelis Manoppo, Keterangan ini sangat penting karena menunjukkan bahwa proses Islamisasi di Bolaang Mongondow bukan sekadar hubungan dakwah biasa, tetapi juga terhubung langsung dengan lingkungan istana kerajaan. Pernikahan dengan putri raja memperlihatkan bahwa Syarif Alwi memperoleh kedudukan penting dalam lingkungan elite Bolaang Mongondow pada masa itu. Selain itu, hubungan perkawinan dengan keluarga kerajaan kemungkinan besar turut mempercepat penerimaan Islam di kalangan bangsawan dan pejabat kerajaan.

Islamisasi di Kalangan Elite Kerajaan

Riedel mencatat bahwa setelah Islam masuk ke Bolaang Mongondow, penyebarannya berlangsung cukup cepat di kalangan tertentu. Ia menyebut bahwa orang-orang Kristen yang berada di wilayah tersebut dalam waktu singkat ikut memeluk Islam, Selain itu, para bangsawan Bolaang juga disebut aktif mendukung penyebaran agama baru tersebut. Dalam naskahnya, Riedel menulis bahwa para pembesar Bolaang berusaha mendorong masyarakat Alifuru di pedalaman untuk mengikuti Islam, Namun menurut pengamatannya, usaha tersebut tidak sepenuhnya berhasil. Riedel bahkan mencatat bahwa Masyarakat pegunungan disebut masih mempertahankan banyak kebiasaan lama mereka, dibanding mengikuti aturan makanan dalam ajaran Islam yang baru diperkenalkan.

Makna Politik dari Pernikahan Kerajaan

Dalam konteks kerajaan-kerajaan Nusantara abad ke-19, perkawinan antara penyebar agama dan keluarga penguasa memiliki makna politik yang besar, Meskipun Riedel tidak memberikan penjelasan tambahan, penyebutan pernikahan antara Syarif Alwi dan Putri Sarah menunjukkan adanya hubungan erat antara Islamisasi dan legitimasi kekuasaan di Bolaang Mongondow. Pernikahan tersebut dapat dipahami sebagai bentuk penerimaan resmi kerajaan terhadap ajaran Islam yang dibawa Syarif Alwi Melalui hubungan keluarga dengan istana, posisi Islam di lingkungan elite kerajaan menjadi lebih kuat dan mudah berkembang.

Tradisi Lisan Keluarga tentang Keturunan Syarif Alwi di Bolaang Mongondow

Meskipun dalam catatan J.G.F. Riedel tidak ditemukan penjelasan lebih lanjut mengenai keturunan dari pernikahan Syarif Alwi dengan Putri Sarah, Riedel hanya menyebut secara langsung bahwa pernikahan itu terjadi, tanpa melanjutkan keterangan mengenai garis keturunan mereka. namun dalam tradisi lisan yang berkembang di lingkungan keluarga keturunan Syarif Alwi di Bolaang Mongondow menyebut garis keturunan yang tetap berlanjut hingga masa berikutnya.Berdasarkan penuturan keluarga keturunan Algaus di Mongondow, disebutkan bahwa setelah proses Islamisasi berlangsung, Syarif Alwi kemudian kembali ke wilayah Donggala. Sementara itu, dari pernikahannya dengan Putri Sarah disebut lahir seorang anak bernama Syarif Hasan, yang pada masa itu di wilayah Kotobangon lebih dikenal dengan sebutan “Wan Syarif” wafat pada tanggal 12 Ramadhan 1370 Hijriah, bertepatan dengan 17 Juni 1951. Makam beliau yang berada di wilayah Langgagon hingga kini masih dikenal dan menjadi tempat ziarah bagi sebagian keluarga keturunannya.Penyebutan tanggal wafat tersebut menjadi bagian penting dalam penuturan genealogis keluarga Algaus di Mongondow, terutama dalam menjaga kesinambungan ingatan sejarah mengenai garis keturunan Syarif Alwi yang disebut dalam catatan J.G.F. Riedel pada abad ke-19.

Keterangan mengenai hubungan garis keluarga tersebut disampaikan pula oleh Hasyim Algaus, salah satu tokoh keluarga keturunan Algaus di Bolaang Mongondow. Menurut penuturannya, hubungan kekeluargaan antara keluarga Algaus dan keluarga Manoppo masih tetap terjalin erat hingga masa sekarang. Dalam penuturan keluarga tersebut juga disebutkan bahwa Hasyim Algaus pernah mengantarkan Kartini Manoppo — yang dikenal sebagai salah satu istri Presiden Soekarno — ketika berkunjung ke Desa Ayong. Pada masa itu, orang tua Hasyim Algaus masih hidup, yaitu Husin Hasan Makalalag Algaus.Nama “Husin Hasan” dalam tradisi keluarga disebut berkaitan dengan nama ayahnya, yakni Syarif Hasan bin Alwi Algaus. Dalam cerita keluarga pula disebutkan bahwa hubungan kekerabatan antara keluarga Algaus dan Manoppo pada masa lalu begitu dekat, bahkan dalam suatu kesempatan Khitan dari Husin Makalalag Algaus dilakukan secara bersamaan dengan Abo Anton Manoppo.

Menurut penuturan lisan keluarga, pada masa tertentu sebagian keturunan Syarif Alwi di beberapa wilayah tidak lagi menggunakan marga Algaus secara terbuka. Hal tersebut disebut dilakukan karena alasan-alasan tertentu yang berkembang pada situasi sosial dan politik masa itu.

Tradisi tersebut, menurut keterangan keluarga, juga ditemukan pada beberapa cabang keturunan lainnya. Misalnya di wilayah Bolaang Uki, keturunan dari garis pernikahan dengan keluarga keturunan Raja Gobel disebut lebih meneruskan penggunaan marga Van Gobel dibanding marga leluhur Algaus, Sementara di wilayah Mongondow, sebagian garis keturunan disebut menggunakan marga Makalalag, mengikuti garis keluarga ibu, yakni Bua Zaenab Makalalag yang dalam tradisi keluarga disebut menikah dengan Syarif Hasan bin Alwi Algaus.

Penuturan serupa juga disebut terdapat pada keluarga keturunan Algaus di Dobo, Kepulauan Aru, Maluku, yang dalam beberapa garis keluarga lebih mempertahankan penggunaan marga dari pihak ibu.

Meski demikian, penting dicatat bahwa bagian ini bersumber dari tradisi lisan keluarga dan penuturan keturunan, sehingga posisinya berbeda dengan catatan kolonial tertulis seperti naskah J.G.F. Riedel. Karena itu, informasi mengenai silsilah, penggunaan marga, serta hubungan antarkeluarga dalam bagian ini perlu dipahami sebagai bagian dari memori dan tradisi keluarga yang masih hidup di tengah masyarakat keturunan Syarif Alwi di Bolaang Mongondow.

Perbedaan dengan Narasi Sejarah Modern

Dalam beberapa penulisan sejarah modern, bahkan buku buku keluaran terbaru terdapat pendapat yang menyebut bahwa Syarif Alwi tidak menikah di Bolaang Mongondow disebabkan mahar, Namun catatan J.G.F. Riedel yang diterbitkan tahun 1864 justru secara jelas menyatakan bahwa tokoh tersebut menikahi Putri Sarah, anak Raja Cornelis Manoppo Karena ditulis relatif dekat dengan masa peristiwa dan berasal dari laporan kolonial abad ke-19, keterangan Riedel menjadi sumber penting yang perlu diperhatikan dalam penelitian sejarah Islamisasi Bolaang Mongondow.

Meskipun demikian, perbedaan antara sumber kolonial, tradisi lisan, dan penulisan sejarah modern tetap memerlukan penelitian lanjutan berbasis dokumen-dokumen lain yang sezaman.

Islam dan Perubahan Sosial di Bolaang Mongondow

Catatan Riedel memperlihatkan bahwa masuknya Islam membawa perubahan besar dalam struktur sosial Bolaang Mongondow, Agama Islam mulai memperoleh tempat di lingkungan istana, elite pesisir, dan pusat pemerintahan. Sementara itu, masyarakat pegunungan Mongondow masih menunjukkan proses penyesuaian yang lebih lambat terhadap perubahan tersebut, Perbedaan antara masyarakat pesisir dan pedalaman dalam menerima Islam menjadi salah satu gambaran penting yang direkam Riedel selama perjalanannya.

Naskah ini memperlihatkan bahwa Islamisasi di Bolaang Mongondow berlangsung secara bertahap dan sangat berkaitan dengan hubungan politik kerajaan.

Penutup

Catatan J.G.F. Riedel mengenai Islamisasi Bolaang Mongondow menjadi salah satu sumber kolonial penting yang mencatat masuknya Islam ke wilayah tersebut pada tahun 1832. Dalam naskah Het Landschap Bolaäng-Mongondouw, disebutkan secara jelas bahwa seorang Arab bernama Syarif Alwi memperkenalkan Islam pada masa pemerintahan Raja Cornelis Manoppo. Riedel juga menuliskan bahwa Syarif Alwi menikah dengan Putri Sarah, anak Raja Cornelis Manoppo, yang menunjukkan adanya hubungan langsung antara penyebaran Islam dan lingkungan kerajaan Bolaang Mongondow.

Meskipun naskah ini tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai keturunan mereka, keterangan tersebut tetap menjadi bagian penting dalam historiografi awal Islam di Bolaang Mongondow.


Referensi

Sumber utama:
HET LANDSCHAP BOLAANG-MONGONDOUW
Door J.G.F. Riedel
Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, 1864.

Penulis dokumen:
Johan Gerard Friedrich Riedel (J.G.F. Riedel), pegawai sipil pemerintah kolonial Hindia Belanda yang bertugas di wilayah Sulawesi dan Indonesia Timur.

Referensi naskah digital:
https://archive.org/details/tijdschriftvoor37unkngoog/page/237/mode/1up

Sumber Tambahan dan Tradisi Lisan
  • Wawancara keluarga dan tradisi lisan bersama Urip Mokodompit.
  • Wawancara keluarga dan penuturan genealogis bersama Hasyim Algaus.
  • Wawancara keluarga dan tradisi lisan bersama Mutiara Manoppo.
  • Wawancara Bersama Selvia Algaus
  • Penuturan keluarga keturunan Algaus–Manoppo.
  • Penuturan garis keluarga Algaus–Van Gobel.
  • Tradisi lisan keluarga Algaus–Makalalag.
  • Penuturan Keluarga Algaus Dobo, Kepulauan Aru Maluku.

Disclaimer Akademik

Artikel ini disusun berdasarkan naskah HET LANDSCHAP BOLAANG-MONGONDOUW karya J.G.F. Riedel sebagai sumber utama, serta dilengkapi dengan tradisi lisan dan penuturan keluarga keturunan terkait.Bagian yang berasal dari dokumen kolonial ditulis berdasarkan isi naskah asli, sementara keterangan keluarga diposisikan sebagai sumber pelengkap sejarah lisan yang hidup di tengah masyarakat.

Artikel ini bertujuan untuk kepentingan edukasi, literasi sejarah, dan pengembangan kajian ilmiah populer. Untuk penelitian akademik yang lebih mendalam, pembaca dianjurkan merujuk langsung pada dokumen asli dan sumber sejarah lainnya yang relevan.

Lebih baru Lebih lama