Oleh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat
Pendahuluan
Selain al-abdฤl, dalam tradisi keislaman dikenal pula istilah al-Quthb (ุงููุทุจ – “sumbu” atau “kutub”), al-Awtฤd (ุงูุฃูุชุงุฏ – “pasak-pasak”), dan an-Nujabฤ’ (ุงููุฌุจุงุก – “para tokoh terpilih”). Naskah klasik yang menjadi rujukan utama artikel ini mengumpulkan berbagai riwayat – meskipun kebanyakan berupa atsar (perkataan ulama salaf) dan bukan hadits marfลซ’ – yang menjelaskan tingkatan-tingkatan para wali Allah serta peran mereka dalam menegakkan kehidupan di bumi. Artikel ini menyajikan secara naratif-ilmiah apa yang termaktub dalam naskah tersebut tanpa tambahan dari luar.
Tingkatan dalam Naskah: Quthb, Awtฤd, Nujabฤ’, Naqabฤ’
Dalam naskah disebutkan bahwa al-Quthb (al-Ghauts) adalah satu orang yang menjadi pusat (sumbu) urusan. Jika ia wafat, maka Allah menggantikannya dengan yang terbaik dari kalangan al-Awtฤd. Al-Awtฤd berjumlah empat orang: satu di Yaman, satu di Syam, satu di Timur (Masyriq), dan satu di Maghrib. Mereka bagaikan pasak-pasak bumi yang dengannya Allah menjaga keseimbangan alam.
Adapun an-Nujabฤ’ dan an-Nuqabฤ’ adalah tingkatan di bawah al-abdฤl dalam jumlah yang lebih besar. Dalam naskah (halaman 67–68) dari Kifฤyat al-Mu‘taqid karya al-Yฤfi‘ฤซ disebutkan:
«ุนِุฏَّุฉُ ุงُّููุฌَุจَุงุกِ ุซََูุงุซُู ِุงุฆَุฉٍ، َูุงَُّูููุจَุงุกِ ุฃَุฑْุจَุนَُูู، َูุงْูุฃَุจْุฏَุงِู: ุซََูุงุซَُูู – ََِูููู ุฃَุฑْุจَุนَุฉَ ุนَุดَุฑَ – ََِูููู ุณَุจْุนَุฉٌ – ََُููู ุงูุตَّุญِูุญُ – َูุงْูุฃَْูุชَุงุฏُ ุฃَุฑْุจَุนَุฉٌ»
Transliterasi: “‘iddatu an-nujabฤ’i thalฤtsumi’ah, wa an-nuqabฤ’i arba‘ลซn, wa al-abdฤl: thalฤthลซn – wa qฤซla arba‘ata ‘asyar – wa qฤซla sab‘ah – wa huwa aแนฃ-แนฃaแธฅฤซแธฅ – wa al-awtฤdu arba‘ah.”
Artinya, jumlah an-nujabฤ’ ada 300 orang, an-nuqabฤ’ 40 orang, al-abdฤl ada yang mengatakan 30, ada yang mengatakan 14, dan pendapat yang sahih menurut al-Yฤfi‘ฤซ adalah 7 orang. Sedangkan al-awtฤd berjumlah 4 orang.
Proses Pergantian (Tadฤful) Antar Tingkatan
Naskah menjelaskan mekanisme pergantian ketika seseorang dari tingkatan tertentu meninggal:
- Jika al-Quthb wafat, maka digantikan oleh yang terbaik dari al-awtฤd.
- Jika salah satu al-awtฤd wafat, digantikan oleh yang terbaik dari al-abdฤl.
- Jika salah satu al-abdฤl wafat, digantikan oleh yang terbaik dari an-nuqabฤ’ (atau an-nujabฤ’).
- Demikian seterusnya hingga ke tingkatan aแนฃ-แนฃฤliแธฅฤซn (orang-orang saleh).
Dengan sistem ini, Allah senantiasa memelihara bumi dengan para wali-Nya. Disebutkan pula bahwa apabila Allah hendak menegakkan Kiamat, maka mereka semua diwafatkan terlebih dahulu.
Atsar tentang Al-Awtฤd dan Al-Quthb
Dari Abลซ az-Zฤhiriyah dan lainnya (halaman 61–62) diriwayatkan: “Al-Awtฤd adalah pasak-pasak bumi. Hati tiga puluh dari mereka berada pada keyakinan Ibrฤhฤซm. Mereka tidak lebih utama karena banyak shalat, puasa, atau khusyuk, tetapi karena benarnya wara’, baiknya niat, selamatnya hati, dan nasihat kepada semua muslimin.”
Sedangkan tentang al-Quthb, naskah mengutip dari al-Yฤfi‘ฤซ: “Allah mengedarkan (menggerakkan) al-Quthb di empat penjuru (arukan dunia) seperti peredaran falak di langit. Keadaan al-Quthb – yaitu al-Ghauts – tersembunyi dari orang awam dan khusus karena rasa cemburu (ghฤซrah) dari Allah terhadapnya. Ia tampak seperti orang bodoh di tengah orang pintar, dekat dan jauh sekaligus, mudah dan sulit, aman dan waspada.”
Kisah: Wafatnya Khฤlid bin Mi‘dฤn (Salah Seorang Abdฤl)
Ibn ‘Asฤkir meriwayatkan (halaman 71–72) dari Abลซ Muthฤซ‘ Mu‘ฤwiyah bin Yaแธฅyฤ: Seorang syaikh dari Himsh keluar malam hari menuju masjid. Di bawah kubah ia mendengar suara gemerincing kekang kuda. Ternyata para penunggang kuda saling bertemu. Sebagian berkata: “Kami datang dari pemakaman al-badฤซl (abdฤl) Khฤlid bin Mi‘dฤn.” Mereka ditanya: “Siapa pengganti setelahnya?” Dijawab: “Arแนญฤh bin al-Mundzir.” Keesokan harinya, berita wafatnya Khฤlid bin Mi‘dฤn datang melalui utusan. Riwayat ini menunjukkan bahwa pergantian abdฤl diketahui oleh kalangan tertentu (para wali lain) tanpa sepengetahuan publik.
Kisah Lain: Pertemuan dengan Elyฤs ‘alaihissalฤm
Dalam naskah (halaman 65–67) disebutkan dua riwayat serupa tentang seseorang yang bertemu dengan Nabi Elyฤs. Elyฤs menyatakan bahwa di bumi saat itu ada enam puluh orang abdฤl; lima puluh di antaranya berada di antara ‘Arฤซsy Mesir hingga tepi sungai Eufrat, dua di al-Maแนฃฤซแนฃah, satu di Antiokhia, dan tujuh di berbagai penjuru negeri Arab. Dengan mereka hujan diturunkan, pertolongan diberikan atas musuh, dan Allah menegakkan urusan dunia.
Kisah Karamah ‘Abdul Qฤdir al-Jฤซlฤnฤซ
Naskah menutup bagian ini dengan kisah dari Kifฤyat al-Mu‘taqid tentang Syaikh ‘Abdul Qฤdir al-Jฤซlฤnฤซ (halaman 72–73). Beliau keluar pada malam hari menuju suatu tempat yang tidak dikenal, lalu masuk ke sebuah bangunan seperti ribath. Di dalamnya terdapat enam orang. Setelah beberapa saat, seorang pria masuk dengan wajah terbuka dan kumis panjang, kemudian Syaikh ‘Abdul Qฤdir mengambil baiat dan mengislamkannya. Kisah ini disisipkan dalam naskah sebagai ilustrasi bahwa para wali Allah (termasuk dalam golongan abdal atau aqthฤb) memiliki karamah dan peran dalam hidayah.
Penutup
Naskah “ุงูุฎุจุฑ ุงูุฏุงู ุนูู ูุฌูุฏ ุงููุทุจ ูุงูุฃูุชุงุฏ ูุงููุฌุจุงุก ูุงูุฃุจุฏุงู” dengan jelas menyebutkan tingkatan-tingkatan para wali di atas al-abdฤl, yaitu al-awtฤd (4 orang), al-quthb (1 orang), serta an-nujabฤ’ dan an-nuqabฤ’ dalam jumlah yang lebih besar. Walaupun sebagian besar riwayat tentang tingkatan ini berupa atsar (perkataan ulama salaf) dan bukan hadits marfลซ’ yang shahih secara mutlak, namun para ulama seperti al-Yฤfi‘ฤซ, Ibn ‘Asฤkir, dan al-Khallฤl memandangnya sebagai bagian dari keyakinan Ahlus Sunnah yang tidak bertentangan dengan nash. Wallฤhu a’lam.
Referensi: Naskah “ุงูุฎุจุฑ ุงูุฏุงู ุนูู ูุฌูุฏ ุงููุทุจ ูุงูุฃูุชุงุฏ ูุงููุฌุจุงุก ูุงูุฃุจุฏุงู”; Kifฤyat al-Mu‘taqid (al-Yฤfi‘ฤซ); Tฤrฤซkh Dimasyq (Ibn ‘Asฤkir); Karฤmฤt al-Auliyฤ’ (al-Khallฤl).
Disclaimer: Artikel ini sepenuhnya bersumber dari naskah yang dikirim. Untuk verifikasi sanad dan penelitian lebih lanjut, silakan merujuk langsung kepada kitab asli.
