Masuk ke Pena Sehat
Gunakan akun Google Anda untuk mengakses semua fitur eksklusif
atau
Dengan masuk, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami
๐Ÿ‘‹
Keluar dari akun?
Anda akan keluar dari sesi yang sedang aktif. Apakah Anda ingin melanjutkan?
NEW UPDATES
Memuat berita terbaru...
๐Ÿ“ข BROADCAST

Ayah, Siapa yang Menjagamu Malam Tadi? Sebuah Kisah yang Menggugah Hati

Ayah, Siapa yang Menjagamu Malam Tadi? Kisah yang Menggugah Hati tentang Kematian dan Alam Kubur

Oleh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat


Kisah-kisah yang termuat dalam kitab Al-Mawaidzul Ushfuriyah tidak hanya menghadirkan pelajaran keagamaan, tetapi juga menggambarkan keadaan batin manusia ketika berhadapan dengan kenyataan yang tidak dapat dihindari, yaitu kematian. Salah satu kisah yang mengandung renungan mendalam adalah cerita tentang Hasan Al-Bashri dan seorang anak perempuan yang kehilangan ayahnya.

Dalam riwayat tersebut dikisahkan bahwa Hasan Al-Bashri sedang duduk di depan rumahnya ketika sebuah jenazah melintas di hadapannya. Di belakang iring-iringan jenazah itu terdapat seorang anak perempuan kecil yang berjalan sambil menangis. Rambutnya terurai dan kesedihannya tampak begitu mendalam.

Di tengah tangisnya, anak itu berkata kepada ayahnya yang telah wafat bahwa hari tersebut merupakan hari yang paling berat dalam hidupnya. Mendengar ucapan itu, Hasan Al-Bashri bangkit dan mengikuti prosesi pemakaman. Ia kemudian menyampaikan bahwa sebagaimana hari itu menjadi hari yang belum pernah dialami sang anak, demikian pula hari tersebut merupakan keadaan yang belum pernah dialami oleh ayahnya sebelumnya.

Setelah jenazah dimakamkan, Hasan Al-Bashri kembali ke rumahnya. Namun pada keesokan harinya, setelah melaksanakan shalat Subuh dan matahari mulai terbit, ia melihat kembali anak perempuan itu berjalan menuju makam ayahnya sambil menangis.

Hasan Al-Bashri memperhatikannya dengan penuh perhatian. Dalam riwayat disebutkan bahwa beliau menganggap anak tersebut memiliki kebijaksanaan dan ketulusan hati yang mungkin dapat melahirkan ungkapan yang mengandung pelajaran. Karena itu, beliau mengikuti anak tersebut dari kejauhan hingga sampai ke makam ayahnya.

Ratapan Seorang Anak yang Kehilangan Ayahnya

Sesampainya di makam, anak perempuan itu memeluk pusara ayahnya. Ia meletakkan pipinya di atas tanah kubur lalu mulai berbicara seolah-olah sedang bercakap dengan ayahnya.

Ia mengenang berbagai bentuk perhatian yang dahulu dapat ia berikan kepada sang ayah ketika masih hidup. Ia mempertanyakan siapa yang kini menerangi ayahnya, siapa yang menghamparkan tempat baginya, siapa yang memijat tubuhnya, memberinya minum, membantunya bergerak, menutupi tubuhnya, memandang wajahnya, menjawab panggilannya, dan menyediakan makanan untuknya.

Rangkaian pertanyaan itu bukanlah pencarian jawaban, melainkan ungkapan kerinduan seorang anak yang sedang merasakan kehilangan yang sangat mendalam. Setiap kalimat yang keluar dari lisannya menggambarkan hubungan kasih sayang yang pernah terjalin antara seorang ayah dan anaknya.

Hasan Al-Bashri yang mendengar semua itu tidak mampu menahan haru. Tangisnya pecah ketika menyaksikan kesedihan yang begitu tulus dari anak tersebut.

Peralihan dari Kesedihan Menuju Renungan

Setelah itu Hasan Al-Bashri keluar dari tempat persembunyiannya dan mendekati anak tersebut. Beliau tidak menegur kesedihannya, tetapi mengarahkan pikirannya kepada persoalan yang lebih mendasar, yaitu keadaan seseorang setelah memasuki alam kubur.

Beliau menyarankan agar pertanyaan yang diajukan bukan lagi mengenai pelayanan dan kebutuhan duniawi yang dahulu diberikan kepada ayahnya, melainkan mengenai keadaan ayahnya setelah wafat.

Dalam nasihatnya, Hasan Al-Bashri mengarahkan anak itu untuk merenungkan apakah ayahnya masih berada dalam keadaan sebagaimana ketika dimakamkan menghadap kiblat, apakah kafan yang membungkusnya masih tetap sebagaimana semula, dan bagaimana keadaan jasadnya setelah berada di dalam kubur.

Beliau juga mengingatkan tentang persoalan iman yang menurut penjelasan para ulama akan menjadi bagian dari ujian seseorang setelah wafat. Selain itu, beliau menyebutkan bahwa para ulama menerangkan adanya kubur yang dilapangkan dan ada pula yang disempitkan.

Dalam lanjutan nasihatnya, Hasan Al-Bashri menyebutkan berbagai keadaan yang sering dijelaskan para ulama mengenai kehidupan alam kubur. Di antaranya tentang adanya orang yang memperoleh kenikmatan dan ada pula yang menghadapi kesulitan, tentang kubur yang menjadi tempat penuh ketenteraman maupun kubur yang menjadi tempat kesempitan dan penderitaan.

Beliau juga mengingatkan bahwa setiap manusia yang telah memasuki kubur akan merasakan penyesalan. Orang yang saleh menyesali sedikitnya amal baik yang telah ia kerjakan, sedangkan orang yang melakukan kesalahan menyesali perbuatan buruk yang pernah dilakukan semasa hidupnya.

Pelajaran tentang Kematian dan Kesadaran Diri

Nasihat Hasan Al-Bashri dalam kisah ini menunjukkan bahwa kematian bukan sekadar perpisahan antara orang yang hidup dan yang telah wafat. Kematian merupakan perpindahan menuju fase kehidupan yang membuat manusia mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukannya selama hidup di dunia.

Ratapan anak perempuan itu menggambarkan kesedihan manusia ketika kehilangan orang yang dicintai. Sementara nasihat Hasan Al-Bashri mengarahkan kesedihan tersebut agar berubah menjadi kesadaran tentang hakikat kehidupan, keterbatasan umur, dan pentingnya mempersiapkan bekal sebelum datangnya kematian.

Pada akhir kisah, anak perempuan itu mengakui bahwa nasihat Hasan Al-Bashri telah membuka kesadarannya. Ia memuji keindahan petuah yang disampaikan dan mengakui bahwa dirinya telah diingatkan dari kelalaian. Setelah itu, ia kembali pulang bersama Hasan Al-Bashri dalam keadaan menangis.

Kisah ini memperlihatkan bagaimana duka yang mendalam dapat menjadi jalan menuju perenungan. Kehilangan yang dialami seorang anak tidak dihapuskan oleh nasihat tersebut, tetapi diarahkan menjadi pengingat tentang kehidupan setelah kematian, sebagaimana digambarkan dalam riwayat yang termuat dalam kitab Al-Mawaidzul Ushfuriyah.

Semoga kisah ini menjadi bahan renungan bagi pembaca untuk lebih menghargai waktu, memperbanyak amal kebaikan, serta mempersiapkan bekal terbaik bagi kehidupan yang akan datang. Jika Anda menyukai artikel literasi keislaman seperti ini, jangan lupa membagikannya kepada kerabat dan mengikuti pembaruan artikel lainnya di Pena Sehat agar semakin banyak pelajaran berharga yang dapat diambil bersama.


Referensi

Kitab sumber utama:
Al-Mawaidzul Ushfuriyah (ุงู„ู…ูˆุงุนุธ ุงู„ุนุตููˆุฑูŠุฉ), karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar al-Ushfuri.

Referensi pendamping:
Penjelasan Kang Abdi melalui akun media sosial: https://vt.tiktok.com/ZSQnqjrN3/

Disclaimer Akademik

Artikel ini disusun berdasarkan naskah kitab Al-Mawaidzul Ushfuriyah (ุงู„ู…ูˆุงุนุธ ุงู„ุนุตููˆุฑูŠุฉ) karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar al-Ushfuri dan penjelasan dari akun media sosial Kang Abdi. Artikel ini merupakan hasil pengolahan dan penulisan ulang untuk kepentingan edukasi dan literasi ilmiah populer. Untuk pemahaman yang lebih mendalam dan keperluan akademik, pembaca dianjurkan merujuk langsung pada naskah asli kitab yang menjadi rujukan utama artikel ini.

Reaksi Anda
Lebih baru Lebih lama
Jelajahi
Lainnya