NEW UPDATES
Memuat berita terbaru...
πŸ“’ BROADCAST

Kisah Mokododot dan Putri Bambu: Menguak Asal-Usul Orang Mongondow Versi 1864

Asal-Usul Orang Mongondow: Kisah Sejarah dalam Catatan J.G.F. Riedel 1864

Oleh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat


Dalam naskah Het Landschap BolaΓ€ng-Mongondouw, J.G.F. Riedel tidak hanya mencatat kondisi geografis dan perjalanan menuju Bolaang Mongondow pada tahun 1857, tetapi juga merekam tradisi lisan masyarakat setempat mengenai asal-usul orang Mongondow.

Catatan ini menjadi bagian penting dalam kajian sejarah dan etnografi Bolaang Mongondow karena memperlihatkan bagaimana masyarakat pada masa itu memahami leluhur, garis keturunan, dan terbentuknya komunitas mereka.

Tradisi yang dicatat Riedel berasal dari penuturan masyarakat lokal dan ditulis dalam bentuk kisah turun-temurun. Oleh sebab itu, bagian ini harus dipahami sebagai rekaman tradisi lisan abad ke-19, bukan sebagai kronologi sejarah modern.

Bedo-langih dan Sundilang dalam Tradisi Mongondow

Menurut catatan Riedel, masyarakat Mongondow meyakini bahwa leluhur awal mereka berasal dari pasangan bernama Bedo-langih dan Sundilang. Keduanya disebut tinggal di wilayah sekitar Gunung BΕ“lΕ“an, tidak jauh dari kawasan yang pada masa penulisan naskah dikenal sebagai negorij Pasi. Riedel menulis bahwa orang Mongondow pada mulanya bermukim di sekitar kawasan pegunungan tersebut sebelum akhirnya menyebar secara perlahan ke dataran luas yang kemudian dikenal dengan nama Rata-Mongondouw.

Pasangan Bedo-langih dan Sundilang disebut memiliki dua orang anak. Anak tertua mereka adalah seorang perempuan yang dalam naskah ditulis dengan nama Sinititi.

Mimpi Sinititi dan Telur Berwarna Pelangi

Dalam tradisi yang dicatat Riedel, Sinititi mengalami mimpi aneh ketika mulai memasuki usia dewasa. Ia dikisahkan bermimpi selama lima malam berturut-turut bahwa dirinya akan melahirkan seorang anak. Tidak lama setelah mimpi tersebut, Sinititi disebut melahirkan sebuah telur yang digambarkan memiliki keindahan luar biasa dengan warna menyerupai pelangi. Peristiwa itu menimbulkan kegelisahan di kalangan keluarga dan kerabatnya. Karena khawatir kisah tersebut diketahui banyak orang, keluarga kemudian meminta agar telur itu disembunyikan.

Dalam naskah disebutkan bahwa telur tersebut akhirnya dibawa dan diletakkan di dekat sebuah aliran sungai kecil yang jernih.

Munculnya Mokododot

Dari telur itu kemudian muncul seorang pemuda yang dalam naskah Riedel disebut bernama MokododΕ“dΕ“t. Tokoh ini digambarkan sebagai seorang pemuda yang cerdas, tangkas, dan memiliki kemampuan menggunakan senjata. Riedel menulis bahwa karena kecakapan dan ketajaman pikirannya, pemuda tersebut kemudian dikenal luas di kalangan masyarakat.

Nama Mokododot sendiri menjadi salah satu tokoh penting dalam tradisi asal-usul masyarakat Mongondow yang dicatat dalam naskah tersebut.

Kisah Putri Bonis dari Batang Bambu

Pada waktu yang hampir bersamaan, Riedel mencatat kisah kemunculan seorang perempuan bernama Putri Bonis. Menurut tradisi yang ditulis dalam naskah, Putri Bonis muncul secara ajaib dari sebatang bambu besar. Dikisahkan bahwa seorang laki-laki tua mendengar suara aneh dari dalam batang bambu tersebut sebelum akhirnya membelahnya. Dari dalam bambu itulah Putri Bonis muncul.

Dalam perjalanan berikutnya, Mokododot kemudian bertemu dengan Putri Bonis di sebuah hutan gelap dan menjadikannya pasangan hidup.

Awal Garis Keturunan Mongondow

Dari hubungan Mokododot dan Putri Bonis lahir tiga orang anak yang dalam naskah disebut bernama:

  • Ijohanki
  • GinΕ“pid
  • Ginaapodo

Riedel kemudian mencatat bahwa garis keturunan berikutnya berkembang dari anak pertama mereka, Ijohanki. Tokoh tersebut menikah dengan perempuan bernama Silagonda dan memiliki dua anak, yaitu:

  • Kinalang
  • Kokoapa

Dari garis keturunan inilah kemudian muncul sejumlah nama yang disebut Riedel sebagai leluhur berbagai kelompok dan keluarga di Mongondow.

Beberapa nama yang dicatat dalam naskah antara lain:

  • GarΓ¦ng
  • Batitih
  • Makalalo
  • Podo
  • Maniti
  • Mokoago
  • Tadohe
  • Mokoago II atau Binangkang

Dalam penjelasannya, Riedel menyebut bahwa tokoh Binangkang memiliki hubungan penting dengan sejarah Minahasa.

Tradisi Lisan dan Identitas Masyarakat

Kisah-kisah yang dicatat Riedel memperlihatkan bagaimana masyarakat Mongondow abad ke-19 memandang asal-usul leluhur mereka melalui tradisi simbolik dan narasi turun-temurun. Beberapa unsur dalam cerita tersebut, seperti telur berwarna pelangi dan kemunculan manusia dari batang bambu, menunjukkan bentuk simbolisme yang umum ditemukan dalam tradisi lisan masyarakat Nusantara pada masa lampau.

Dalam konteks penulisan etnografi kolonial abad ke-19, Riedel berusaha merekam kisah tersebut sebagaimana ia dengar dari masyarakat setempat. Karena itu, bagian ini memiliki nilai penting sebagai dokumentasi tradisi lokal yang hidup di Bolaang Mongondow pada masa tersebut.

Catatan Riedel tentang Penyebaran Awal Orang Mongondow

Selain mencatat legenda leluhur, Riedel juga menulis bahwa orang Mongondow pada awalnya tinggal di sekitar Gunung BΕ“lΕ“an sebelum akhirnya menyebar ke dataran luas Mongondow. Penyebaran itu disebut berlangsung secara bertahap hingga membentuk berbagai kampung dan kelompok masyarakat di wilayah pedalaman.

Dalam naskahnya, Riedel menggunakan istilah Rata-Mongondouw untuk menggambarkan dataran besar tempat masyarakat Mongondow kemudian berkembang.

Keterangan tersebut menjadi salah satu catatan awal mengenai persebaran masyarakat Mongondow dalam dokumen kolonial abad ke-19.

Penutup

Catatan J.G.F. Riedel mengenai asal-usul orang Mongondow merupakan bagian penting dalam dokumentasi tradisi lisan Bolaang Mongondow pada abad ke-19. Melalui naskah Het Landschap BolaΓ€ng-Mongondouw, Riedel merekam berbagai kisah mengenai leluhur, garis keturunan, dan penyebaran awal masyarakat Mongondow sebagaimana dituturkan oleh masyarakat setempat pada masa itu.

Walaupun ditulis dalam perspektif etnografi kolonial, catatan tersebut tetap memiliki nilai historis karena menjadi salah satu sumber tertulis awal mengenai tradisi lokal Bolaang Mongondow.

Kisah tentang Bedo-langih, Sundilang, Sinititi, Mokododot, dan Putri Bonis memperlihatkan bagaimana masyarakat Mongondow membangun identitas leluhur mereka melalui cerita turun-temurun yang diwariskan lintas generasi.


Referensi

Sumber utama:
HET LANDSCHAP BOLAANG-MONGONDOUW
Door J.G.F. Riedel
Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, 1864.

Penulis dokumen:
Johan Gerard Friedrich Riedel (J.G.F. Riedel), pegawai sipil pemerintah kolonial Hindia Belanda yang bertugas di wilayah Sulawesi dan Indonesia Timur.

Referensi naskah digital:
https://archive.org/details/tijdschriftvoor37unkngoog/page/237/mode/1up

Disclaimer Akademik

Artikel ini disusun berdasarkan naskah HET LANDSCHAP BOLAANG-MONGONDOUW karya J.G.F. Riedel sebagai sumber utama penulisan.

Isi artikel merupakan hasil pengolahan dan penulisan ulang untuk kepentingan edukasi dan literasi ilmiah populer dengan tetap mempertahankan konteks serta substansi naskah asli.

Untuk kebutuhan akademik dan penelitian lebih lanjut, pembaca dianjurkan merujuk langsung pada dokumen asli yang menjadi sumber utama artikel ini.

Lebih baru Lebih lama