Masuk ke Pena Sehat
Gunakan akun Google Anda untuk mengakses semua fitur eksklusif
atau
Dengan masuk, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami
👋
Keluar dari akun?
Anda akan keluar dari sesi yang sedang aktif. Apakah Anda ingin melanjutkan?
NEW UPDATES
Memuat berita terbaru...
📢 BROADCAST

​Akhir Tragis Barisan Siput: Fabel Langka dari Naskah Bolaang Mongondow (1953)

Akhir Tragis Barisan Siput: Fabel Langka dari Naskah Bolaang Mongondow (1953)

Oleh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat


Fabel yang Berbeda dari yang Lain

Tiga cerita sebelumnya dari naskah tua Bolaang Mongondow selalu berakhir sama: bantong (anoa) mati kelelahan karena tertipu barisan diam-diam lawannya. Namun cerita keenam ini punya jalan cerita yang berbeda. Kali ini lawannya adalah koelampitan, sejenis siput yang gemar memanjat batu untuk berjemur di tepi sungai — dan untuk pertama kalinya, sang anoa berhasil membongkar tipuan sebelum semuanya terlambat.


Bantong bo Koelampitan: Tantangan di Atas Batu

Suatu hari, seekor bantong turun ke binanga (sungai) untuk minum. Di sana, ia melihat seekor koelampitan yang sedang memanjat batu untuk berjemur. Koelampitan menyapa lebih dulu, bertanya hendak ke mana bantong pergi.

Bantong menjawab bahwa ia hendak minum, dan setelah itu akan mencari lawan untuk berlomba lari. Mendengar itu, koelampitan langsung menawarkan diri:

"Lebih baik kita berdua saja yang berlomba."

Bantong meremehkan tawaran itu. Ia balik berkata dengan nada sombong:

"Makhluk dengan bentuk tubuh sepertimu berani menantangku berlomba? Rotan tebal dan tunggul pohon saja tercerabut habis di jalur yang kulalui saat berlari — bagaimana mungkin kau sanggup!"

Koelampitan tak gentar. Ia tetap bersikeras ingin berlomba, dan akhirnya bantong pun menyetujuinya. Setelah itu, bantong kembali naik ke bukit, sementara koelampitan tetap di sungai menunggu hari perlombaan.


Rapat Rahasia Menjelang Fajar

Malam harinya, seluruh koelampitan berkumpul di sungai untuk bermusyawarah, mencari cara mengalahkan bantong yang sombong itu. Salah satu koelampitan yang paling besar memberi arahan:

"Kita semua akan membentuk barisan dari sini sampai ke hulu sungai. Begitu bantong terlihat dan berhenti untuk istirahat, majulah dan katakan padanya: Aku sudah di sini menunggumu; aku bahkan sudah tiga kali menyelam ke air karena kepanasan."

Siasat ini dirancang rapi — lengkap dengan alasan siap pakai agar bantong tidak curiga kenapa "lawannya" selalu sudah berada di depan.


Perlombaan yang Curang

Ketika hari mulai terang, bantong tiba di sungai dan memanggil koelampitan. Jawaban pun terdengar, "Aku sudah di sini!" Perlombaan dimulai, dan bantong berlari begitu kencang hingga batu-batu kecil berhamburan di sepanjang jalurnya.

Tak lama, bantong berhenti kelelahan dan bertanya, "Hei koelampitan, di mana kau?" Jawaban dari depan terdengar santai: "Aku di sini, tadi aku memang sudah lebih dulu sampai dan menunggu." Bantong pun kembali berlari.


Ketika Sang Penipu Akhirnya Ketahuan

Namun kali ini berbeda. Saat berlari lagi, bantong sempat memperhatikan dengan saksama gerak-gerik koelampitan di depannya — dan ia sadar sesuatu janggal: itu bukan koelampitan yang sama dengan yang tadi ia lihat. Ia melihat langsung bagaimana para koelampitan itu tengah berbaris rapi satu demi satu di sepanjang sungai.

Menyadari tipuan itu, bantong murka. Ia langsung menginjak-injak barisan koelampitan yang ada di hadapannya, hingga cangkang mereka pecah berkeping-keping dan tercampur masuk ke dalam daging mereka sendiri.

Berbeda dari tiga fabel sebelumnya, di sinilah bantong akhirnya menang — bukan dengan kecepatan, melainkan dengan ketelitian membaca situasi tepat sebelum semuanya berakhir fatal baginya.


Satu Motif, Banyak Wajah

Cerita ini melengkapi rangkaian fabel "siasat berbaris" yang juga muncul pada Cerita No. 3, 4, dan 5 dalam naskah yang sama. Bedanya, di sinilah satu-satunya versi di mana sang korban berhasil lolos dari maut — sebuah variasi menarik dari pola cerita yang sama, yang menunjukkan bahwa masyarakat Bolaang Mongondow lama tidak hanya mewariskan satu jenis akhir cerita, tetapi juga versi di mana kewaspadaan bisa mengalahkan tipu daya.


Suka dengan kisah purba ini? Bagikan artikel ini kepada teman-teman Anda yang mencintai cerita rakyat Nusantara, atau tinggalkan like agar kami semangat menggali lebih banyak naskah kuno yang tersembunyi.


Referensi: Dunnebier, W. Bolaang Mongondowse Teksten, cerita No. 6 "Bantong bo Koelampitan" / "Antilope en Schelpdier". 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1953. Diterbitkan di bawah naungan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV).

Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan sumber primer yang disebutkan dalam referensi di atas. Seluruh alur cerita, nama tokoh (anoa/bantong dan siput/koelampitan), serta detail peristiwa bersumber langsung dari teks asli dan terjemahan Belanda pada halaman yang dirujuk. Penulis menyajikan ulang cerita dalam gaya bahasa naratif agar lebih mudah dinikmati pembaca modern, tanpa menambahkan tokoh, kejadian, maupun pesan moral eksplisit di luar apa yang tertera dalam sumber.

Reaksi Anda
Lebih baru Lebih lama
Jelajahi
Lainnya
Tulis Artikel Dukung Kami Meet Our Team