0leh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat
Halaman naskah Dīwān al-Imām 'Alī yang membahas kedudukan Imam Ali dalam ilmu balaghah, tahqiq Dr. M. Abdul Mun'im Khafaji.
5 Alasan Ali bin Abi Thalib Disebut Ahli Balaghah Terbesar Setelah Nabi
Bagi siapa pun yang mempelajari ilmu balaghah (retorika Arab), nama Ali bin Abi Thalib nyaris selalu muncul sebagai rujukan puncak kefasihan setelah Rasulullah ﷺ. Namun jarang dijelaskan secara sistematis: apa sebenarnya dasar penilaian ini? Naskah Dīwān al-Imām 'Alī ternyata memaparkannya secara runtut — lima sebab dan empat karakteristik yang menjelaskan mengapa beliau menyandang gelar tersebut.
Lima Sebab di Balik Gelar "Akhthab al-Khutaba' Ba'da Rasulillah"
Naskah menyebut Imam Ali sebagai "أخطب الخطباء بعد رسول الله" — khatib paling fasih setelah Rasulullah, dengan lima sebab berikut:
- Keluarga dan lingkungan. Ali lahir dari keluarga Bani Hasyim yang sejak lama dikenal memiliki kedudukan tinggi dalam dunia balaghah — sebuah warisan lingkungan yang mengasah kepekaan berbahasa sejak dini.
- Pengaruh langsung dari balaghah Al-Qur'an dan Rasulullah. Kedekatan Ali dengan Nabi sejak kecil membuatnya terpapar langsung pada gaya bahasa Al-Qur'an dan tutur kata Nabi yang menjadi puncak kefasihan Arab.
- Kehidupan yang dipenuhi perjuangan. Seluruh hidupnya diwarnai jihad dan perjuangan — kondisi yang menurut naskah menjadi salah satu pendorong utama lahirnya kemampuan berpidato (khithabah), karena retorika kerap lahir dari situasi yang menuntut pembelaan dan penegasan sikap.
- Pembentukan sejak usia dini. Sejak kecil, tabiat Ali sudah terbentuk di atas kejelasan ungkapan (bayan), kefasihan lisan (lisan), dan retorika (fashahah).
- Kekuatan pribadi. Ketajaman berargumen, kecerdasan, kepribadian yang agung, serta keberaniannya untuk bersikap terus terang dan berpendapat jelas — semua ini mendorong dan mendukung kemampuan berpidatonya.
Empat Karakteristik Khas Retorika Imam Ali
Selain sebab-sebab di atas, naskah juga merinci empat ciri yang membuat gaya retorika Ali begitu istimewa dibanding orator lain sezamannya:
- Cerminan otentik dari kehidupannya sendiri — pidato-pidatonya merepresentasikan pengalaman hidup, kepribadian, pandangan, dan akidahnya secara langsung, bukan sekadar retorika kosong.
- Keindahan gaya bahasa yang terinspirasi Al-Qur'an dan Sunnah — gaya, ketegasan susunan, dan kecemerlangan ungkapannya diambil dari gaya bahasa Al-Qur'an al-Karim dan balaghah kenabian yang mulia.
- Ketepatan makna dan keagungan susunan — kedalaman makna, ketegasan urutan, keagungan, kebesaran jiwa, dan keluasan wawasan yang menurut naskah "tidak dimiliki kecuali oleh sosok seperti Ali karramallahu wajhah".
- Kepadatan lafaz — dengan satu catatan penting: naskah sendiri memberi pengecualian pada sejumlah istilah teknis/istilah khusus (al-alfazh al-ishtilahiyyah) yang belakangan bermunculan dalam sebagian materi yang dinisbahkan kepadanya. Catatan filologis ini sejalan dengan yang sudah kita bahas pada artikel tentang keaslian syair dan Nahjul Balaghah — istilah-istilah anakronistik semacam ini kerap menjadi salah satu indikator materi sisipan (mudkhal).
Pengakuan Al-Syarif al-Radhi
Naskah turut mengutip pujian dari al-Syarif al-Radhi — penghimpun Nahjul Balaghah — yang menyebut Ali sebagai sumber dan muara kefasihan (fashahah), tempat lahir dan tumbuhnya ilmu balaghah, yang darinya kaidah-kaidah retorika Arab pertama kali tersingkap. Karena itu, bila berpidato, Ali dinilai sebagai orator Arab paling fasih setelah Rasulullah; dan bila menulis surat, tulisannya dianggap paling lugas dan tepat sasaran.
Naskah juga menegaskan bahwa makna-makna dalam retorika Ali tidak pernah keluar dari koridor hikmah, kejujuran, kebenaran, kebaikan, dan kesucian — sebuah pesan moral yang konsisten di balik keindahan bahasanya.
Konteks: Ali di Antara Para Orator Besar Zamannya
Menariknya, naskah menempatkan Ali bukan sebagai sosok yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari sebuah era yang memang dipenuhi orator-orator ulung. Di puncak daftar tentu saja Nabi Muhammad ﷺ sendiri, disusul nama-nama seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Khalid bin Walid, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, hingga Muawiyah. Naskah bahkan menyebut satu nama yang mungkin asing bagi kebanyakan pembaca modern: 'Attarid bin Hajib bin Zurarah, yang menurut riwayat yang dinukil dari kitab al-Bayan wa al-Tabyin karya al-Jahiz — salah satu rujukan klasik terpenting dalam kajian balaghah Arab — pernah menjadi khatib di hadapan Nabi ﷺ sendiri.
Penutup
Gelar "khatib terbesar setelah Rasulullah" yang disandang Ali bin Abi Thalib bukanlah pujian tanpa dasar, melainkan kesimpulan dari sebab-musabab yang bisa ditelusuri: garis keturunan, kedekatan dengan sumber wahyu, tempaan hidup penuh perjuangan, serta karakter pribadi yang unggul. Memahami akar-akar ini membantu kita mengapresiasi karya-karya yang dinisbahkan kepadanya secara lebih utuh — sekaligus lebih kritis terhadap materi yang belakangan disisipkan ke dalamnya.
Suka dengan kajian ini? Bagikan kepada kerabat Anda yang tertarik pada ilmu balaghah dan sastra Arab.
Referensi
- ʿAlī bin Abī Ṭālib. Dīwān al-Imām ʿAlī. Tahqiq: Dr. Muḥammad ʿAbdul Munʿim Khafājī. Kairo: Dār Ibn Zaidūn & Maktabah al-Kulliyāt al-Azhariyyah, hlm. 9–10.
- Naskah mengutip rujukan lanjutan: al-Jāḥiẓ, al-Bayān wa al-Tabyīn, juz 1, hlm. 214.
Disclaimer Akademik & Redaksional: Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan kajian bahasa/sastra Arab-Islam berdasarkan naskah cetak yang disebutkan pada bagian Referensi. Pujian al-Syarif al-Radhi dan uraian muhaqqiq dipaparkan ulang secara parafrase, bukan kutipan verbatim, untuk menjaga orisinalitas tulisan. Rujukan kepada kitab al-Bayān wa al-Tabyīn karya al-Jahiz disebutkan sebagaimana tercantum dalam catatan kaki naskah, bukan hasil pembacaan langsung redaksi atas kitab tersebut. Pembaca yang memerlukan rujukan untuk keperluan akademik formal disarankan merujuk langsung pada naskah asli atau kitab-kitab turats yang bersanad.