0leh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat
Halaman naskah Dīwān al-Imām 'Alī yang memuat Khutbah Syiqsyiqiyyah, tahqiq Dr. M. Abdul Mun'im Khafaji.
Khutbah Syiqsyiqiyyah: Asal-Usul Nama dan Kontroversi dalam Nahjul Balaghah
Di antara seluruh materi yang dinisbahkan kepada Ali bin Abi Thalib, mungkin tidak ada yang lebih sering dikutip sekaligus lebih sering diperdebatkan daripada satu pidato ini. Dikenal luas sebagai Khutbah Syiqsyiqiyyah — dan tercatat sebagai khutbah ke-3 dalam kompilasi Nahjul Balaghah — pidato ini bahkan namanya sendiri menyimpan sebuah kisah kecil yang jarang diceritakan lengkap. Setelah pada artikel sebelumnya kita membahas keotentikan syair dan Nahjul Balaghah secara umum, kali ini kita masuk lebih dalam ke satu khutbah spesifik yang menjadi episentrum perdebatan tersebut.
Letak dalam Naskah
Khutbah ini termuat dalam bagian Taqdīm naskah Dīwān al-Imām 'Alī, tepatnya pasal ke-5, halaman 13–15, sebagai bagian dari rangkaian "atsar min kalam al-Imam" (kutipan-kutipan dari perkataan sang Imam) yang juga memuat wasiat, doa, dan pidato-pidato lain. Naskah memperkenalkannya secara singkat dengan kalimat: "وهذه هى خطبته المشهورة المسماة: الخطبة الشقشقية" — "Dan inilah khutbahnya yang masyhur, yang dinamai: al-Khutbah al-Syiqsyiqiyyah".
Asal-Usul Nama "Syiqsyiqiyyah": Kisah di Baliknya
Nama "Syiqsyiqiyyah" sebetulnya bukan judul yang diberikan sejak awal, melainkan lahir dari sebuah insiden kecil di tengah penyampaian pidato itu sendiri. Naskah menceritakannya demikian: di tengah khutbah, seorang laki-laki dari kalangan ahl al-sawad (penduduk wilayah subur Irak) tiba-tiba maju dan menyerahkan sepucuk surat kepada Ali. Beliau pun berhenti berbicara untuk membacanya.
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, yang hadir saat itu, merasa sangat menyayangkan interupsi tersebut. Ia berkata kepada Ali: "Wahai Amirul Mukminin, alangkah baiknya bila engkau melanjutkan khutbahmu dari titik terakhir engkau berhenti." Ali menjawab singkat namun sarat makna:
«تِلْكَ شِقْشِقَةٌ هَدَرَتْ ثُمَّ قَرَّتْ»
"Itu tadi hanyalah syiqsyiqah yang menggelegak, lalu mereda."
Di sinilah kunci penamaannya. Menurut catatan kaki naskah, kata syiqsyiqah (شقشقة) dalam bahasa Arab merujuk pada semacam kantung/selaput yang keluar dari mulut unta jantan ketika sedang mengamuk atau birahi — organ yang menggembung dan bergemuruh sesaat, lalu mengempis kembali. Dengan metafora ini, Ali seolah menggambarkan luapan kalimat yang baru saja ia sampaikan sebagai sesuatu yang meletup spontan karena desakan perasaan, bukan sebuah manifesto atau tuntutan politik yang ia rencanakan untuk terus diperjuangkan.
Ibnu Abbas sendiri kemudian mengenang momen itu dengan penyesalan mendalam. Naskah mencatat ucapannya: "Demi Allah, tidak ada satu pun perkataan yang paling aku sesali selain perkataan ini — bahwa Amirul Mukminin 'alaihissalam tidak sempat menuntaskan apa yang sebenarnya hendak beliau sampaikan."
Garis Besar Isi Khutbah
Tanpa mereproduksi seluruh teksnya secara verbatim, berikut alur utama yang termuat dalam khutbah ini menurut naskah:
- Metafora "poros penggilingan" (qutb al-rahā): Ali membuka pidatonya dengan menggambarkan posisinya dalam urusan kekhalifahan bagaikan poros pada batu penggilingan — pusat yang darinya segala sesuatu bergantung, namun ia memilih menahan diri ("melepas jubah" darinya) alih-alih merebutnya secara paksa.
- Keluhan atas periode kesabaran panjang: beliau menggambarkan masa-masa tersebut dengan ungkapan puitis tentang mata yang perih dan tenggorokan yang tercekik, namun tetap memilih bersabar.
- Kutipan syair al-A'sya: untuk menegaskan kontras antara masa sulit dan masa mudah, Ali mengutip satu bait syair penyair Jahiliyah al-A'sya tentang perbedaan nasib.
- Periode dewan syura (musyawarah) pasca-wafatnya Umar: khutbah ini menyinggung dinamika enam anggota dewan syura — termasuk Utsman, Zubair, Thalhah, dan Abdurrahman bin Auf — dan bagaimana Ali merasa posisinya kembali terpinggirkan.
- Penutup dengan ayat Al-Qur'an: khutbah diakhiri dengan kutipan Surat Al-Qashash ayat 83, tentang negeri akhirat yang diperuntukkan bagi mereka yang tidak menghendaki ketinggian atau kerusakan di muka bumi.
Kontroversi: Mengapa Sebagian Ulama Meragukannya
Naskah ini sendiri, secara jujur, mencatat bahwa khutbah ini banyak diingkari keotentikannya. Alasan utamanya karena kandungannya memuat kritik terhadap kepemimpinan tiga khalifah sebelumnya (Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu 'anhum) — sesuatu yang menurut sebagian ulama tidak sepatutnya keluar dari sosok Ali yang dikenal luas karena keluhuran akhlak, kelapangan dada, dan kedermawanannya. Posisi ini konsisten dengan pola argumen yang sudah kita bahas pada artikel sebelumnya soal keaslian Nahjul Balaghah secara umum: keraguan bukan berasal dari kebencian terhadap sosok Ali, melainkan justru dari keyakinan bahwa nada tajam semacam ini tidak mencerminkan karakter mulia beliau yang telah dikenal luas.
Sebaliknya, kalangan yang menerima keotentikan khutbah ini memandangnya sebagai ekspresi kekecewaan politik yang wajar dan manusiawi — sebuah luapan emosi sesaat sebagaimana makna harfiah dari kata "syiqsyiqah" itu sendiri, bukan sikap permanen atau tuntutan yang terus-menerus diperjuangkan Ali sepanjang hidupnya. Faktanya, sejarah mencatat Ali tetap mendukung dan menjadi penasihat penting bagi ketiga khalifah tersebut selama masa kepemimpinan mereka.
Penutup
Terlepas dari perdebatan keotentikannya, kisah asal-usul nama "Syiqsyiqiyyah" mengajarkan sesuatu yang berharga: bahwa memahami sebuah teks klasik tidak cukup hanya dengan membaca isinya, tetapi juga konteks penyampaiannya — termasuk bagaimana Ali sendiri, menurut naskah, memaknai ucapannya sendiri sebagai luapan sesaat yang telah "mereda", bukan pernyataan sikap yang ia pertahankan seumur hidup.
Suka dengan kajian ini? Bagikan kepada kerabat Anda yang tertarik pada kajian sastra dan sejarah Islam.
Referensi
- ʿAlī bin Abī Ṭālib. Dīwān al-Imām ʿAlī. Tahqiq: Dr. Muḥammad ʿAbdul Munʿim Khafājī. Kairo: Dār Ibn Zaidūn & Maktabah al-Kulliyāt al-Azhariyyah, hlm. 11, 13–15.
Disclaimer Akademik & Redaksional: Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan kajian bahasa/sastra Arab-Islam berdasarkan naskah cetak yang disebutkan pada bagian Referensi. Kandungan khutbah dipaparkan secara ringkas (bukan terjemahan penuh kata-per-kata) untuk menjaga keringkasan dan orisinalitas tulisan. Topik ini menyentuh perbedaan pandangan Sunni-Syiah yang sensitif dan telah diperdebatkan selama berabad-abad; redaksi menyajikannya secara berimbang berdasarkan apa yang tercantum dalam naskah, tanpa bermaksud memihak salah satu pandangan teologis-politis tertentu. Pembaca yang memerlukan rujukan untuk keperluan akademik formal disarankan merujuk langsung pada naskah asli, kitab Nahjul Balaghah bersyarah, atau kitab-kitab turats yang bersanad.
