NEW UPDATES
Memuat berita terbaru...
📢 BROADCAST

Jarang Diketahui! Inilah 40 Wali Allah yang Disebut Nabi sebagai Al-Abdal

Oleh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat


Pendahuluan

Di kalangan umat Islam, terutama dalam tradisi tasawuf dan akidah Ahlus Sunnah, dikenal istilah al-Abdāl (الأبدال). Secara bahasa berarti “para pengganti”, karena setiap kali seorang di antara mereka wafat, Allah menggantikannya dengan yang lain. Naskah klasik yang menjadi rujukan utama artikel ini mengumpulkan puluhan riwayat, baik dari Nabi ﷺ maupun dari para sahabat, yang menegaskan keberadaan golongan khusus ini. Mereka tidak dikenal secara terang-terangan, namun dengan izin Allah mereka menjadi sebab turunnya hujan, tertolaknya bencana, dan kemenangan atas musuh.

Pengertian al-Abdāl

Naskah menyebutkan: “al-Abdāl adalah segolongan para wali (طائفة من الأولياء)”. Dinamakan abdāl karena Allah mengganti (mengabdalkan) seseorang yang lain ketika salah seorang dari mereka meninggal. Mereka tidak mencapai kedudukan itu dengan banyak shalat atau puasa semata, tetapi dengan kedermawanan, nasihat yang tulus kepada kaum muslimin, dan hati yang bersih. Sebagaimana dalam al-‘Aqīdah al-Wāsiṭiyyah dinyatakan: “Di antara para abdāl terdapat para imam agama yang umat Islam sepakat atas petunjuk mereka, dan mereka adalah golongan yang ditolong.”

Hadits dari ‘Ali bin Abi Thālib

Imam Ahmad bin Hanbal dalam musnadnya meriwayatkan dari Syuraih bin ‘Ubaid, ia berkata: “Disebutkan penduduk Syam di sisi ‘Ali bin Abi Thālib – saat beliau di Irak – lalu mereka berkata: ‘Laknatlah mereka wahai Amirul Mukminin!’ ‘Ali menjawab: ‘Tidak. Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:’”

«الْأَبْدَالُ بِالشَّامِ، وَهُمْ أَرْبَعُونَ رَجُلًا، كُلَّمَا مَاتَ رَجُلٌ أَبْدَلَ اللهُ مَكَانَهُ رَجُلًا، يُسْقَى بِهِمُ الْغَيْثُ، وَيُنْتَصَرُ بِهِمْ عَلَى الْأَعْدَاءِ، وَيُصْرَفُ عَنْ أَهْلِ الشَّامِ بِهِمُ الْعَذَابُ»

Transliterasi: “al-abdālu bisy-syāmi, wa hum arba‘ūna rajulan, kullamā māta rajulun abdalaLlāhu makānahu rajulan, yusqā bihimul-ghaitsu, wa yuntaṣaru bihim ‘alal-a‘dā’i, wa yuṣrafu ‘an ahli sy-syāmi bihimul-‘adzāb.”

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibn ‘Asākir dalam Tārīkh Dimasyq dengan redaksi yang mendekati. Para perawi hadits ini adalah rijāl aṣ-ṣaḥīḥ kecuali Syuraih bin ‘Ubaid yang tetap dinilai tsiqah (terpercaya) oleh banyak ulama.

Riwayat dari ‘Umar bin al-Khaththāb

Dalam Tārīkh Dimasyq disebutkan bahwa ketika ‘Umar radhiyallāhu ‘anhu mengirim pasukan ke Syam dan Irak, beliau sering berkata: “Yā laita syi‘rī ‘an al-abdāl, hal marrat bihim ar-rikāb?” (Andai aku tahu tentang para abdāl, apakah kendaraan-kendaraan pernah melewati mereka?). Ungkapan ini menunjukkan bahwa ‘Umar mengenal istilah abdāl dan menanyakan keberadaan mereka di tengah kaum muslimin.

Hadits dari Anas bin Mālik

Al-Hakim at-Tirmidzi dalam Nawādir al-Ushūl dan al-Khallāl dalam Karāmāt al-Auliyā’ meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda:

«الْأَبْدَالُ أَرْبَعُونَ رَجُلًا، كُلَّمَا مَاتَ رَجُلٌ أَبْدَلَ اللهُ مَكَانَهُ رَجُلًا»

Transliterasi: “al-abdālu arba‘ūna rajulan, kullamā māta rajulun abdalaLlāhu makānahu rajulan.”

Dalam riwayat lain melalui Yazid ar-Riqāsyī, Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya penopang umatku adalah ‘ashā’ib (kelompok-kelompok) Yaman, dan al-abdāl dari Syam, mereka empat puluh orang. Setiap kali seorang wafat Allah menggantikannya dengan yang lain. Mereka bukan orang yang pura-pura mati (mutamāwitīn) dan bukan pula orang yang hancur dalam kemaksiatan.”

Hadits dari Hudzaifah bin al-Yamān dan ‘Ubādah bin aṣ-Ṣāmit

Dari Hudzaifah, diriwayatkan oleh al-Hakim at-Tirmidzi bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Al-abdāl berada di Syam, jumlah mereka tiga puluh orang di atas manhaj Ibrāhīm. Setiap kali seorang meninggal Allah menggantikannya dengan yang lain.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ubādah bin aṣ-Ṣāmit secara marfū’: “Al-Abdāl dalam umat ini tiga puluh orang seperti Ibrāhīm Khalīl ar-Raḥmān.” Sanad hadits ini dinilai hasan oleh as-Suyūṭi, dan para perawinya adalah rijāl aṣ-ṣaḥīh.

Hadits dari Ibnu Mas’ūd

Dalam Mu‘jam al-Kabīr ath-Ṭabarānī, Ibnu Mas’ūd radhiyallāhu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

«لَا يَزَالُ أَرْبَعُونَ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي قُلُوبُهُمْ عَلَى قَلْبِ إِبْرَاهِيمَ، يُدْفَعُ اللهُ بِهِمْ عَنْ أَهْلِ الْأَرْضِ، يُقَالُ لَهُمُ: الْأَبْدَالُ، إِنَّهُمْ لَمْ يُدْرِكُوهَا بِصَلَاةٍ وَلَا بِصَوْمٍ وَلَا بِصَدَقَةٍ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ فَبِمَ أَدْرَكُوهَا؟ قَالَ: بِالسَّخَاءِ وَالنَّصِيحَةِ لِلْمُسْلِمِينَ»

Transliterasi: “lā yazālu arba‘ūna rajulan min ummatī qulūbuhum ‘alā qalbi Ibrāhīma, yadfa‘uLlāhu bihim ‘an ahli al-ardi, yuqālu lahum: al-abdālu, innahum lam yudrikūhā biṣalātin wa lā biṣawmin wa lā biṣadaqah...”

Ciri-ciri al-Abdāl (Berdasarkan Atsar Salaf)

Dalam naskah disebutkan beberapa karakteristik mereka:

  • Mereka tidak lebih utama karena banyak puasa atau shalat, tetapi karena akhlak mulia, wara’ yang tulus, niat yang baik, dan selamatnya hati terhadap semua muslim.
  • Mereka tidak mencintai dunia, tidak marah karena urusan pribadi, tidak mengutuk siapa pun, dan tidak menyakiti orang lain.
  • Dalam riwayat mursal dari al-Ḥasan al-Baṣrī, Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya abdāl umatku tidak masuk surga karena banyak shalat dan puasa mereka, tetapi karena selamatnya hati dan kedermawanan jiwa.”

Lokasi dan Jumlah Abdāl

Berdasarkan hadits-hadits yang terkumpul dalam naskah, al-abdāl bertempat di wilayah Syam (Levant) sebagai pusat utama. Beberapa riwayat menyebutkan tambahan di Irak, Mesir, Yaman, dan negeri-negeri lain. Mengenai jumlah, terdapat beberapa redaksi: empat puluh (paling masyhur), tiga puluh, dan ada pula yang menyebut enam puluh atau tujuh puluh. Perbedaan ini dapat dikompromikan sebagai tingkatan atau kelompok yang berbeda. Yang jelas, keberadaan mereka tidak terbatas pada satu tempat saja, dan perpindahan mereka terjadi dengan izin Allah.

Perkataan Imam Ahmad bin Hanbal

Naskah menukil sebuah pernyataan penting (halaman 74): “Imam Ahmad ditanya: ‘Apakah di bumi ada abdāl?’ Beliau menjawab: ‘Ya.’ Ditanya lagi: ‘Siapa mereka?’ Imam Ahmad berkata: ‘Jika bukan aṣḥāb al-ḥadīts (para ahli hadits) yang menjadi abdāl, maka aku tidak mengetahui abdāl lain di sisi Allah.’”

Penutup

Berdasarkan himpunan hadits dan atsar dalam naskah “الخبر الدال على وجود القطب والأوتاد والنجباء والأبدال”, terbukti bahwa konsep al-abdāl bukan cerita tanpa dasar. Para sahabat seperti ‘Umar dan ‘Ali menanyakannya, dan Nabi ﷺ sendiri mengabarkan keberadaan mereka dengan fungsi yang jelas: menurunkan hujan, menolak bala’, serta memberikan kemenangan bagi kaum muslimin. Mereka adalah golongan khusus dari kalangan umat ini yang tidak dikenal oleh banyak orang, dan keistimewaan mereka bukan karena amalan lahiriah yang tampak semata, melainkan karena kedermawanan, nasihat tulus, akhlak mulia, dan kesucian hati. Wallāhu a’lam.


Referensi: Naskah “الخبر الدال على وجود القطب والأوتاد والنجباء والأبدال”

Fokus: Hadits dari ‘Ali, ‘Umar, Anas, Hudzaifah, ‘Ubādah, Ibnu Mas‘ūd, dan perkataan Imam Ahmad bin Hanbal.

Nama ulama dan periwayat yang disebut dalam naskah untuk artikel ini:

  • Imam Ahmad bin Hanbal (periwayat hadits dalam Musnad-nya)
  • Abū Ṭāhir al-Mukhliṣ
  • Ahmad bin ‘Abdillah bin Sa‘īd
  • as-Sarī bin Yaḥyā
  • Syua‘ib bin Ibrāhīm
  • Saif bin ‘Umar
  • Abū ‘Umar
  • Zaid bin Aslam
  • Abū al-Mughīrah
  • Ṣafwān bin ‘Amr
  • Syuraih bin ‘Ubaid al-Ḥaḍramī
  • Ibnu ‘Asākir (dalam Tārīkh Dimasyq)
  • Al-Ḥakīm at-Tirmidzī (dalam Nawādir al-Uṣūl)
  • Al-Khallāl (Abū Muḥammad al-Khallāl dalam Karāmāt al-Auliyā’)
  • Ibnu Abī ad-Dunyā (dalam Kitāb al-Auliyā’)
  • Al-Haytsam bin Khārijah
  • ‘Abdullāh bin ‘Utsman aṣ-Ṣaffār
  • Ath-Ṭabarānī (dalam al-Mu‘jam al-Kabīr)
  • Al-A‘masy, Zaid bin Wahb, dan lain-lain.

Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan naskah tersebut sebagai sumber utama. Untuk kajian akademik lebih mendalam, silakan merujuk langsung kepada kitab asli dan sanad-sanad yang tercantum di dalamnya.

Reaksi Anda
Lebih baru Lebih lama