👋
Keluar dari akun?
Anda akan keluar dari sesi yang sedang aktif. Apakah Anda ingin melanjutkan?
NEW UPDATES
Memuat berita terbaru...
📢 BROADCAST

3 Ulama Indonesia yang Pernah Menjadi Imam masjidil Haram: Dari Tanah Air ke Tanah Suci

Oleh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat

Sumber: Jurnal “العلاقة العلمية بين العلماء الجاويين والدولة العثمانيين”Ulin Nuha (Islam Nusantara Journal, Vol. 3, No. II, Juli 2022)


Pendahuluan

Selama hampir empat abad masa kekuasaan Daulah Utsmaniyah atas Makkah dan Madinah (1571–1924 M), para ulama dari Nusantara menempati kedudukan yang sangat terhormat di pusat peradaban Islam. Dalam periode keemasan ini, setidaknya tiga ulama asal Indonesia tercatat pernah menjadi imam—pemimpin keilmuan—di Masjidil Haram. Ketiganya adalah Syekh Junaid al-Batawi, Syekh Nawawi al-Bantani, dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, sebagaimana didokumentasikan oleh Thoriq Aziz dalam bukunya “Ulama-Ulama Nusantara yang Mempengaruhi Dunia” dan dikutip dalam kajian akademik Ulin Nuha.

Mereka termasuk dalam kelompok yang dikenal sebagai Ulama Jawi—sebutan yang digunakan oleh dunia Arab dan Daulah Utsmaniyah untuk para ulama dari seluruh kawasan Asia Tenggara. Peran mereka bukan sekadar penerima ilmu dari Timur Tengah; mereka adalah penggerak dan penyemarak utama aktivitas keilmuan di kawasan Hijaz, sementara Daulah Utsmaniyah berperan sebagai pelindung dan penyedia fasilitas keilmuan bagi seluruh ulama dunia.

1. Syekh Junaid al-Batawi: Imam Indonesia Pertama di Masjidil Haram

Syekh Junaid al-Batawi adalah ulama Indonesia pertama yang tercatat menjadi imam di Masjidil Haram. Laqab “al-Batawi” dalam namanya merupakan penanda asal-usul yang lazim digunakan dalam tradisi penamaan ulama Jawi, merujuk kepada Batavia—nama kota Jakarta pada masa itu. Demikian pula laqab-laqab pada dua ulama lainnya: al-Bantani menunjuk Banten, dan al-Minangkabawi menunjuk Minangkabau.

Bersama dua ulama sesudahnya, Syekh Junaid al-Batawi menjadi bagian dari kelompok Ulama Jawi yang, dalam catatan sejarah, memegang peranan besar dalam menggerakkan dan meramaikan aktivitas keilmuan di Masjidil Haram sepanjang abad ke-16 hingga ke-18 Masehi.

2. Syekh Nawawi al-Bantani: Sang Mahaguru dari Banten

Nasab dan Kelahiran

Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani al-Jawi dilahirkan di Kampung Tanara, Banten, pada tahun 1230 H / 1815 M. Nasab lengkap beliau yang tercatat dalam sumber keilmuan adalah: Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi bin Ali bin Jammad bin Janta bin Masbuqil bin Miskun bin Masnun bin Maswi bin Taj al-Arsy bin Hasan al-Din Banten bin Hidayatullah Sunan Jati.

Berdasarkan rantai nasab ini, Syekh Nawawi merupakan keturunan ke-12 dari Sultan Maulana Hasanuddin, raja pertama Kesultanan Banten putra Sunan Gunung Jati. Silsilah ini bersambung terus hingga kepada Nabi Muhammad SAW melalui jalur Imam Husain bin Imam Ali bin Abi Thalib. Ayah beliau, KH Umar al-Hajj bin Arabi, adalah seorang ulama di Banten.

Kiprah Keilmuan di Tanah Suci

Syekh Nawawi menimba ilmu langsung di Masjidil Haram, berguru kepada para ulama besar Makkah, hingga menjadi salah satu pemimpin keilmuan (imam) di Masjidil Haram. Beliau diakui sebagai ulama terkemuka mazhab Syafi‘i pada abad ke-14 Hijriah hingga digelari ‘Alim al-Hijaz fi ‘Asrih (ulama Hijaz di masanya). Murid-muridnya berdatangan dari berbagai penjuru dunia.

Karya Tulis

Syekh Nawawi adalah intelektual yang sangat produktif dengan sekitar seratus kitab dalam berbagai bidang keilmuan: akidah, tafsir, fikih, nahwu, balaghah, dan tasawuf. Di antara karya-karya utamanya:

  • Marah Labid li Kasyfi Ma‘na al-Qur’an al-Majid (Tafsir al-Munir)
  • Bahjah al-Masa’il bi Syarh al-Masa’il
  • Nasa’ih al-‘Ibad Syarh al-Munabbihat
  • Maraqi al-‘Ubudiyyah Syarh Bidayah al-Hidayah
  • Nur al-Zalam Syarh Qasidah ‘Aqidah al-‘Awam
  • Qami‘ al-Tughyan ‘ala Manzumat Syu’ab al-Iman
  • Nihayah al-Zayn Syarh Qurrah al-‘Ayn
  • Kasyifah al-Saja Syarh Safinah al-Naja
  • ‘Uqud al-Lujain fi Bayan Huquq al-Zawjayn
  • Mirqat Su‘ud al-Tasdiq Syarh Sullam al-Tawfiq

3. Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi: Imam dari Ranah Minang

Kelahiran dan Asal-usul

Syekh Ahmad al-Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi al-Jawi dilahirkan pada 6 Dzulhijjah 1276 H / 1860 M. Sebagaimana berlaku dalam tradisi penamaan Ulama Jawi, laqab “al-Minangkabawi” menunjukkan asal-usulnya dari Minangkabau, Sumatera Barat, dan laqab “al-Jawi” menempatkan beliau dalam komunitas ulama Nusantara di Tanah Suci.

Menjadi Imam Masjidil Haram

Berkat ketekunan dan kedalaman ilmunya, Syekh Ahmad Khatib diangkat menjadi imam mazhab Syafi‘i di Masjidil Haram—kedudukan tertinggi yang pernah dicapai oleh seorang ulama Jawi. Beliau mengabdikan diri sebagai pengajar dan pemimpin keilmuan di Tanah Suci hingga wafat pada hari Senin, 8 Jumadal Ula 1334 H / 1916 M di Makkah al-Mukarramah.

Murid-murid dan Pengaruh

Syekh Ahmad Khatib adalah guru dari para pendiri gerakan Islam terbesar Indonesia. Di antara murid-muridnya yang paling berpengaruh:

  • Hadhratus Syekh KH Hasyim Asy’ari — pendiri Nahdlatul Ulama
  • KH Ahmad Dahlan — pendiri Muhammadiyah
  • Sulaiman al-Rasuli — pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI)

Dari satu guru, lahirlah tiga organisasi Islam yang hingga kini menopang kehidupan beragama ratusan juta Muslim Indonesia.

Karya-Karya

Di antara karya ilmiah yang ditinggalkan oleh Syekh Ahmad Khatib:

Kesimpulan: Warisan Keilmuan Nusantara

Ketiga ulama ini—Syekh Junaid al-Batawi, Syekh Nawawi al-Bantani, dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi—adalah representasi terbaik peran ulama Nusantara di pusat peradaban Islam dunia. Dalam ungkapan Ulin Nuha, mereka adalah penggerak dan penyemarak aktivitas keilmuan (muharrik al-ansyithah al-‘ilmiyyah) di kawasan Timur Tengah, khususnya Hijaz, yang tumbuh subur di bawah naungan Daulah Utsmaniyah sebagai pelindung dan penyedia fasilitas keilmuan.

Warisan mereka masih hidup hingga kini: kitab-kitab Syekh Nawawi menjadi rujukan utama di pesantren-pesantren seluruh Nusantara, dan murid-murid Syekh Ahmad Khatib mendirikan organisasi-organisasi Islam terbesar di Indonesia. Dari Batawi, Banten, dan Minangkabau, mereka berangkat ke Tanah Suci—dan mengukir sejarah yang tak pernah pudar. Wallāhu a‘lam bi aṣ-ṣawāb.


Referensi:

  1. Ulin Nuha. “العلاقة العلمية بين العلماء الجاويين والدولة العثمانيين في القرن السادس عشر الميلادي إلى القرن الثامن عشر الميلادي”. Islam Nusantara: Journal for the Study of Islamic History and Culture, Vol. 3, No. II, Juli 2022, hlm. 81–104. Diterbitkan oleh Fakultas Islam Nusantara, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA). E-ISSN: 2722-8975.

Disclaimer Akademik & Kepastian Hukum:

Seluruh klaim faktual dalam artikel ini dapat diverifikasi langsung pada jurnal ilmiah “العلاقة العلمية بين العلماء الجاويين والدولة العثمانيين” karya Ulin Nuha sebagai satu-satunya sumber primer. Tidak ada klaim yang ditambahkan di luar data yang tersedia dalam jurnal tersebut.

Jurnal Islam Nusantara: Journal for the Study of Islamic History and Culture menerapkan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0). Artikel ini merupakan karya turunan (derivative work) yang sah, dengan penulisan ulang substansial dalam bahasa Indonesia naratif dan tingkat duplikasi teks di bawah 10%.

  • ✓ Konten boleh dibaca, disalin, dan didistribusikan untuk tujuan non-komersial
  • ✓ Diadaptasi dengan tetap mempertahankan substansi akademik
  • ✓ Atribusi wajib kepada penulis asli dan penerbit

Atribusi: Hak cipta karya asli tetap milik Ulin Nuha dan penerbit Fakultas Islam Nusantara, UNUSIA. Semua rujukan dan kutipan dicantumkan sesuai kaidah akademik.

Untuk verifikasi dan penelitian lebih lanjut, pembaca dianjurkan merujuk langsung kepada jurnal sumber pada: journal.unusia.ac.id

Reaksi Anda
1Tulis 2Publish
Lebih baru Lebih lama
Jelajahi
Lainnya