Oleh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat
Fabel Asal-Usul yang Tersembunyi di Naskah Kuno Sulawesi Utara
Pernahkah Anda memperhatikan burung yang berjalan terpincang-pincang dan bertanya-tanya, kenapa bisa begitu? Di tanah Bolaang Mongondow, pertanyaan itu sudah dijawab sejak generasi nenek moyang lewat sebuah fabel pendek namun tajam maknanya — kisah tentang bantong (anoa) dan seekor burung kecil bernama singki-singki'.
Menariknya, naskah tua yang dihimpun W. Dunnebier ini menyimpan dua versi cerita tentang mereka berdua — dan keduanya sama-sama berakhir dengan pelajaran yang tak lekang oleh waktu.
Bagian Pertama: Tantangan di Bawah Akar Papan Pohon Daoe'
Suatu hari, bantong dan singki-singki' bertemu di dekat akar papan (bilid) sebuah pohon daoe' yang besar dan kokoh. Singki-singki' mengajak bantong untuk menendang akar papan itu, siapa yang tendangannya paling kuat hingga membuatnya berlubang.
Bantong nyaris tak percaya dengan ajakan itu. Ia menyahut dengan nada meremehkan:
"Makhluk sekecil ini berani menantang yang jauh lebih besar untuk menendang akar papan?!"
Singki-singki' tak gentar. Dengan suara mantap ia menjawab:
"Meski kau lebih besar, lebih tinggi, dan lebih kekar, biarkan kita coba dulu. Seperti kata orang tua dulu: mencoba itulah yang menentukan siapa yang sebenarnya lebih unggul."
Siasat Licik di Balik Akar yang Sudah Retak
Bantong pun menyetujui tantangan itu — tanpa tahu bahwa singki-singki' diam-diam sudah menyumbat sebuah lubang kecil yang memang sudah retak di akar papan itu dengan dedaunan, membuatnya tampak utuh seperti bagian lain.
Giliran pertama diberikan kepada bantong. Dua kali ia menendang sekuat tenaga — suaranya menggelegar seperti hantaman palu besar — namun akar papan itu tetap utuh, tak retak sedikit pun.
Giliran singki-singki'. Ia menendang bagian yang sudah disumbatnya sendiri, dan seketika itu juga bagian itu pecah terbuka — persis seperti yang telah ia rencanakan sejak awal.
Amarah yang Melahirkan Sebuah Nasib
Melihat dirinya kalah oleh makhluk yang jauh lebih kecil, hati bantong dipenuhi amarah. Tanpa berpikir panjang, ia menginjak kaki singki-singki' hingga patah. Sejak saat itulah, menurut naskah ini, burung singki-singki' hanya bisa berjalan terpincang-pincang — hingga hari ini.
Naskah asli menutup kisah ini dengan sebuah pepatah tegas: "Orang kecil, jangan mencoba menyamakan diri dengan yang besar." Sebuah peringatan lama tentang bahaya kesombongan yang membalas kekalahan dengan kekerasan.
Bagian Kedua: Ambisi yang Berujung Maut
Ada satu kisah lagi tentang pasangan ini dalam naskah yang sama — kali ini dengan akhir yang jauh lebih tragis.
Suatu hari, bantong yang sedang mencari makan bertemu lagi dengan singki-singki'. Melihat cara jalannya yang pincang, bantong kembali mengejek:
"Cara jalanmu ini memang hanya bisa pincang saja!"
Singki-singki' menjawab tenang, mengajak lomba tendang akar papan sekali lagi. Bantong pun menyetujuinya tanpa curiga. Diam-diam, singki-singki' kembali menyumbat lubang lama pada akar papan dengan dedaunan sebelum pertandingan dimulai.
Mereka berdua menendang bersamaan. Tak lama, bantong berhenti dan bertanya, "Punyamu sudah berlubang?" Singki-singki' menjawab singkat, "Sudah!" Ia balik bertanya, "Punyamu sudah berlubang?" Bantong menjawab, "Belum!"
Didorong gengsi yang membakar, bantong terus menendang sekuat mungkin, tanpa henti, tanpa jeda — hingga akhirnya tubuhnya sendiri yang hancur oleh tenaganya sendiri. Bantong itu pun tewas di tempat, hanya karena tak sanggup menerima kekalahan dari makhluk yang ia anggap jauh lebih rendah.
Dua Cerita, Satu Pelajaran tentang Gengsi
Menariknya, dua versi cerita ini seolah saling melengkapi dari dua sisi berlawanan. Bagian pertama mengingatkan yang kecil agar tak memaksakan diri menyamai yang besar. Bagian kedua justru sebaliknya — memperlihatkan bagaimana yang besar bisa binasa oleh gengsinya sendiri saat menolak mengakui kekalahan dari yang dianggap remeh.
Di balik kesederhanaan sebuah fabel binatang, masyarakat Bolaang Mongondow lama rupanya telah mewariskan pemahaman yang dalam: kesombongan, dari sisi mana pun ia datang, selalu punya harga yang harus dibayar.
Suka dengan kisah purba ini? Bagikan artikel ini kepada teman-teman Anda yang mencintai cerita rakyat Nusantara, atau tinggalkan like agar kami semangat menggali lebih banyak naskah kuno yang tersembunyi.
Referensi: Dunnebier, W. Bolaang Mongondowse Teksten, cerita No. 8 "Bantong bo Singki-Singki'" / "Antilope en Singki-Singki'-Vogel". 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1953. Diterbitkan di bawah naungan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV).
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan sumber primer yang disebutkan dalam referensi di atas. Seluruh alur cerita, nama tokoh (anoa/bantong dan burung/singki-singki'), serta detail peristiwa — termasuk kedua versi kisah yang tercatat berurutan dalam naskah — bersumber langsung dari teks asli dan terjemahan Belanda pada halaman yang dirujuk. Penulis menyajikan ulang cerita dalam gaya bahasa naratif yang lebih hidup agar mudah dinikmati pembaca modern, tanpa menambahkan tokoh, kejadian, maupun pesan moral eksplisit di luar apa yang tertera dalam sumber.



