Oleh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat
Fabel Paling Gelap dari Rangkaian Kisah Bantong
Jika sebagian besar fabel bantong (anoa) sebelumnya berkisah tentang lomba lari yang berakhir kekalahan, kali ini ceritanya berbeda total. Naskah kuno Bolaang Mongondow ini merekam sebuah kisah yang jauh lebih kelam — tentang tanduk yang terjebak, kepercayaan yang dikhianati, dan balas dendam yang telah lama terpendam dari seekor dongitan, babi hutan jantan.
Ki Bantong bo Ki Dongitan: Pertemuan di Bawah Pohon Raksasa
Alkisah, bantong dan dongitan berjalan bersama memasuki hutan. Perjalanan mereka membawa keduanya ke sebuah pohon besar dengan bilid — akar papan lebar yang menjulang seperti dinding kayu di sekeliling batangnya.
Melihat permukaan akar papan yang rata dan kokoh itu, dongitan bergumam kagum:
"Sungguh bagus akar papan ini. Sepertinya cocok untuk mengasah taring di sini."
Ejekan yang Memicu Tantangan Berbahaya
Bantong, yang selalu merasa dirinya paling perkasa di antara penghuni hutan, langsung menyahut dengan nada meremehkan:
"Kau bicara begitu, padahal kau bahkan tak punya tanduk! Kalau kau seyakin itu, mari kita adu siapa yang paling kuat di sini."
Dongitan tidak membalas dengan amarah. Ia hanya menjawab tenang, mempersilakan bantong mengambil giliran pertama:
"Baiklah! Tapi kalau boleh, lebih baik kau saja yang mencoba lebih dulu."
Tanduk yang Tertancap Terlalu Dalam
Tanpa curiga sedikit pun, bantong pun menyeruduk akar papan itu sekuat tenaga dengan tanduknya. Hantaman demi hantaman ia lancarkan — hingga tanpa disadari, tanduknya menembus terlalu dalam dan tersangkut kuat di dalam kayu, tak bisa ditarik keluar lagi.
Panik, bantong berteriak meminta pertolongan:
"Tolong aku, dongitan! Bantu dorong keluar tandukku dari sini!"
Dongitan menjawab singkat, "Baik!" — dan bergegas menuju sisi lain dari akar papan itu.
Pengkhianatan yang Telah Lama Direncanakan
Namun alih-alih menolong, dongitan justru mengambil sebatang pasak dari kayu yang sangat keras. Ia memakukan pasak itu tepat di sekeliling tanduk bantong yang sudah tertancap — bukan untuk membebaskannya, melainkan untuk mengunci tanduk itu selamanya di tempatnya.
Bantong menjerit kesakitan, "Aduh, tolong aku, tolong aku!" Namun dongitan hanya menjawab dingin, tanpa sedikit pun rasa iba:
"Rasakan sendiri! Sebab kau memang sangat jahat, selalu saja ingin membunuh kami. Rasakan! Rasakan!"
Ketika Dendam Lama Akhirnya Terbalaskan
Naskah asli menutup kisah ini tepat di titik itu — tanpa penjelasan lebih jauh tentang nasib bantong setelahnya. Namun satu hal jelas tersirat dari kalimat penutup dongitan: pengkhianatan ini bukan kejadian mendadak, melainkan balasan atas rasa sakit dan ketakutan yang sudah lama dipendam oleh dongitan dan sesamanya akibat sikap bantong yang gemar merendahkan dan mengancam yang lain.
Fabel ini menjadi pengingat yang tajam: kesombongan yang dibiarkan terus-menerus, cepat atau lambat, akan bertemu dengan momen di mana korban-korbannya berbalik — dan kali ini, balasan itu datang tepat melalui kelemahan yang paling bantong banggakan: tanduknya sendiri.
Suka dengan kisah purba ini? Bagikan artikel ini kepada teman-teman Anda yang mencintai cerita rakyat Nusantara, atau tinggalkan like agar kami semangat menggali lebih banyak naskah kuno yang tersembunyi.
Referensi: Dunnebier, W. Bolaang Mongondowse Teksten, cerita No. 9 "Ki Bantong bo Ki Dongitan" / "De Antilope en het Mannelijke Bosvarken". 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1953. Diterbitkan di bawah naungan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV).
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan sumber primer yang disebutkan dalam referensi di atas. Seluruh alur cerita, nama tokoh (anoa/bantong dan babi hutan/dongitan), serta detail peristiwa bersumber langsung dari teks asli dan terjemahan Belanda pada halaman yang dirujuk. Penulis menyajikan ulang cerita dalam gaya bahasa naratif yang lebih hidup agar mudah dinikmati pembaca modern, tanpa menambahkan tokoh, kejadian, maupun pesan moral eksplisit di luar apa yang tertera dalam sumber.



