Oleh: Arun Algaus | Tim Pena Sehat
Ketika Makhluk Sekecil Lintah Berani Menantang Sang Pelari Gunung
Di antara deretan fabel purba Bolaang Mongondow, ada satu kisah yang barangkali paling tak terduga. Kali ini bantong (anoa) — hewan yang begitu bangga akan kekuatan kakinya — berhadapan dengan linta', seekor lintah yang tubuhnya bahkan tak sanggup berjalan lurus tanpa melipat diri sendiri.
Bantong bo Linta': Pertemuan yang Berawal dari Basa-basi
Di suatu hari yang sunyi, bantong dan lintah bertemu di tengah hutan. Lintah menyapa lebih dulu dengan nada ramah:
"Wahai saudaraku, dari mana kau datang?"
Bantong menjawab bahwa ia sedang mencari lawan untuk berlomba lari. Tanpa ragu, lintah langsung menawarkan diri: "Kalau begitu, biar aku saja lawannya."
Mendengar itu, bantong hampir tak bisa menahan tawa. Ia memandang tubuh lintah yang lunak dan berkata dengan nada meremehkan:
"Kau yang jalannya saja harus melipat ekor ke kepala seperti mengikat simpul tali, berani-beraninya mengajakku berlomba?"
Lintah tak gentar sedikit pun. Ia hanya menjawab tenang: "Coba saja dulu, baru kita tahu siapa yang lebih cepat." Bantong pun menyetujuinya — bukan karena gentar, tapi karena merasa kemenangan sudah di tangan.
Satu, Dua, Tiga — Lomba Dimulai
Aba-aba pun diucapkan bantong sendiri: "Satu, dua, tiga!" Namun tepat pada detik bantong hendak melesat, lintah dengan cepat menempelkan tubuhnya erat-erat di ekor bantong — tanpa sepengetahuan sang anoa yang sudah keburu berlari kencang.
Dan larilah bantong sekuat yang ia bisa. Setiap kali menabrak rotan tebal di jalurnya, rotan itu langsung tumbang tercerabut. Setiap kali kakinya menghantam tunggul pohon, tunggul itu ikut terjungkal. Ia terus berlari menuruni lereng demi lereng — hingga sepuluh bukit terlewati — sampai akhirnya tenaganya benar-benar habis, dan tubuhnya ambruk kelelahan di tanah.
Siasat Sang Lintah yang Tak Terduga
Saat bantong terkapar kehabisan napas, lintah yang masih menempel di ekornya diam-diam merayap turun, lalu berpindah ke sehelai daun rumput — tepat di sebelah timur, tak jauh dari kepala bantong yang terkulai. Dari sana, dengan suara lantang penuh sandiwara, ia berseru:
"Wahai, ke mana perginya bantong itu? Kenapa ia tak kunjung menyusulku?"
Mendengar suara itu begitu dekat dan begitu percaya diri, bantong yang sudah kehabisan tenaga menyerah total. Dengan napas tersengal ia berkata:
"Wahai lintah, kaulah yang menang. Sebab kakiku ini sudah patah."
Lintah pun pergi dengan hati riang gembira — bukan karena kekuatan, bukan karena kecepatan, tetapi karena kecerdikan sederhana yang tak pernah disangka oleh lawannya yang jauh lebih besar dan lebih perkasa.
Kemenangan yang Tak Mengandalkan Otot
Berbeda dari fabel-fabel sebelumnya di mana bantong berakhir tragis, kali ini ia hanya kalah — tak sampai kehilangan nyawa. Namun kekalahan itu tetap terasa menyengat: seekor makhluk yang bahkan tak bisa berjalan tegak mampu menjatuhkan hewan yang begitu perkasa, hanya dengan menumpang diam-diam di tempat yang paling tak disangka — ekornya sendiri.
Suka dengan kisah purba ini? Bagikan artikel ini kepada teman-teman Anda yang mencintai cerita rakyat Nusantara, atau tinggalkan like agar kami semangat menggali lebih banyak naskah kuno yang tersembunyi.
Referensi: Dunnebier, W. Bolaang Mongondowse Teksten, cerita No. 7 "Bantong bo Linta'" / "Antilope en Bloedzuiger". 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1953. Diterbitkan di bawah naungan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV).
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan sumber primer yang disebutkan dalam referensi di atas. Seluruh alur cerita, nama tokoh (anoa/bantong dan lintah/linta'), serta detail peristiwa bersumber langsung dari teks asli dan terjemahan Belanda pada halaman yang dirujuk. Penulis menyajikan ulang cerita dalam gaya bahasa naratif yang lebih hidup agar mudah dinikmati pembaca modern, tanpa menambahkan tokoh, kejadian, maupun pesan moral eksplisit di luar apa yang tertera dalam sumber.
